Axel Williams

Axel Williams
Bab 15.



Makan malam berlangsung. Suasana begitu tenang saat itu, tidak seperti malam-malam sebelumnya yang mencekam dan menegangkan. Beberapa saat kemudian, Andrew menatap Axel dan memberanikan diri untuk menyapa Axel.


"Ax," panggil Andrew.


"Ya?" jawab Axel langsung.


Semua kaget, Lovely, Azel dan Alica termasuk Andrew sendiri. Ini seperti bukan Axel yang biasanya.


"Ada apa?" tanya Axel menatap Andrew.


"Mmm, itu. Papa dengar kabar besok kau akan pergi ke Inggris. Apakah itu benar?" jawab Andrew ingin memastikan hasil rapat sore tadi.


"Ya, itu benar. Aku akan pergi besok pagi," jawab Axel tanpa ragu dengan nada rendah.


"Apa ada masalah, Axel? Ini terlalu mendadak," sela Lovely tiba-tiba.


"Mau bagaimana lagi, aku harus pergi untuk melihat langsung keadaan dan kondisi perusahaan kita di sana. Masalah tidak akan usai jika hanya mengirim orang-orang yang tidak berguna." Jelas Axel.


"Tapi..." kata Lovely yang langsung diam.


"Sayang, biarlah Axel pergi. Dia sudah dewasa dan pasti punya pemikirannya sendiri," jawab Andrew manatap Lovely, Andrew lalu menatap Axel lagi, "Perlukah Azel pergi menemanimu?" tawar Andrew.


Axel menggeleng, "Tidak. Jika semua pergi siapa yang akan membantu di sini? harus ada salah satu yang tinggal, aku bisa tangani ini sendiri." tegas Axel menolak tawaran Andrew, Papanya.


"Oke, terserah kau saja. Kabari jika kau butuh sesuatu." jawab Andrew.


"Hm," gumam Axel yang langsung melanjutkan makan malamnya.


Azel hanya melihat ke arah Axel tanpa berkomentar, begitu juga Alica. Pandangan Azel dan Alica lalu bertemu, keduanya saling melempar senyuman.


Tiga puluh menit kemudian...


Andrew pergi ke ruang kerjanya bersama Azel, Lovely dan Alica membereskan meja makan dan dapur dibantu pelayan mereka. Sedangkan Axel pergi ke halaman belakang untuk berjalan-jalan.


Dari jendela dapur, Alica melihat Axel yang berdiri menatapi langit malam. Alica menatap Lovely dan meminta izin untuk menemui Axel.


"Ma, aku bantu sampai sini saja. Aku ingin menemui Axel dan bicara sesuatu dengannya," kata Alica.


"Ya, pergilah. Jangan buat Axel kesal," kata Lovely mengingatkan.


"Oke," jawab Alica.


Alica langsung bergegegas ke luar dari dapur menuju halaman belakang melewati pintu dapur. Dengan langkah perlahan Alica berjalan mendekati Axel. Alica ragu-ragu saat langkah kakinya semakin dekat, Alica memberanikan diri menepuk pelan bahu Axel.


"Kak," sapa Alica dengan suara pelan.


Axel kaget dan langsung menatap Alica, "Oh, kau. Ada apa, Alica?" tanya Axel kembali memalingkan wajah setelah tahu Alica lah yang menyapanya.


"Tidak ada apa-apa. Hanya ingin menyapamu saja," jawab Alica.


Axel hanya diam, ia memasukan kedua tangannya kedalam saku celana dan melihat-lihat sekitar.


"Oh, ya. Bunga yang kau berikan, kau sudah lihat? aku menyusunnya di vas," kata Alica.


"Hm, aku lihat. Kau suka?" tanya Axel.


"Ya, aku suka. Aku tidak sangka kau mengirimnya untukku." kata Alica tersenyum.


"Kau berpikir Jauh Alica," jawab Axel.


"Maksudmu? hm, apakah itu hanya sebatas memberi tanpa ada sesuatu?" tanya Alica ingin tahu.


"Ada sesuatu apa? aku hanya kasian kepada pemilik toko bunga, jadi jangan besar kepala." kata Axel beralasan.


Sebenarnya iya ingin memberikan sesuatu hadiah pada Alica. Karena ia tidak tahu harus memberi apa, maka ia pun memilih bunga sebagai hadiahnya.


Alica dan Axel berjalan-jalan sedikit jauh dari rumah. Alica duduk di kursi taman diikuti Axel, Axel menghela napas panjangnya yang lalu bersandar pada sandaran kursi. Kepalanya menadah menatap langit yang berbintang, kedua tangannya terlipat di dada.


"Jadi, berapa lama kau akan pergi?" tanya Alica.


"Entahlah," jawab singkat Axel.


"Tidak pasti, ya?" keluh Alica dengan sedihnya.


"Kenapa? bukankah kau senang aku pergi? tidak akan ada lagi yang menggodamu dan mengganggumu," kata Axel.


"Mungkin aku yang sudah salah paham padamu. Kau tidak buruk," kata Alica senang.


Deg... deg.. deg... Jantung Axel seketika berdebar. Axel tidak menyangka jika Alica akan bicara hal seperti itu. Ia merasa sedikit senang mendengar ucapan Alica.


"Lupakan saja, jangan paksakan dirimu tersenyum atau tertawa saat melihatku. Aku bukan Azel," jawab Axel.


Alica tahu maksud ucapan Axel, biasanya ia hanya akan tersenyum dan tertawa jika bersama Azel, saat ini jika bersama Axel dia tertawa tentu akan membuat Axel tidak nyaman. Tetapi Alica tahu benar jika senyumannya dan tawanya bukan karena terpaksa.


"Ya, kau menyebalkan. Kau juga jahat dan dingin, aku tidak suka padamu." kata Alica menggoda Axel.


Mendengar ucapan Alica, senyuman Axel mengembang. Axel menutup matanya dan merasakan hembusan angin yang menerpanya.


Kedua bersaudara itu saling diam pada akhirnya. Alica bermain ponsel, Alica mencoba mengambil beberapa foto langit malam yang berbintang. Alica mengarahkan kamera ponselnya ke arah Axel, dan secara diam-diam Alica mengambil foto Axel yang sedang menutup mata di sampingnya.


"Dua kakakku memang tampan," puji Alica dalam hati sembari tersenyum menatap layar ponselnya.


Axel membuka mata dan menatap Alica, melihat Alica tersenyum membuat Axel penasaran ingin tahu apa yang membuat Alica tersenyum.


"Apa yang kau tertawakan?" tanya Axel mengejutkan Alica.


Tentu saja Alica kaget dan langsung menyembunyikan ponselnya di belakang punggungnya.


"Ahh, tidak ada apa-apa. Hahaha, aku hanya melihat chat dari temanku," jawab Alica berbohong.


"Aduh bagaimana ini, jangan sampai ketahuan. Tenang Alica, tenang," batin Alica gelisah.


"Oh, aku kira apa. Ayo kembali ke rumah, udara semakin dingin. Kau akan kena flu nanti," kata Axel.


"Wah kakakku ini perhatian sekali, terima kasih sudah perhatian." kata Alica.


"Jangan salah paham. Jika kau sakit aku yang akan disalahkan. Karena kau bersamaku," jawab Axel mencari alasan.


Axel berdiri, tiba-tiba saja Alica memegang tangan Axel dan memanggil Axel.


"Kak," panggil Alica.


Langkah kaki Axel terhenti, "Hm, ada apa?" tanya Axel dengan nada rendah.


"Hm, itu. Bolehkah aku meminta fotomu? aku ingin foto berdua denganmu," kata Alica.


Axel diam sejenak, tidak lama ia kembali duduk dan merangkul Alica. "Pose seperti ini? atau aku harus menarik rambut atau pipimu?" goda Axel.


"Dasar iblis," kata Alica terkekeh, "Baiklah, seperti ini saja. Ayo berfoto," imbuh Alica.


Alica mengarahkan kamera ponselnya untuk berfoto bersama Axel. Alica memasang senyum cantiknya, berbeda dengan adeknya Alica, Axel justru memasang wajah datar dengan aura dingin membuat wajah Axel terlihat berbeda di mata Alica.


"Wah, kau memang berbeda, Kak." kata Alica.


"Begitukah? aku rasa biasa saja, dan jangan kirim foto itu ke ponselku. Ayo cepat masuk ke dalam rumah," kata Axel yang berdiri dan melangkah perlahan menuju rumah.


Alica tersenyum, "Bilang saja mau fotonya, kenapa mulut dan hati berkata lain. Aku tak memahami hati pria," gumam Alica dalam hati, menatap kepergian Axel.


Tidak beberapa lama, Alica berdiri dari duduknya dan menyusul Axel untuk kembali masuk ke dalam rumah.