Axel Williams

Axel Williams
Bab 23.



Rowena melebarkan mata, ia langsung menadahkan kepala menatap Axel. Dan, betapa terlejutkan Rowena saat melihat Axel. Laki-laki yang berdiri di hadapannya adalah laki-laki yang bertemu dengannya saat makan siang. Tidak hanya Rowena, Axel pun juga sedikit terkejut melihat wajah Rowena.


"Oh, itu kau. Nona yang meneriakiku itu," kata Axel tersenyum seakan mengejek.


"Kau," gumam Rowena, "Kau laki-laki yang tidak tahu malu itu?" kata Rowena yang langsung berdiri.


"Tidak tahu malu? jaga kata-katamu, Nona. Kaulah yang tidak tahu malu. Bukankah kau yang menabrakku dulu?" kata Axel terlihat kesal.


"Kau mengataiku wanita rendahan, itu berarti kau tidak tahu malu. Bagaimana bisa seorang besar sepertimu bersikap seperti itu," kesal Rowena.


"Wanita ini, menyebalkan sekali. Bagaimana bisa aku harus bertemu wanita yang seperti ini," batin Axel.


"Lupakan saja dan pergilah," kata Axel yang melangkah melewati Rowena.


"Tunggu," kata Rowena menghentikan Axel.


Axel menghentikan langkah dan berbalik menghadap Rowena. Axel diam, Rowena juga diam. Suasana menjadi sangat canggung.


"Abaikan soal sikapku yang tadi. Mari kita bicarkaan soal perusahaan. Apa yang kau inginkan?" kata Rowena ragu-ragu.


"Apa yang bisa kau lakukan?" tanya Axel menatap Rowena dengan tatapan mata yang tajam.


Rowena melebarkan mata menatap Axel, "Aku, aku akan lakukan apa saja demi Kakakku. Apa yang kau inginkan?" tanya Rowena lagi.


Axel tersenyum, "Kau sangat menyayangi Kakakmu? jadi artinya, kau bersedia lakukan apa saja dan mau berikan apa saja untukku?" tanya Axel.


Rowena menganggukan kepala perlahan, "Ya, aku akan lakukan apa saja dan berikan apa saja jika itu diharuskan untuk bisa mendapatkan perusahaan kami kembali." jelas Rowena bertekad bulat.


"Baiklah, jika itu kemauanmu. Aku mau kau!" kata Axel dingin.


Rowena kaget, "Apa? kau bilang apa?" Rowena melebarkan mata.


"Aku mau kau. Tukar dirimu dengan perusahaan," ucap Axel.


"Aku tidak menjual diri," jawab Rowena dingin.


"Menjual diri? kau berpikir jauh, Nona. Kau mengira apa? kau akan jadi wanita simpananku begitu? Hahh..." dengus Axel.


Rowena mengernyitkan dahi, "Jadi maksudnya? bukankah kau memintaku, tubuhku? yang artinya aku harus melayanimu, tidur denganmu, bukan begitu?" tanya Rowena kebingungan.


Axel mendekati Rowena, "pikiranmu sungguh liar, Nona. Aku meminta kau, tubuhmu, untuk bekerja sebagai pelayan rumahku. Siapa yang tertarik dengan dada rata sepertimu," kata Axel mengejek.


"Kau mengejekku lagi," kesal Rowena.


"Satu tahun. Bekerjalah selama satu tahun," kata Axel.


"Tidak, enam bulan. Aku tidak mau bekerja dengan Tuan sombong sepertimu," jawab Rowena.


"Kau berani menawar?" kata Axel menyernyitkan dahi.


"Kenapa tidak, ini sama dengan kerja sama. Aku bekerja tanpa upah, tentu aku tidak akan rela jika pekerjaan itu membebaniku." jawab Rowena.


"Wanita ini pintar juga," batin Axel.


"Baiklah, tujuh bulan. Ini kesepakatan terakhir, tidak ada penawaran lagi. Jika ya, aku akan siapakan kontraknya, jika tidak silakan pergi." tegas Axel memberikan keputusan terakhirnya.


Rowena diam sesaat, ia mencoba berpikir kembali. Rowena tidak ingin mengambil keputusan yang merugikannya. Namun, ia juga tidak ingin Kakaknya mengalami kesulitan. Rowena berpikir sembari menatap Axel yang juga sedang menatapnya.


Setelah berpikir beberapa saat, Rowena akhirnya bicara. "Baiklah, aku setuju."


"Hm, aku akan buatkan kontrak kerjasama kita." kata Axel.


"Tapi, boleh aku ajukan satu pertanyaan?" tanya Rowena.


"Katakan, apa itu?" jawab Axel.


Axel memasukan dua tangannya ke saku celana, "Kau tidak percaya padaku? kau kembali mencurigaiku?" kata Axel.


"Ya, aku tidak ingin dirugikan. Aku butuh kepastian," tegas Rowena.


"Wanita ini, lagi-lagi mmebuatku terkejut. Sekuat apa kau?" batin Axel menatap Rowena.


"Kau diam saja? pikiranku benar kan? kau, jangan katakan kau ingin aku bekerja dulu selama enam bulan baru kau kembalikan perusahaan. Aku tidak mau seperti itu," kata Rowena lagi.


Axel melebarkan mata, "apa?" kata Axel kaget.


"Jika aku sudah siap jadi pelayanmu, kau juga harus siap melepas perusahaan. Kau sudah mendapatkanku sebagai jaminan, aku minta kau kembalikan perusahan pada Kakakku," ucap Rowena.


Rowena benar-benar tidak ingin dirugikan. Dengan mengumpulkan keberanian besar, ia mencoba membuat kesepakatan dengan Axel.


"Kau lagi-lagi salah paham padaku. Aku bukan orang yang tidak akan tepati janji. Jika kau bersedia bekerja padaku, tentu aku akan lepaskan perusahanmu. Untuk apa aku harus menahannya lagi?" jawab Axel. Axel mengambil selembar kertas dan pena lalu diberikan pada Rowena, "ambil ini dan tulis apa yang ingin kau dapatkan. Sebagai contoh, kau ingin bebas berkeliaran malam. Atau apa saja," kata Axel.


Rowena menerima kertas dan pena pemberian Axel, "Oke" jawab Rowena.


Rowena langsung berjalan mendekati sofa dan duduk. Ia menulis keinginanya sesuai permintaan Axel. Axel mengikuti Rowena, menunggu Rowena sampai selesai menulis.


Beberapa saat kemudian, Rowena selesai menulis. Kertas dan pena langsung diberikan kembali pada Axel. Axel menerima, ia melirik ke arah Rowena yang terlihat tenang, lalu membaca apa yang ditulis Rowena.



Dilarang mencampuri urusan pribadi


Dilarang bersentuhan dan berbicara seperlunya saja


Jam bekerja pagi pukul tujuh sampai siang pukul sebelas, dan akan dilanjutkan pukul dua siang sampai enam sore. Malam tidak ingin bekerja apapun alasannya


Tidak perlu gaji, cukup beri aku makan tiga kali sehari dan kau tidak boleh mengusik perusahaan


Tidak boleh mengejek dan memancing emosi



Axel terkejut dan tertawa dalam hati, "Apa ini? sungguh kekanak-kanakan. Aku akan tanya beberapa hal padanya," batin Axel.


"Jadi ini yang kau inginkan?" tanya Axel.


"Ya," jawab Rowena.


"Tunggu, kenapa kau bekerja mulai pukul tujuh? Bagaimana sarapanku? kau mau tidur dan bermalas-malasan?" tanya Axel.


"Butuh waktu dari rumahku ke rumahmu, aku tidak bisa lebih pagi dari pukul tujuh." jawab Rowena menjelaskan.


Axel mengernyitkan dahi, "Tinggal di rumahku," kata Axel menatap Rowena.


"Apa? aku tidak mau," tolak Rowena.


"Terserah kau, aku menolak kau bekerja pukul tujuh pagi. Aku harus sarapan pukul tujuh lebih tiga puluh dan berangkat bekerja pukul tujuh. Kau harus bisa jadi seorang yang profesional," kata Axel.


Rowena kesal, "Kau jangan keterlaluan, Tuan Williams. Aku tidak akan tinggal serumah denganmu," geram Rowena.


"Terserah, jika kau menolak kesepakatan kita batal. Silakan angkat kaki dari ruanganku," kata Axel dingin.


"Kau ..." Rowena menghentikan ucapannya.


"Pria ini sungguh menyiksaku. Astaga, aku akan gila. Menyebalkan," batin Rowena menggerutu.


Rowena kembali mengingat masalah perusahannya. Kali ini tidak ada pilihan selain patuh dan mengikuti apa yang diinginkan Axel. Axel meletakan kertas di atas meja dan melipat dua tangan di dadanya dengan menatap Rowena.