
Rowena terkejut, "Hei, kau salah paham. Aku tidak katakan aku tidak menyukaimu. Dari mana kau mendapatkan kata-kata seperti itu? jangan salah paham dan jangan banyak berpikir. Aku menyukaimu Axel. Sungguh, aku tidak bohong. Aku menyukaimu. Sangat menyukaimu" jelas Rowena menekankan setiap ucapannya.
"Bisa kau jelaskan, suka seperti apa?" tanya Axel lagi.
"Apa, ya? aku tidak bisa jelaskan. Yang jelas aku tidak bisa membencimu meski terkadang kau membuatku kesal. Aku tidak bisa mengabaikanmu," jawab Rowena mengungkapkan perasaannya.
Axel melapas pelukan dan mengubah posisi tidurnya. Axel menghela napas panjang, ia meminta Rowena pergi meninggalkannya jika ia ingin pergi. Ia tidak ingin di cap sebagai seseorang yang jahat, sudah mengekang keinginan seseorang demi kepentingan pribadinya.
"Pergilah jika ingin pergi. Aku tidak ingin memaksamu menemaniku di sini. Kau bisa kembali ke kamarmu, atau kembali pulang ke rumahmu. Bawa saja mobilku jika kau ingin pulang ke rumahmu." jelas Axel.
Posisi Axel kini membelakangi Rowena. Rowena bisa dengan jelas melihat punggung Axel. Rowena merasa sedih saat Axel mengatakan itu, seoalah Axel mendorongnya pergi jauh.
Bukan ini yang Rowena inginkan. Rowena tidak mengerti apa yang Axel pikirkan dan apa yang Axel cemaska. Namun, ia tahu jika Axel sedang dalam suasan hati yang tidak baik.
Rowena memeluk Axel dari belakang, "Aku akan di sini menemanimu," kata Rowena menyembunyikan wajahnya dalam punggung Axel.
"Jangan usir aku pergi, Axel. Aku mohon ... " ucap Rowena memelas. Rowena memendam wajahnya ke punggug lebar Axel.
Axel tertegun, ia melihat tangan Rowena yang melingkar di perutnya. Ia juga merasakan jika di punggungnya Rowena menempel. Rowena mengusap-usap kepalanya ke punggung Axel. Membuat debaran jantungnya semakin tidak terkendali.
"Aku memintamu pergi, kenapa tidak pergi?" tanya Axel masih penasaran dengan apa yang dipikirkan Rowena. "Pergilah, Rowena. Aku tidak apa-apa sendirian." kata Axel.
Rowena menggelengkan kepala, "Tidak mau," jawab Rowena. Ia mengeratkan pelukan, "Aku tidak mau pergi. Sekalipun kau mendorongku pergi." jelasnya bersikeras tidak mau pergi dari sisi Axel.
"Kau tak mau pergi?" tanya Axel sekali lagi. "Apa kau yakin? jangan sampai kau menyesali keputusanmu dan ucapanmu sendiri." lanjut Axel berbicara.
"Tidak mau. Berapa kali harus aku katakan? aku ... " jawaban Rowena terhenti karena Axel tiba-tiba saja bergerak dan mengubah posisi menghadap Rowena.
Dalam sekejap mata Axel berbalik mengubah posisi tidurnya menghadap Rowena. Ia langsung mengecup lembut hidung Rowena.
Rowena kaget dan memegang hidungnya, "Kau ... " kata Rowena yang langsung diam. Ia merasa malu.
Terlihat jelas wajah Rowena yang memerah. Axel tersenyum, ia membelai rambut Rowena dan mendaratkan kecupan lembut di kening Rowena. Kecupan itu perlahan turun di kedua kelopak mata lalu di pipi kiri dan kanan, sampai akhirnya kecupan Axel berakhir di bibir Rowena. Mata Rowena membulat, kecupan ringan berubah menjadi ciuman lembut. Dirasakannya tepi bibirnya digigit lembut oleh Axel.
Axel menelusuri rongga mulut Rowena dengan lidahnya. Ciumannya begitu lembut hingga membuat Rowena terhanyut di dalammya. Rowena membalas ciuman Axel, ia juga menggigit lembut bibir bawah Axel.
Rowena juga menggunakan lidahnya menelusuri rongga mulut Axel, lidah keduanya bertemua dan saling melilit. Ciuman itu perlahan-lahan mulai memanas. Lidah dan bibir mereka saling menyatu, sedangkan tangan keduanya saling menjalar entah ke mana.
Axel melebarkan mata saat dengan agresisifnya Rowena melahap seluruh bibirnya dan menjadi dominan. Ia lalu tersenyum tipis, pasrah menerima perlakuan Rowena. Ia ingin tahu seberapa liar wanita yang membuatnya berdebar itu.
"Lakukan apa saja yang kau mau, Rowena. Yang terpenting saat ini, aku inginkan kau menemaniku. Temani aku, Rowena. Temani aku," batin Axel.
Cukup lama keduanya saling berciuman. Tidak beberapa lama, keduanya saling melepas ciuman. Mereka saling menatap satu sama lain. Pandangan mata mereka saling bertemu. Axel dan Rowena saling mengembangkan senyuman. Beberapa detik berikutnya, mereka kembali saling berciuman mesra.
***
Axel meluk erat Rowena, ia seperti anak kecil yang bermanja pada Rowena. Tingkah laku Axel membuat Rowena tersenyum tipis, ia mencoba mengerti akan kemauan Axel.
"Jangan pergi ke mana-mana. Di sini saja, temani aku. Oke," kata Axel memelas pada Rowena.
Mendengar permintaan Axel, Rowena tidak bisa menolak. Ia tidak ingin membuat Axel sedih dan kecewa. Di sisi lain, ia justrju merasa kasihan pada Axel. Meski Axel enggan untuk bercerita hal apa yang membelenggu pikirannya.
"Ya, aku akan temani. Tidurlah, jangan kahawatir. Aku tidak akan pergi ke mana-mana tanpa izin darimu," kata Rowena mengusap lembut wajah Axel, lalu mencium kening Axel.
Axel menutup mata saat Rowena mengecup keningnya. Ia merasakan hangatnya kecupan Rowena sampai rasanya tidak ingin kehangatan itu memudar sedikit pun.
"Jika ada sesuatu yang mengganjal pikiranmu, kau bisa ceritakan itu semua padaku. Asalkan bisa mengurangi sedikit beban pikiranmu, aku bisa lakukan apapun untukmu. Jangan bersedih," kata Rowena lagi. Ia tidak ingin Axel sedih ataupun gelisah hati.
Axel menganggukkan kepala perlahan, "Ya, terima kasih banyak untuk semuanya, Rowena." ucap Axel tersenyum tipis menatap dalam mata Rowena.
Rowena membalas senyuman Axel, "Terima kasih kembali," jawab Rowena yang langsung memeluk Axel.
Malam yang begitu hangat. Keduanya saling berpelukan erat. Sepanjang malam, Rowena menjaga Axel. Karena lelah, Axel pun terlelap tidur. Rowena masih terjaga, ia masih memandangi wajah tampan majikan, yang berbaring di sampingnya.
Perasaan aneh muncul. Rowena tidak tahu, perasaan apa itu. Ia tidak ingin menjauh dari Axel walaupun sesaat. Meski seharusnya ia menjauh, mengingat Axel yang membuatnya harus bekerja keras sepanjang hari mengurus pekerjaan rumah. Terlebih ia harus mengikuti semua perintah Axel dan membuatnya kesal setengah mati.
"Aneh sekali. Aku berusaha menjaga jarak denganmu, tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Aku semakin ingin dekat dan mengenalmu lebih dalam lagi. Bagaimana, ini?" batin Rowena, ia menatap lekat wajah Axel.
Malam semakin larut. Mata Rowena sudah tidak mampu lagi terjaga. Ia juga sudah beberapa kali menguap. Akhirnya Rowena memejamkan matanya dan terlelap tidur di samping Axel dengan posisi mendekap Axel.
***
Rowena terjaga. Ia segera bangun dari posisi tidur dan duduk di tepi tempat tidur. Ia merasa haus, tenggorokannya terasa sangat kering, ingin segera minum. Ia melihat gelas di atas nakas kosong. Tidak beberapa lama Rowena pun berdiri dan membawa gelas kosong keluar dari kamar.