Axel Williams

Axel Williams
Bab 39.



Axel berbalik dan segera pergi meninggalkan Rowena. Rowena terkesan dengan kejutan yang diberikan Axel. Ia tidak menyangka majikannya yang dingin dan pendiam bisa bersikap manis juga perhatian.


"Apa dia sungguh Axel? apa dia baik-baik saja? kenapa rasanya dia aneh sekali," gumam Rowena dalam hatinya.


"Ah, lupakan saja. Malam ini aku tidak perlu repot memasak, aku akan makan enak dan gratis. Senangnya," kata Rowena mendekap erat bunga di pelukannya. Senyumannya lebar mengembang.


Rowena pun melangkahkan kaki pergi ke dapur untuk mengurus bunga. Ingin memasukan bunga ke dalam vas dan membawanya ke kamar tidurnya.


***


[Satu jam kemudian]


Rowena dan Axel sudah selesai bersiap. Keduanya sudah berpakain rapi, mereka ingin pergi makan malam bersama. Melihat Rowena yang anggun dan cantik mengenakan gaun, Axel pun terpukau. Ia terus melekatkan tatapan menatap Rowena.


Rowena mengernyitkan dahi menatap Axel. "Kenapa melihatku seperti itu? Ada yang aneh?" tanya Rowena bingung. Melihat ke arah dirinya sendiri.


"Tidak ada apa-apa. Aku hanya terkejut, kau cocok mengenakan pakaian apa saja," jawab Axel.


"Jangan mengejekku, Axel. Orang sepertimu bagaimana bisa memuji," ucap Rowena.


"Kau tidak percaya padaku? aku sungguh memujimu," kata Axel menatap Rowena lekat.


"Sudahlah, siapa yang percaya ucapanmu. Kau pandai menjatuhkan orang lain dengan perkataanmu," kata Rowena tidak percaya.


Axel menghela napas, "Hahhh ... Terserah saja. Kau tidak percaya ya sudah," jawab Axel.


"Ayo pergi, aku sudah sangat lapar. Aku ingin makan makanan yang enak dan lezat." kata Rowena segera mengajak pergi.


Axel dan Rowena pergi bersama keluar dari rumah. Keduanya bersama-sama masuk ke dalam mobil. Mereka menumpangi satu mobil yang sama menuju Restorant.


***


Sesampainya di restoran, keduanya disambut oleh pelayan. Pelayan tersebut langsung memandu Axel dan Rowena. Sebelumnya pelayan itu menawarkan fasilitas yang ada di restorant tempatnya bekerja itu.


"Silakan, Tuan dan Nona," kata pelayan itu ramah. Pelayan tersenyum menatap Axel dan Rowena. "Ingin tempat di luar seperti di sini atau ruang pribadi?" tawar pelayan itu.


"Ruang pribadi," jawab Axel.


"Baik, Tuan. Silakan," kata Pelayan lagi.


Pelayan menunjukan jalan, Axel dan Rowena berjalan mengikuti. Tidak lama, mereka sampai di sebuah ruangan. Pelayan membuka pintu ruangan dan mempersilakan kedua tamunya untuk masuk.


"Silakan, Tuan dan Nona," Pelayan mempersilakan.


Axel dan Rowena masuk, mereka langsung duduk. Pelayan langsung memberikan buku menu pada Axel dan Rowena.


Axel memilih menu makan malamnya, begitu juga Rowena. Rowena memilih makanan pembuka juga makanan penutup. Ia juga memesan wine dengan kwalitas terbaik di restorant itu. Pelayan selesai mencatat dan pergi meninggalkan ruangan.


"Kau yakin menghabiskannya?" kata Axel.


"Tentu saja. Aku akan habiskan semua," jawab Rowena tersenyum senang.


"Ya, sudah jika begitu. Kau terlihat sangat yakin, aku tidak bisa bicara apa-apa lagi." kata Axel.


"Terima kasih," ucap Rowena.


"Untuk apa?" tanya Axel mengernyitkan dahi menatap Rowena.


"Ya, sama-sama." jawab Axel.


Beberapa saat kemudian. Suasana menjadi hening. Axel diam, ia sibuk bermain ponselnya sembari menunggu hidangan. Sedangkan Rowena sibuk melihat sekeliling, ia tertarik dengan dekorasi tempat tersebut. Baginya sangat unik dan kreatif.


Setelah menunggu cukup lama, akhirnya hidangan makan malam keduanya selesai dimasak dan siap disajikan. Pelayan menyajikan hidangan makan malam Axel dan Rowena. Ia langsung pergi setelah semua hidangan tersaji.


"Selamat makan," kata Rowena bersemangat. Dengan mata berbinar menatap makanan di hadapannya.


Axel hanya melihati Rowena yang begitu bersemangat. Axel menuang wine ke dalam gelas Rowena juga gelasnya. Axel menggoyangkan perlahan gelas winenya, ia mencicipi wine yang dipesan Rowena.


"Kau pasti akan langsung hilang kesadaran setelah minum ini," kata Axel setelah mencicipi wine yang ada di dalam gelas di tangannya.


"Hei, itu wineku. Aku yang pesan, aku juga yang akan habiskan." kata Rowena memprotes.


"Aku hanya mencicipi sedikit," jawab Axel, meletakan gelas winenya dan beralih mengambil gelas berisi air putih untuk diminumnya. "Aku tidak akan minum, karena aku harus mengemudikan mobil." kata Axel menjelaskan.


Mereka menikmati makanan yang mereka pesan masing-masing. Rowena sangat lahap makan, terlihat ia begitu menyukai cita rasa masakan yang dimakannya. Rowena juga dengan cepat meneguk wine dalam sekali teguk.


"Hei, perlahan saja. Kau akan tersedak," kata Axel.


"Aku lihai minum, jangan khawatirkan aku." jawab Rowena.


"Aku tidak khawatir padamu. Aku khawatir pada diriku sendiri yang akan kesusahan menghadapimu yang mabuk nanti," keluh Axel.


Rowena menatap tajam kearah Axel, "Sst, jangan bicara saat makan. Cepat habiskan makanmu dan temani aku minum." kata Rowena yang lagi-lagi mengumbar senyuman.


Axel menghabisakan makan malamnya, begitu juga Rowena. Selesai semua hidangan disantapnya, Rowena menikmati wine yang dipesannya. Axel tidak minum lagi, ia hanya mencicipi sedikit sebelum ia menyantap makan malamnya. Axel tidak ingin mabuk, di sisi lain ia juga harus mengemudi mobil saat pulang nanti. Axel hanya minum air putih.


Cukup banyak Rowena meminum wine. Rasa wine yang manis dengan kadar alkohol yang tinggi membuat Rowena mulai hilang kesadaran dan meracau. Melihat Rowena yang seperti itu, Axel langsung memanggil pelayan untuk transaksi pembayaran dan mengajak Rowena pulang ke rumah.


Axel memapah Rowena, Rowena berjalan terhuyung-huyung tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya. Segera tanpa membuang waktu lagi, Axel membantu Rowena masuk dalam mobil dan melesat pergi untuk kembali pulang ke rumah.


***


Sesampainya di rumah. Axel mau tidak mau Harus menggendong Rowena masuk ke dalam rumah. Sebelumnya, Axel sudah berusaha membangunkan Rowena. Namun, ia memilih diam dan tidur nyanyak.


"Benar-benar merepotkan," kata Axel.


Dibopongnya tubuh Rowena menuju kamar tidur Rowena. Axel merebahkan tubuh Rowena di atas ranjang. Dibelainya lembut wajah Rowena perlahan.


"Jika kau seperti ini, kau seperti anak kucing, Rowena." batin Axel.


Cukup lama Axel memandangi paras cantik Rowena. Ia sudah merasa lelah, ia pun menarik selimut tinggi sampai setengah muka, agar Rowena tidak kedinginan. Axel akhirnya pergi meninggalkan kamar tidur Rowena, untuk segera kembali ke kamarnya sendiri.


***


Keesokan harinya. Rowena terbangun dari tidurnya. Ia bangun dan duduk di tepi tempat tidur.


"Aduh, kepalaku." keluh Rowena memijat-mijat lembut area kepalanya.


Rowena melihat sekeliling, ia merasakan rasa tidak nyaman karena pakaiannya. Ia melihat pakaiannya.


"Seingatku semalam masih makan malam dengan Axel. Apakah saat pulang aku langsung tidur begitu saja? aku tidak ingat apa-apa," gumam Rowena.


Rowena berdiri dan berjalan terhuyung ke arah kamar mandi. Rowena ingin mencuci mukanya agar sepenuhnya sadar.