Axel Williams

Axel Williams
Bab 33.



Hiks ... hiks ...


Sepanjabg jalan, Axel terus menangis.


Derai air mata membasahi pipinya. Axel meluapkan tangisannya, sesekali ia mencengkaram kaus Reynold yang menandakan jika ia penuh dengan emosi.


"Tidak apa-apa, Nak. Tidak apa-apa," kata Reynold berusaha menenangkan Axel.


"Uhh ... hiks ... a, a, aku bodoh!" Kata Axel terbata sambil sesenggukan.


"Siapa yang bilang kau bodoh? aku akan menarik mulutnya. Kau itu tidak bodoh, kau itu pandai dan cerdas. Apa kau bicara begitu karena tidak dapat makanan, hm?" Kata Reynold.


Axel terdiam, karena apa yang Reynold katakan itu benar. Ia mengeratkan pelukan memeluk Reynold.


Sekitar sepuluh menit perjalanan, mereka akhirnya sampai. Reynold menurunkan Axel dan menutup payungnya yang usang. Keduanya masuk ke dalam tenda yang sebagian berlubang-lubang.


Reynold langsung mengeluarkan sebuah bungkusan dan diberikan pada Axel. Itu adalah makan malam yang didapat Reynold setelah bekerja paruh waktu sebagai jasa angkut barang.


"Makanlah," kata Reynold.


Axel membuka bungkusan, "Paman," panggil Axel.


"Ya?" jawab Reynold.


"Ayo makan bersama," ajak Axel.


Axel tahu, jika Reynold belum makan. Axel sangat paham, Reynold memang selalu bersikap seakan tidak peduli, juga berbiara sesuka hati, namun ia tidak pernah menelantarkan Axel.


"Makanlah, ini untukmu. Aku sudah makan," jawab Reynold berbohong.


Axel menangis, ia menyuapkan makanan kepada Reynold. Hal itu membuat Reynold terharu, ia merasa bangga pada Axel. Meski dalam keadaan susah, ia tetap tegar dan mau berbagi.


Reynold membuka mulutnya dan melahap makanan yang disuap oleh Axel. Reynold pun bergantian menyuapi Axel, Axel terlihat senang, dalam air mata ia menorehkan senyuman tipis.


"Terima kasih, Paman." kata Axel.


***


Axel tiba-tiba saja terjaga. Entah mengapa, hatinya tidak tenang. Axel langsung mengusap matanya yang basah, tanpa sadar dalam tidurnya ia menangis. Axel langsung bangun, ia mengambil ponselnya di nakas dan mengirim pesan pada Alica.


Axel ingin agar Alica mengunjungi Reynold. Membawakan Reynold makanan dan beberapa keranjang buah juga sayur. Setelah mengirim pesan, Axel segera turun dari tempat tidur dan pergi ke kamar mandi.


[Lima menit kemudian]


Axel berdiri di sisi tempat tidur. Matanya mengernyit, pandangan matanya mulai gelap, sama persis seperti kejadian sebelumnya.


Dari jauh Axel melihat dua orang bertengkar, saling meneriaki satu sama lain. Bahkan saling menujuk muka. Axel penasaran dan mendekat, banyak orang melihat, perdebatan panas itu tidak bisa dihindari lagi.


Mata Axel langsung melebar, mendapati Rowena bersama wanita asing berdebat. Rowena terlihat begitu marah dan kesal, hingga membuat wanita di hadapannya murka dan ingin menampar Rowena.


Pandangan Axel kabur, dan berangsur normal. Matanya sudah kembali jelas melihat. Axel menggelengkan kepala menghilangkan rasa penat di kepalanya.


"Apa lagi ini? siapa wanita yang aku lihat?" batin Axel bingung. Ia menggeleng-gelengkan kepala perlahan.


"Ah, aku ini kenapa? apa yang terjadi sebenarnya?" kesal Axel bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


Axel terdiam, ia duduk di tepi tempat tidur dan berpikir sesuatu. Ya, ia memikirkan apa yang baru saja dilihatnya. Matanya menatap ke bawah, menatap dua kakinya yang sejajar. Axel sesekali mengernyitkan dahi. Ia tidak mengerti apa yang terjadi, juga tidak memahami apa maksud dari itu semua.


"Rowena berteriak Merry, siapa Merry? apa aku harus bertanya pada Rowena? namun, jika aku bertanya, dan dia bertanya kembali dari mana aku tahu nama Merry, aku harus menjawab apa? ini sangat rumit," keluh Axel menghela napas panjang.


Axel mengambil gelas berisi air minum dan langsung meneguknya habis. Ia kembali berbaring, berharap akan bisa terlelap tidur lagi dan terbangun keesokan harinya. Matanya perlahan tertutup, ia mulai tertidur.


***


Keesokan harinya. Setelah sarapan, Axel mengajak Rowena menemui rekan bisnisnya. Dia adalah seseorang yang mengadakan pesta di malam sebelumnya. Karena ingin bicara santai, rekan bisnis Axel itu mengajak bertemu di sebuah kedai kopi. Dan, disetujui oleh Axel.


Axel dan Rowena sudah sampai di kedai kopi. Axel langsung mengernyitkan dahi, sungguh di luar dugaanya, tempat janji temu mereka terasa tak asing bagi Axel.


"Ada apa? kau tak apa, kan?" tegur Rowena. Merasa ada yang aneh dengan Axel.


Axel terkejut, "Ah, iya. Aku tidak apa-apa," jawab Axel, "Sepertinya Tuan Christopher belum datang," imbuh Axel mengalihkan perhatian Rowena. Tidak ingin Rowena khawatir dan mencemaskannya.


"Mungkin masih dalam perjalanan. Kita tunggu saja," jawab Rowena.


"Ya, kurasa juga begitu." jawab Axel.


Axel duduk dan melihat-lihat sekeliling kedai kopi tersebut. Rowena mengikuti Axel, duduk di samping Axel.


"Setelah pertemuan ini, kita akan kembali kan?" tanya Rowena.


"Ya, tentu saja akan pulang. Ada apa? apakah masih ada tempat yang ingin kau kunjungi?" tanya Axel menatap Rowena.


Rowena menggeleng, "Tidak, aku tak punya banyak teman di sini. Hanya saja," kata-kata Rowena terputus.


"Apa?" sambung Axel penasaran.


"Ah, tidak-tidak. Lupakan saja," jawab Rowena yang langsung melebarkan senyuman.


"Aneh sekali," gumam Axel merasa sedikit kecewa.


Mendengar gumaman Axel, Rowena menjadi kesal. Ia marah-marah dan memaki Axel dalam hatinya.


"Pria menyebalkan, aku hanya ingin berjalan-jalan denganmu. Setidaknya kita bisa bersantai kan? bisa pergi makan enak kan? atau pergi ke taman hiburan. Ahh, kau menyebalkan! Dasar iblis jahat," batin Rowena memaki Axel.


"Aku melihat Toko roti di sebelah kedai ini, aku akan ke sana dan beli beberapa. Apa kau mau? kau suka rasa apa?" tanya Rowena menawari.


Axel menatap ponsel di tangannya, "Belilah, aku tidak ingin makan roti." jawab Axel yang fokus menatap ponsel. Ia berbicara tanpa menatap Rowena. Pandangannya hanya tertuju pada ponsel.


"Baiklah, aku akan beli. Jangan menyesal jika roti dan kue yang ku bawa nanti rasanya lezat. Kau tak boleh menyentuhnya," kata Rowena ketus, ia berdiri dan pergi meninggalkan Axel.


Axel tersenyum tipis mendengar perkataan Rowena, meski begitu ia tidak menjawab apa-apa dan tidak mengalihkan pandangannya pada Rowena.


Tidak berselang lama, seorang pelayan menghampiri Axel, pelayan membawa buku menu dan meletakan di atas meja agar dilihat oleh Axel.


"Tuan, silakan menunya." kata pelayan ramah.


Axel mengalihkan pandangan dari ponsel ke atas meja. Ia melihat buku menu di atas meja di hadapannya. Ia meletakan ponselnya dan membuka buku menu tersebut.


"Satu cappucino panas," kata Axel.


"Baik, Tuan." jawab pelayan.


Pelayan segera pergi, Axel mengalihkan pandangan menatap luar kedai kopi. Axel tersadar jika situasi sekelilingnya juga tidak asing, ia langsung teringat akan Rowena.


Axel mengernyitkan dahinya, "situasi yang tidak asing," batin Axel.