Axel Williams

Axel Williams
Bab 41.



Axel semakin dekat, ia langsung mencium lembut bibir Rowena. Tangan kanannya menahan tengkuk leher Rowena dan tangan kirinya setengah memeluk tubuh Rowena. Rowena membulatkan kedua matanya. Ia merasakan napas hangat Axel dan ia juga sampai tidak bisa bernapas karena merasa sesak. Beberapa saat kemudian, Axel mengakhiri ciumannya.


"Bagaimana? kau ingat sesuatu?" tanya Axel lagi.


"Jadi, semalaman kita ..." kata-kata Rowena terputus.


Axel mengangguk, "Ya, semalam kita berciuman panas dengan durasi waktu yang cukup lama. Kau membuatku hampir melakukannya. Apa kau mengerti sekarang?" jelas Axel.


Rowena kembali terkejut, ada rasa malu yang terselip dalam keterkejutannya. Rowena langsung menutup wajahnya dengan dua tangan karena malu.


"Cukup! jangan bicara lagi. Anggaplah itu semua benar, aku tidak mau mendengarnya lagi. Ok," ucap Rowena.


Axel mengusap kepala Rowena, "Maaf, tak seharusnya aku melakukan itu. Aku terbawa susasana dan tergoda. Hanya saja, jangan sampai hal sama terjadi jika kau bersama orang lain." jelasnya.


Rowena diam tidak menjawab, ia merasa sangat malu ketika mengetahui jika dialah orang yang begitu liar menggoda Axel.


"Apa yang kau pikirkan, Rowena. Bisa-bisanya kau menggoda iblis seperti Axel. Untung saja tidak terjadi hal lebih dari berciuman," batin Rowena kesal bercampur malu.


"Sudah, tidak apa-apa. Kau duduk saja dan tunggu di meja makan. Aku yang akan buat sarapan," kata Axel.


Axel pun meninggalkan Rowena, ia melanjutkan masakan Rowena yang masih setengah jadi. Rowena melepas kedua tangannya dari wajahnya. Ia menatap sekilas ke arah Axel yang sedang mengenakan apron. Rowena menuruti kata-kata Axel, ia melepas apron yang dikenakanya dan melipatnya lalu disimpannya kedalam laci. Rowena langsung berjalan pergi meninggalkan Axel di dapur. Ia berjalan menuju meja makan, dan menarik kursi untuk duduk.


***


[Kilas balik]


Sepanjang perjalanan dari Restoran ke rumah, Rowena terus meracau. Entah apa saja yang ia gumamkan. Sampai Axel hanya bisa memijat lembut pangkal hidungnya lalu menggelengkan kepalanya perlahan melihat kelakuan Rowena. Lelah meracau akhirnya ia terlelap tidur. Axel merasa kesal namun tidak bisa meluapkan kekesalannya pada Rowena. Axel hanya bisa menahan rasa kesal dan meredam emosinya.


***


Mereka berdua telah sampai di rumah. Axel berusaha membangunkan Rowena, namun ia tidak kunjung bangun dan membuka mata. Axel tidak punya pilihan, ia hanya bisa masuk dengan membopong Rowena. Axel dengan segera melangkah dari halaman rumahnya untuk masuk ke dalam rumah, menuju kamar tidur Rowena. Sesampainya di kamar tidur, ia membaringkan Rowena di atas tempat tidur.


"Berat sekali," keluh Axel meregangkan bahunya. Ia mengusap bahunya dan tengkuknya, "Badannya terlihat kecil, tetapi dia berisi. Untung saja aku tak melemparnya," imbuh Axel.


Axel mendudukan dirinya di tepi tempat tidur. Dibelainya lembut wajah Rowena perlahan. Tanpa disadari, Axel tersenyum tipis menatap wajah Rowena yang terlelap tidur. Di matanya, Rowena terlihat sangat menggemaskan.


"Jika kau seperti ini, kau seperti anak kucing, Rowena." batin Axel mengembangkan senyuman.


Cukup lama Axel memandangi paras cantik Rowena. Ia sudah merasa lelah, ia pun menarik selimut tinggi sampai setengah muka, agar Rowena tidak kedinginan. Axel akhirnya pergi meninggalkan kamar tidur Rowena, untuk segera kembali ke kamarnya sendiri. Namun, ia ingat akan sesuatu. Sebelumnya, Axel sempat melirik gelas yang ada di nakas, gelas itu kosong. Axel berinisiatif mengambilkan air minum untuk Rowena lebih dulu. Ia merasa kasihan jika nantinya Rowena kehausan dan harus berjalan keluar dari kamar untuk mengambil air minum.


Beberapa menit kemudian, Axel kembali masuk ke dalam kamar Rowena. Ia meletakan gelas berisi minum di nakas. Ia melihat ke arah tempat tidur, Rowena sudah dalam keadaan yang berantakan dengan selimut yang tersingkap dan ternyata Rowena masih mengenakan sepatu di kedua kakinya. Axel melihat ke arah kaki Rowena, dengan mendengus ia membantu melepaskan sepatu yang dikenakan Rowena. Langsung saja melemparkan asal sepatu itu ke sembarang arah.


Axel merasa pengap, ia pun melepaskan jasnya dan melatakan di atas tdmpat tidur. Ia juga melepas dua kancing kemejanya, lalu dua kancing lengan kemejanya dan menggulung lengan kemejanya. Bertujuan agar ia bisa bergerak mudah. Axel kembali menarik selimut yang tersingkap. Ia hendak menyelimuti tubuh Rowena kembali agar hangat. Saat selimut ditarik, Axel dikejutkan oleh Rowena yang tiba-tiba menarik tangannya dan merangkul tangannya erat.


"Apa-apan wanita ini," batin Axel, melepaskan tangan Rowena yang merangkul erat tanganya.


"Lepaskan, Rowena." ucap Axel lirih.


"Temani aku," lirih Rowena dengan mata yang masih terpejam.


"Apa? apa kau sudah hilang akal, huh? untuk apa aku menemanimu?" jawab Axel emosi. Menatap ke arah Rowena yang terlelap tidur.


"Haha ..." tawa kecil Rowena. "Iya, sepetinya aku memang gila. Gila karenamu, Tuanku." lanjutnya bicara melantur.


Rowena membuka mata perlahan, ia justru tersenyum manis menatap Axel. Mendengar jawaban Axel yang mengatainya gila, tak membuat Rowena melepaskan tangan Axel begitu saja. Dekapan itu semakin erat, membuat Axel kesulitan melepaskan dekapan Rowena di tangannya.


Axel mulai sedikit kesal, "Lepaskan tanganku," kata Axel dengan sedikit nada yang meninggi.


Rowena menggeleng, "Tidak. Aku suka tangan besarmu. Ini lebih besar dibandingkan milik Ricardo," jawab Rowena meracau. "Otot lenganmu juga sangat keras. Hm, aku suka ini. Ini nyaman di peluk," katanya masih dalam posisi menutup mata.


"Kau itu mabuk, Rowena. Jadi jangan berulah lagi. Cepat lepaskan tanganku. Aku juga lelah ingin tidur." keluh Axel lagi. Ia masih terus berusaha melepaskan melepaskan tanganya dari pelukan Rowena.


Rowena terdiam, sepertinya ia kembali tertidur. Axel mendekat dan mengubah posisi Rowena dengan bantuan sebelah tangannya yang terbebas. Saat itu Rowena langsung memeluknya. Membuat Axel menindihnya tanpa sengaja. Axel kaget, posisi keduanya begitu dekat.


"Hei," kata Axel berusaha melepaskan pelukan Rowena. "Rowena, bangun. Lepaskan tanganku," kata Axel.


"Wanita ini menjengkelkan sekali. Bagaimana bisa dia seperti ini. Jika bukan aku, pasti ia akan langsung diterkam oleh serigala yang lain. Bisa-bisanya menggila begini," batin Axel sembari terus berusaha melepaskan diri.


"Jangan bergerak. Aku sesak napas," keluh Rowena merasa tidak nyaman. Suaranya sedikit serak, napas Rowena juga berat.


"Maka dari itu, lepaskan aku dulu. Lalu tidurlah dengan tenang setelahnya," jawab Axel. Masih berusaha melepaskan diri.


Rowena menggelengkan kepala, "Tidak mau, aku tidak mau melepaskanmu. Aku mau memelukmu," kata Rowena setengah merengek.


"Rowena, lepaskan tanganmu. Kau sendiri yang mengatakan jika wanita dewasa dan pria dewasa tidak boleh berdekatan dan bersentuhan, bukan? jika kau tidak lepaskan, aku akan dengan senang hati melakukannya," ancam Axel.


Axel hanya bisa melakukan itu, ia berusaha membuat Rowena takut dan melepaskan pelukannya.


Di luar dugaan, Rowena mengembuskan napasnya persis di telinga Axel dan mencium leher Axel. Rowena mengusap tengkuk juga bahu Axel. Hal itu dilakukan Rowena dalam keadaan tidak sadarkan diri. Rowena meninggalkan jejak ciumannya di leher Axel.