Axel Williams

Axel Williams
Bab 27.



"Dalam dunia bisnis, kontrak tetap kontrak. Kontrak kita tujuh bulan, meski dalam sebulan Kakakmu bisa membayar hutang, aku tetap akan memintamu bekerja padaku selama 7 bulan sesuai kontrak. Aku sudah putuskan untuk mempekerjakanmu, aku tidak butuh uang itu lagi." jelas Axel.


"Tenang saja, aku akan bekerja dengan baik. Hanya tujuh bulan, aku akan anggap tujuh bulan ke depan sebagai perjalanan liburanku." kata Rowena.


Axel mengernyitkan dahi, "Liburan bersamaku pasti menyenangkan. Kapan lagi kau akan berlibur bersama laki-laki tampan sepertiku," kata Axel.


Rowena melebarkan mata, "Hahaha," Rowena tertawa, "Ya, ya, ya, kau memang tampan tapi sifatmu sangat menyebalkan. Kau adalah malaikat berhati iblis," kata Rowena mengejek Axel.


Mendapat julukan malaikat berhati iblis dari Rowena membuat Axel kembali teringat akan Alica. Alica juga sering mengatinya sebagai iblis.


"Malaikat berhati iblis? itu tidak cocok denganku," kata Axel.


"Kenapa tidak? kau baik tapi kau juga licik," kata Rowena.


"Licik?" kata Axel.


Rowena tersadar jika dia kelepasan bicara. Melihat ekspresi wajah Axel yang berubah, itu membuat Rowena salah tingkah.


"Oh, maaf. Aku tidak bermaksud mengejekmu. Jangan tersinggung," kata Rowena.


Axel terdiam. Ia mendekati Rowena perlahan. Rowena melebarkan mata, ia merasa tidak nyaman dan mundur perlahan seiring dengan langkah kaki Axel melangkah maju menghampirinya.


"Apa yang dia inginkan? Apakah dia akan marah?" Batin Rowena. Hati Rowena tidak tenang, tiba-tiba merasa resah.


Rowena terus melangkah mundur, Axel terus melangkah maju. Sampai Rowena terpojok di lemari. Axel mendekat dan semakin dekat dengan Rowena.


"Licik ya?" gumam lirih Axel.


Deg ... Deg ... Deg ...


Jantung Rowena berdebar kencang. Antara takut dan panik. Rowena menunduk, ia tidak berani menatap Axel.


Axel mendekat dan berbisik, "Terima kasih pujianmu."


Rowena melebarkan mata lagi, ia menadahkan kepala menatap Axel. Mata Rowena dan Axel saling memandang satu sama lain.


Axel langsung berbalik dan membelakangi Rowena, "Aku tidak bermaksud menakutimu. Ini sudah malam, lebih baik kau masuk kamarmu dan tudur." kata Axel yang tiba-tiba saja merasa tidak nyaman.


Axel melangkah perlahan meninggalkan Rowena, Rowena memanggil Axel dan mengucapkan selamat malam pada Axel.


"Tunggu," kata Rowena menghentikan Axel.


Axel berhenti, ia tidak berpaling dan tetap pada posisi membelakangi Rowena. Entah mengapa Axel merasa aneh jika harus menatap Rowena.


"Selamat malam, dan selamat tidur," kata Rowena.


Axel terdiam tidak lama kakinya melangkah pergi, "Ya, kau juga." jawab Axel.


Rowena tanpa sadar tersenyum, meski Axel hanya menjawab tanpa melihatnya itu sudah membuat hatinya senang. Tiba-tiba Rowena terdiam, ia mengernyitkan dahinya dan merasa bingung.


"Tunggu, untuk apa aku bahagia? kenapa aku tersenyum hanya karena senang mendengar jawabannya? astaga, ini memalukan. Lupakan Rowena, jangan tertipu wajah rupawannya," batin Rowena yang langsung melangkah pergi masuk dalam kamarnya.


***


Pagi-pagi sekali Axel bangun. Pagi itu, Axel sudah sibuk di dapur menyiapkan sarapan untuknya sendiri dan Rowena.


Jam sudah menunjukan pukul enam pagi, Rowena terbangun dan buru-buru untuk merapikan tempat tidurnya. Rowena ingat jika dia harus bangun awal untuk menyiapkan sarapan majikannya.


"Astaga, alarm ponselku lupa kupasang. Bagaimana ini?" panik Rowena. Yang langsung buru-buru bangun.


Tempat tidur sudah dirapikan, Rowena berlari kecil menuju kamar mandi untuk cuci muka dan menggosok gigi. Setelah itu ia segera mengikat rambutnya dan keluar dari kamar tidurnya. Langkah kakinya terhenti, ia melebarkan mata mengamati dari jauh. Ada seseorang di dapur yang dirasa tidak asing.


Rowena berdiri di samping meja dapur. Rowena tidak ingin mengganggu Axel yang terlihat serius, tetapi juga tidak mau berdiam diri.


Rowena menggigit bibir bawahnya, "Pagi," sapa Rowena ragu-ragu.


Axel memalingkan wajah menatap Rowena, "Hm, pagi juga. Rowena, Kau baru bangun?" tanya Axel yang kembali memalingkan wajah menatap masakannya.


Deg ... Deg ... Deg ...


Jantung Rowena berdebar-debar. Rowena terkejut, ia takut jika Axel akan marah karena dia bangun terlambat. Rowena diam tidak menjawab, membuat Axel harus mengulangi pertanyaanya.


"Kau baru bangun?" tanya Axel lagi dengan suara sedikit keras.


"Iya, aku baru bangun. Maafkan aku terlambat bangun. Aku tidur larut, dan aku terjaga beberapa kali karena masih belum terbiasa. Maafkan aku, aku tidak akan mengulangi ini. Maaf..." ucap Rowena menjelaskan.


Karena takut jika Axel marah, Rowena menjelaskan detail dan lengkap alasan dirinya bangun terlambat. Hal itu membuat Axel bingung, Axel tersenyum tipis mendengar penjelasan Rowena.


Susana hening, Rowena terdiam, Axel juga diam. Rowena bingung, ia sudah menjelaskan detail alasannya, tapi tidak ditanggapi oleh Axel.


"Kenapa dia hanya diam? apa dia sungguh marah?" batin Rowena menerka-nerka.


"Sudah selesai bicara?" tanya Axel tiba-tiba, membuyarkan lamunan Rowena.


Axel sudah berdiri di hadapan Rowena dengan menatap Rowena. Rowena yang tersadar langsung kaget mendapati Axel yang sudah memperhatikannya.


"Ahh ... su, sudah. Hehehe ..." kata Rowena tersenyum paksa.


"Bersiaplah, ikut aku pergi." Perintah Axel, meminta Rowena bersiap-siap dan pergi dengannya.


Rowena mengangkat alisnya mendengar perintah Axel, "Ke mana?" tanya Rowena lagi.


"Keluar kota. Ada hal penting yang harus aku selesaikan di sana. Ikut aku," jelas Axel mengulang ucapannya.


"Sekarang?" tanya Rowena lagi.


"Hm," gumam Axel.


"Pagi ini?" tanya Rowena yang tidak mengerti apa-apa.


Axel menghela napas panjang, "Kau cerewet sekali," keluh Axel.


"Aku hanya bertanya saja. Tidak perlu menghela napas seperti itu," ucap Rowena mengernyitkan dahi.


Axel menggelengkan kepalanya perlahan, "Sudahlah. Percuma saja bicara denganmu. Kau tidak akan paham apa yang aku ucapkan. Makan ini dan bersiaplah, pukul tujuh tepat kita berangkat, lebih dari itu kau harus naik bus untuk sampai di sana." jelas Axel.


Tidak ingin banyak bicara lagi atau mengulang ucapannya.


Axel membawa piringnya yang berisi makanan ke meja makan. Rowena diam mencerna ucapan Axel, Rowena masih bingung, semua begitu tiba-tiba. Rowena melihat di atas meja dapur, sepiring sarapan sudah siap untuk dinikmatinya. Rowena melihat Axel, ia menatap majikannya yang duduk menikmati sarapan buatannya sendiri.


Akhirnya Rowena menyusul Axel yang sudah dan menikmati sarapannya di meja makan. Dengan membawa piring berisi sarapan, ia melangkahkan kaki menyusul Axel. Rowena duduk dan langsung memakan sarapan buatan majikannya itu.


"Ini, kau yang memasak?" tanya Rowena terkejut mencicipi masakan Axel.


Axel mengangguk, "Hm, katakan apa yang kurang?" tanya Axel.


Rowena melongo, "Uwow, ini mengejutkan. Kau pandai sekali memasak, ini sangat enak dan lezat. Aku suka," kata Rowena memuji. Wajahnya berseri-seri.


"Aku tidak bertanya kau suka atau tidak. Yang aku tanya apa ada rasa yang kurang?" jelas Axel.