Axel Williams

Axel Williams
Bab 18.



Axel selesai mandi, dengan hanya mengenakan kimono handuk, ia keluar dari kamar untuk membuat sesuatu yang bisa dimakan di dapur.


[Sepuluh menit kemudian]


Setelah cukup lama bergelut di dapur. Akhirnya sepiring makan malam pun tersaji. Axel duduk dan menikmati makan malamnya dengan tenang. Cukup berat untuknya hari itu, di mana ia harus bekerja keras dari pagi hingga malam untuk membaca, dan menginterogasi semua orang-orang yang terlibat dalam permainan kotor di perusahaan.


"Untung saja semuanya sudah selesai, tidak perlu berlarut-larut. Hari ini lebih berat dibandingkan aku harus pergi keluar kota untuk rapat dan menemui klien selama seminggu." batin Axel.


Axel melahap makan malamnya dan mengunyahnya perlahan. Pikirannya kembali berjalan, memikirkan langkah selanjutnya yang harus ia kerjakan untuk mengembangkam perusahaannya. Setidaknya ia harus bisa menjalin kerjasama dengan beberapa perusahaan ternama lainnya.


Makanan telah habis, Axel langsung bangkit dari duduknya dan pergi ke dapur untuk mencuci peralatan makan yang baru saja dipakainya. Tidak lupa ia membersihkan meja makan juga.


"Andai saja ada Paman Reynold. Setidaknya aku bisa minum bersamanya untuk beberapa gelas," ucap Axel terlihat sedikit kecewa dengan keadaan saat itu.


Axel pergi melangkahkan menuju ruang kerjanya. Pintu ruangan dibukanya, ia segera dan memasuki ruang kerja dan menyalakan lampu ruangan. Axel kembali melangkah, baru saja melangkah beberapa langkah, ia kembali menghentikan langkahnya dan menatap sesuatu yang menempel dinding.


Ya, itu adalah sebuah foto keluarga yang berukuran cukup besar. Ada Andrew, Lovely, dirinya, Azel dan Alica. Sejenak Axel terdiam, sampai tidak lama kemudian, tangannya tanpa sadar menjulur mengusap foto tersebut.


"Mama, Alica," panggil Axel lirih.


Axel menyentuh foto Lovely dan Alica. Pikirannya tertuju pada sosok dua wanita yang dekat dengannya selama ini. Mamanya, Lovely. Dan juga Adiknya, Alica.


Pandangannya teralihkan menatap foto Andrew yang tersenyum. Axel menatapnya dengan tatapan tanpa arti, wajahnya terlihat datar dan biasa-biasa saja.


"Hah ... (menghela napas) begitu banyak kesamaan yang kita miliki, Tuan Williams. Aku tidak menyukaimu, sama seperti aku tidak menyukai diriku sendiri. Kau egois, kau selalu memaksaku melakukan hal yang tidak aku sukai." ucapnya seakan mengeluh.


Axel mengalihkan pandangannya ke arah Azel, saudara kembarnya. Tidak berselang lama, Axel tertawa kecil, seperti ada sesuatu yang menggelitiki hatinya.


"Kau beruntung, Azel. Cinta dan kasih sayang Papa juga Mama, seutuhnya milikmu. Kau memilili hati yang lembut dan kau juga orang yang sabar. Tentu, semua orang menyayangimu. Berbeda denganku yang harus merasakan banyak penderitaan dan rasa tidak nyaman. Merasa takut, tidak aman dan harus selalu waspada terhadap hal apapun juga siapapun. Aku terkadang menangis seorang diri dibalik pohon, aku ingin dipeluk, ingin diperhatikan dan dipedulikan," keluh Axel sembari mengenang masa-masa suram yang dilaluinya.


Axel menutup matanya perlahan, ia mengambil napas dalam lalu mengembuskan napas perlahan. Mata Axel kembali terbuka, segera ia mengubah ekspresi wajah dan berusaha menyingkirkan apa yang baru saja dipikirkannya.


***


Keesokan harinya. Merry diminta oleh Ricardo untuk pergi menemui seorang klien di luar kantor. Sepulang dari menemui klien, Merry datang menemui Ricardo di ruangannya. Dengan gaya yang khas, Merry mengalihkan perhatian Ricardo yang semula sibuk menatap komputer di hadapannya.


"Kau sudah kembali?" tanya Ricardo.


"Hm, sudah. Ada apa? apakah kau merindukanku, Tuan?" goda Merry berjalan mendekati Ricardo.


"Tentu saja, aku sangat merindukanmu." sahut Ricardo.


Merry hanya tersenyum tipis, dalam hatinya ia sudah sangat muak dengan permainan kekasihnya itu.


"Kapan ini akan berakhir, aku sudah tidak tahan lagi. Aku ingin secepatnya lepas dari Ricardo," batin Merry yang masih melukis senyuman di wajahnya.


Merry mengambil posisi duduk di sudut meja kerja Ricardo. Pandangannya dalam menatap Ricardo. Ricardo membalas tatapan mata Merry dan tersenyum tampan ke arah Merry. Ricardo benar-benar terpedaya oleh Merry, tidak sadar jika Merry hanya memanfaatkannya saja.


"Kau semakin cantik," puji Ricardo.


"Oh, ya? terima kasih untuk pujianmu, Tuan. Jangan terlalu memuji, aku tidak secantik itu." jawab Merry merendah.


"Bagiku kau sangat cantik," jawab Ricardo.


"Baiklah, baiklah. Kau menang," kata Merry mengalah.


Ricardo menggapai tangan kanan Merry lalu mencium punggung tangan Merry dengan lembut. Ricardo menggenggam tangan Merry erat-erat.


"Terima kasih untuk semuanya," ucap Ricardo.


Merry terdiam, "aku akan menghancurkanmu dan kau justru berterima kasih? sungguh menarik," batin Merry.


Merry mengusap kepala Ricardo dengan tangan kirinya. Usapan lembut itu memberikan kesan nyaman pada Ricardo, ia merasakan tiap belaian tangan Merry penuh cinta. Ricardo sungguh dibutakan akan cintanya pada Merry. Sampai-sampai tidak menyadari jika masalah besar sudah menantinya.


"Terima kasih juga, kau sudah percayakan hal besar padaku. Aku terkesan, aku tidak menyangka kau begitu percaya padaku." Kata Merry.


"Tentu aku percaya, kau adalah kekasihku. Ahhh, lebih tepatnya kau adalah calon tunanganku. Tunggu aku selesaikan beberapa hal lagi dan kita akan pergi berlibur, aku akan melamarmu secara resmi," ucap Ricardo.


Merry tersenyum lebar, "sayang sekali, aku rasa itu tidak akan pernah terjadi. Semuanya sudah terlambat," batin Merry lagi.


Merry menggelengkan kepala perlahan, "Bukan seperti itu, aku hanya terkejut. Aku sangat senang, sayang." jawab Merry berbohong.


"Maafkan aku Ricardo. Aku harus mengkhianatimu. Aku mencintai Jason, dan ingin menikah dengannya. Namun, demi itu semua aku harus berbohong dan memanfaatkanmu. Sungguh, bukan maksudku kejam. Hanya saja aku tidak bisa kehilangan Jason untuk kedua kalinya. Maafkan aku," ucap Merry dalam hatinya.


Tok... Tok... Tok...


Pintu ruangan diketuk oleh seseorang dari luar. Tidak lama pintu ruangan terbuka, Sekretaris Ricardo masuk dan menyapa Ricardo.


"Maaf, Tuan. Agenda anda hari ini," kata Sekretaris itu.


Ricardo menatap Sekretarisnya, "aku hampir saja lupa. Terima kasih sudah mengingatkan," kata Ricardo.


"Baik, Tuan." jawab Sekretaris.


Sekretaris itu melangkah maju dengan sedikit menundukkan kepala. Ia meletakan sebuah berkas dokumen di meja, di hadapan Ricardo. Dengan langkah perlahan ia kembali mundur dan langsung berbalik pergi meninggalkan ruangan.


"Kau akan pergi?" tanya Merry pada Ricardo.


"Ya, aku harus temui seseorang." jawab Ricardo.


"Baiklah, selamat bekerja." kata Merry.


"Hanya selamat?" tanya Ricardo berdiri dari duduknya. Ricardo mendekati Merry dan mendekatkan wajahnya ke arah Merry.


"Apa yang kau mau?" tanya balik Merry.


"Beri aku ciuman," jawab Ricardo.


Merry tersenyum, dengan segera ia mengalungkan tangannya ke leher Ricardo dan menggapai bibir Ricardo. Ricardo tidak tinggal diam, di dalamkannya ciuman Merry hingga keduanya begitu mesra.


"Ini adalah ciuman terakhir dariku, Ricardo. Selamat tinggal," batin Merry.


"Aku sangat mencintaimu, Merry. Aku akan berusaha membuatmu bahagia," batin Ricardo.


Puas berciuman, keduanya saling melepas ciuman. Mereka saling tersenyum satu sama lain, Ricardo kembali mendaratkan kecupan lembut di kening Merry.


"Aku akan segera kembali," kata Ricardo.


Merry menganggukan kepala perlahan, "Hm, hati-hati di jalan." kata Merry tersenyum tipis.


"Pasti," jawab Ricardo.


Ricardo meraih jasnya yang ada di kursi dan pergi meninggalkan Merry. Merry menatap Ricardo, tatapannya mengiringi kepergian Ricardo yang melangkah cepat meninggalkan ruangannya.


Merry menghela napas panjang, "Apa dia akan baik-baik saja? Terserah saja, mau dia menyalahkanku ataupun membenciku sekalipun. Aku tidak peduli, sekarang aku hanya perlu bersiap untuk pergi." gumam Merry.


Merry sedikit ragu dengan apa yang sudah dilakukannya. Ada rasa bersalah, ada juga rasa bahagia karena berhasil membantu kekasihnya, Jason. Merry mengeluarkan ponsel dari dalam tansya. Ia segera menghubungi Jason dan menunggu perintah dari Jason.


(Perbincangan di telepon)


"Hallo," sapa Merry.


"Ya, sayangku. Kerjamu sungguh luar biasa," puji Jason dari ujung telepon.


"Aku sudah melakukan sesuai kemauanmu. Apa yang harus aku lakukan sepanjutnya?" tanya Merry.


"Apalagi, pindahlah ke rumahku dan tinggalkan Ricardo. Kita bisa bersama-sama melihat jatuhnya Ricardo," jawab Jason.


"Baiklah, aku akan berkemas dan pergi dari perusahaan ini. Aku juga akan segera tinggalkan apartemenku." ucap Merry menyetujui usulan Jason.


"Hm, aku akan minta seseorang menjemputmu sayang. Datanglah ke perusahaanku," kata Jason lagi.


"Hm, oke. Aku akan tutup panggilannya dan segera pergi." Jawab Merry.


"Oke," jawab Jason.


Segera Merry mengakhiri panggilannya. Merry menatap sekitar ruang kerja Ricardo. Tidak beberapa lama Merry segera pergi dari ruangan Ricardo untuk kembali ke ruangannya dan meringkas barang-barangnya.