
Sudah lebih dari lima menit, dan akhirnya Rowena selesai mengeringkan rambut Axel. Rowena marapikan rambut Axel, menyisirnya dengan jari.
"Sudah," kata Rowena.
"Inginkan sesuatu? jika tidak aku akan pergi," kata Rowena.
"Tidak ada," jawab singkat Axel.
"Baiklah jika seperti itu. Tidurlah, aku keluar dulu." kata Rowena.
Rowena mengambil selimut dan alas kasur yang kotor untuk dibawa keluar. Sedangkan Axel menaikan dua kakinya ke atas tempat tidur dan masuk ke dalam selimut, lalu berbaring.
***
Hari terang berganti, kini langit sudah menjadi gelap gulita. Rowena sudah memasak makan malam, ia juga memasak bubur untuk Axel. Rowena merasa keadaan Axel sedang tidak dalam keadaan yang baik-baik saja.
"Apa dia sudah bangun, ya?" gumam Rowena. "Aku lebih baik melihatnya," ucapnya sembari melangkah menuju kamar Axel.
Rowena sampai di depan kamar Axel, ia mengetuk pintu kamar tidur Axel perlahan lalu membuka pintu dengan hati-hati. Rowena mengintip, ia melihat sekeliling, dirasakannya suasana yang hening. Ia pun segera masuk dan menutup pintu, kakinya berjalan perlahan mendekati Axel yang berbaring di tempat tidur berbalut selimut.
Rowena duduk di tepi tempat tidur, "Axel, kau tidak bangun? ini sudah malam," kata Rowena. Ia mencoba membangunkan Axel yang masih terlelap tidur.
Axel masih diam, Rowena melihat wajah Axel yang pucat dan kembali menyentuh dahi Axel.
"Oh tidak. Suhunya tinggi sekali," kata Rowena terkejut, ia pun panik dan cemas.
Rowena berusaha membangunkan Axel, ia takut jika terjadi sesuatu pada Axel.
"Axel, bangun." panggil Rowena.
"Axel, ayo bangun. Axel ..." panggil Rowena menepuk perlahan wajah Axel.
"Axel ..." panggil Rowena lagi.
"Kau baik-baik saja kan? apa kau mendengarku?" kata Rowena mulai khawatir karena Axel hanya terus diam tidak bicara ataupun menjawab panggilannya.
"Hukk, uhukk," suara batuk Axel, Axel membuka matanya perlahan. Matanya sayu dan berkaca-kaca. Tubuhnya terasa tidak nyaman.
"Jangan berteriak," ucap Axel lemas. Suaranya kecil hampir tidak terdengar.
"Aku dengar, aku tidak tuli sampai tidak bisa mendengarmu memanggilku." lanjutnya.
"Kau sudah bangun? ah, syukurlah. Aku senang kau akhirnya menjawab panggilanku." ungkap Rowena lega.
"Aku hanya tidur. Aku masih hidup dan bernapas, kenapa kau sepanik itu?" kata Axel.
"Aku hanya khawatir, kau tidak juga bangun setelah aku panggil." kata Rowena menjelaskan.
"Ambilkan aku minum, aku haus," kata Axel memerintah Rowena.
"Aku bantu bangun, supaya kau bisa minum." kata Rowena yang langsung membantu Axel bangun dan duduk bersandar bantal.
Rowena baru saja membantu Axel bangun dari berbaring dan langsung bergegas mengambilkan air minum yang ada di nakas di samping tempat tidur.
"Minum perlahan," kata Rowena memberikan gelas berisi air putih pada Axel.
Axel meneguk habis air putih di dalam gelas dengan sekali tegukan. "Berikan lagi," kata Axel meminta.
Rowena segera mengambil gelas dari tangan Axel dan mengisi kembali gelas sampai setengah penuh. Lalu diberikan lagi pada Axel.
"Ini," kata Rowena, memberikan gelas berisi air putih pada Axel.
Axel kembali menerima gelas dan langsung meminum dengan cepat, dengan sekali teguk ia sudah mengosongkan gelasnya.
Axel menggeleng, " Aku baik-baik saja. Aku tidak apa-apa," kata Axel menolak ajakan Rowena.
"Baik apa? tidak apa-apa? kau seperti ini mana bisa diperaya jika kau baik-baik saja?" jawab Rowena.
"Cerewet sekali," ejek Axel.
"Bagimana tidak cerewet jika kau seperti ini," jawab Rowena.
"Apa kau memasak? aku lapar," kata Axel.
"Itu, aku memasak bubur untukmu. Tidak tahu bagaimana rasanya," jawab Rowena.
Axel tersenyum, "Belajarlah memasak perlahan. Jika aku sakit atau aku tidak di rumah, bagaimana bisa kau mengisi perutmu yang luas itu. Sering-sering makan, makanan dari luar juga tidak bagus." kata Axel.
"Iya aku mengerti, aku akan banyak belajar." jawab Rowena.
"Ayo," ajak Axel.
Rowena menatap Axel, "Ayo? ke mana?" tanya Rowena bingung.
"Ayo ke meja makan. Aku lapar ingin makan." jawab Axel.
"Apakah kau bisa bangun? tunggulah di sini saja, akan aku ambilkan buburnya. Sebentar," kata Rowena yang melatakan gelas di nakas dan segera pergi untuk mengambil bubur di dapur.
Beberapa saat kemudian, Rowena datang dengan membawa bubur bersamanya. Ia kembali duduk di samping Axel, Rowena mengaduk bubur dan hendak menyuapi Axel.
"Buka mulutmu," kata Rowena.
"Kau tidak menambahkan racun, kan?" tanya Axel.
"Bagaimana kau tau aku menambahkan racun? bukankah ini kesempatanmu untuk membunuhmu?" goda Rowena.
Rowena menyendok bubur dan mendekatkan ke mulut Axel. Axel membuka mukut perlahan dan memakan bubur. Axel diam beberapa saat, hal itu membuat Rowena penasaran. Ia tahu dirinya tidak pandai memasak. Meski begitu ia ingin memberikan pelayanan terbaik untuk majikannya.
"Kenapa? apakah rasanya tidak enak?" tanya Rowena.
Axel mengernyitkan dahi, "Rasanya asin," kata Axel menggoda Rowena.
Rowena melebarkan mata, "Sungguh? aku rasa tidak, aku tadi sempat cicipi. Dan aku rasakan rasanya lumayan," jawab Rowena.
Rowena menyendok dan mencicipi bubur buatannya. Rowena mengecap dan menimang-nimang rasa bubur buatannya.
"Asin apa, ini biasa saja. Apa lidahmu?" kata Rowena.
Axel tertawa kecil, "Kau ini, aku hanya bicara saja, untuk apa kau anggap serius. Buburmu rasanya sangat enak. Ayo suapi aku lagi," kata Axel.
Rowena menatap tajam arah Axel, "Berani sekali kau mempermainkanku, huh? apakah kau bosan hidup?" kesal Rowena.
"Begitu saja sudah kesal. Jangan terus mengomel, kau terlihat jelek. Jika kau jelek, pria mana yang akan mau bersamamu?" bujuk Axel.
"Siapa bilang tidak ada, bukankah kau juga pria? kau tinggal bersamaku bukan?" jawab Rowena tanpa banyak berpikir.
Axel terdiam, begitu juga Rowena. Rowena sadar akan ucapannya dan merasa canggung.
"Itu, itu. Maksudku bukan ingin ..." kata Rowena terputus.
"Tidak apa. Ucapanmu benar," jawab Axel, "Berikan, aku akan makan sendiri buburnya." kata Axel.
Axel mengambil mangkuk berisi bubur dari tangan Rowena. Tanpa banyak membuang waktu, Axel langsung menghabiskan bubur buatan Rowena dengan lahap. Axel membersihkan mangkuk bubur sampai mengkilat. Rowena merasa senang, meski masakannya tidak seenak buatan Axel. Namun, ia telah berusaha yang terbaik, membuat bubur spesial untuk Axel. Membuat bubur adalah hal pertama yang dilakukan Rowena. Karena saat ia berada di rumahnya, semua keperluan dan lain-lain, dikerjakan oleh pelayan.
Setelah selesai makan, Rowena membantu menyeka Axel. Rowena juga membantu Axel berganti pakaian. Rowena terlihat tanpa beban, saat ia harus merawat Axel yang sedang sakit. Meski Axel adalah orang yang dingin dan menyebalkan. Baginya, ia adalah satu-satunya orang yang mau mendengar keluh kesahnya meski hanya dengan menjawab 'Ya' dan 'Hmm". Sebagai pelayan yang baik, ia ingim tuannya selalu sehat dan bahagia. Begitu juga doanya kepada seluruh keluarga dan teman-temannya.