Axel Williams

Axel Williams
Bab 42.



Mendapat jejak di lehernya, membuat Axel keget. Ia melebarkan matanya, perasaan tidak nyaman dirasakan Axel. Wajahnya memerah, suhu tubuhnya langsung meningkat. Jantungnya juga berdegup kencang. Ada perasaan yang tidak bisa diungkapkan.


"Kau membuat kesalahan, Nona. Kau memancingku? maka aku tidak akan sungkan lagi padamu," bisik Axel di telinga Rowena.


Axel membalas perlakuan Rowena, ia juga menghembuskan napas hangatnya di telinga Rowena. Digigitnya lembut daun telinga Rowena dan dihisapnya seperti menghisap permen. Ini pertama kalinya Axel bersikap gila kepada seorang wanita. Juga pertama kalinya ia melakukan hal-hal yang tidak pernah ia lakukan. Sebagai seorang pria normal, ia juga bisa merasakan rasanya nafsu dan bergairah.


"Ssshhh ..." desis Rowena.


"Sial! Wanita ini malah mendesis dengan suara yang sangat menggoda. Bagaimana ini? niatanku hanya untuk memberinya pelajaran, tetapi aku seperti tersihir oleh cumbuanku sendiri. Bagimana ini?" batin Axel.


Rowena mengusap dan meraba-raba bahu lalu pindah ke dada bidang Axel. Dengan deru napas yang memburu, tangan Rowena menggerayangi tubuh kekar Axel.


"Kau jangan menggodaku lagi, Rowena. Jangan sampai aku membuatmu terua berteriak nantinya," kata Axel.


Melihat leher jenjang Rowena, membuat Axel tergiur. Axel pun mendekat dan menciumi leher Rowena. Merangkul erat pinggang Rowena.


"Axel ..." panggil Rowena dengan suara serak.


"Umh, hhhh, shhhh ..." desis Rowena.


Rowena mengeluarkan erangan yang terdengar seksi oleh telinga Axel. Rowena menjadi semakin agresif, ia meremas rambut belakang Axel. Tentu saja, hal itu membuat Axel kelabakan. Ia tidak tahu lagi harus melakukan apa dan bagimana.


***


Merasakan Rowena di luar kendali, Axel serius ingin mengakhiri semuanya. Ia pun memberontak, dipaksanya tubuhnya sendiri melawan Rowena. Axel memegang dua tangan Rowena dan menyatukannya, lalu dicengkram oleh satu tangan kiri Axel.


Axel menatap Rowena, Rowena menatap Axel dengan tatapan mata yang sayu, ia tidak melawan Axel.


"Jangan membangunkan singa yang sedang tidur. Jika tidak, kau akan tau akibatnya," kata Axel.


Rowena tersenyum, ia mengangkat kepalanya dan mengecup bibir Axel. Beberapa kali Rowena melakukan itu, membuat Axel terkejut.


"Rowe ..." kata-kata Axel terputus, karen Rowena mengecupnya.


"Cu ..." lagi-lagi Rowena mengecup Axel.


"Hei," panggil Axel mulai emosi.


Rowena tidak menghiraulan dan terus saja melakukan hal yang dinilainya menyenangkan. Rowena hanya sesekali tersenyum dan mengecup Axel. Sampai akhirnya satu tangan Axel membungkam bibir Rowena agar tidak sembarangan menciumnya lagi.


"Cukup Rowena! kau ini sunguh," ucapan Axel terhenti, ia merasakan sesuatu. Telapak tangannya dijilat oleh Rowena.


Axel melebarkan mata dan langsung melepaskan tangannya. Axel melihat telapak tangannya basah, Axel pun kembali menatap Rowena.


"Kau mengotori tanganku. Berani sekali kau menjilatnya. Lihat, apa yang akan kau terima sebagai hukuman." kata Axel menahan kekesalan.


Axel mendekat dan mendaratkan sebuah kecupan di dada Rowena. Pakaian Rowena memiliki belahan dada yang rendah sehingga bisa mengekspos belahannya. Kecupan Axel berlanjut sampai leher dan dagu Rowena.


Kecupan Axel membuat Rowena mendesis. Tidak hanya bibir yang bergetar, tetapi tubuh Rowena pun ikut bergetar. Rowena merasa tidak nyaman, suhu tubuhnya meningkat.


Tatapan mata Axel kembali pada Rowena. Dilihatnya bibir merah milik Rowena, bibir itu begitu menggodanya.


Perlahan-lahan, Axel mendekatkan bibirnya ke bibir Rowena. Bibir keduanya bersentuhan, Axel mencium lembut bibir Rowena. Tidak lama kemudian, Axel pun melapas tangan Rowena dari cengkramannya. Tentu saja, Rowena yang merasakan sensasi langsung menyambut ciuman dan cumbuan Axel. Di pelukanya Axel dan dibalasnya ciuman Axel. Keduanya melakukan ciuman panas malam itu.


Ciuman pun terlepas, Axel mengusap lembut pipi Rowena dengan jemarinya. Axel tersenyum, tangannya bermain di hidung mancung milik Rowena. Dikecupnya kening Rowena, kedua kelopak mata Rowena, kedua pipi Rowena, hidung Rowena dan dagu Rowena. Tangannya mencengkram dan mengusap lembut lengan tangan Rowena. Axel kembali mencium kilas bibir wanita yang ada di hadapannya itu.


"Hukumannya cukup sampai di sini. Sayang sekali, aku bukan pria yang suka memanfaatkan kelemahan wanita. Jika kau dalam keadaan sadar, aku pasti sudah melakukannya. Kau wanita pembuat ulah," gumam Axel.


Axel mencium kembali pipi Rowena, ia melepas pelukan Rowena dan berdiri dari menindih Rowena. Axel menarik selimut sampai menutupi leher Rowena. Axel pun pergi meninggalkan Rowena yang terlelap tidur. Ia bergegas menuju kamarnya untuk segera mendinginkan kepala. Setelah masuk dalam kamar, Axel langsung membuka seluruh kancing kemajanya dan menanggalkan kemejanya. Ia lalu masuk dalam kamar mandi, untuk mandi.


***


Pintu kamar mandi terbuka, Axel berjalan keluar dari kamar mandi menuju tempat tidurnya. Tangannya sibuk mengeringkan rambutnya yang basah.


"Ah, aku harus susah payah mengeringkan rambut lagi. Semua karena Rowena," keluh Axel.


Axel duduk dan terus mengusap kepalanya dengan handuk kecil. Ingatannya terbayang akan apa yang ia lakukan pada Rowena beberapa saat yang lalu. Tanpa sadar Axel menyentuh bibirnya dan melamun. Bayangan itu tergambar jelas, Axel masih tidak bisa melupakan bagaimana sensasi ia berciuman dengan Rowena sampai gairahnya untuk bercinta benar-benar timbul.


Sesaat kemudian lamunannya terhenti. Axel mengusap wajahnya diiringi ******* napas panjang yang keluar dari bibirnya. Ia merasa gila, merasa bodoh, bagaimana seorang Axel Williams bisa tergoda untuk mencumbui seorang wanita, terlebih seseorang seperti Rowena yang terkesan mengesalkan di mata Axel.


"Bodoh,bagaimana aku bisa terpancing dan tergoda untuk melakukan itu. Bisa-bisanya pikiranku sekotor ini. Aku tidak bisa lagi membuat kesalahan. Ya, sepertinya aku harus menjaga jarak dari wanita itu. Harus," ucap Axel bertekad. Ia tidak ingin kejadian sama terulang kembali.


Axel melempar handuknya ke sofa, ia meraba rambuntanya, setelah dirasa-rasa rambutnya sudah mulai mengering. Ia pun langsung membaringkan tubuhnya ke atas tempat tidur. Posisinya asal, Axel terlalu malas mengubah posisinya.


Ia mengedepikan-kedipkan mata menatap langit-langit kamarnya. Ia tidak tahu apakah ia harus senang, atau justru merasa bersalah atas tindakan bodohnya malam itu. Perlahan mata Axel terpejam, ia pun terlelap tidur tidak lama kemudian.


Kilas balik berakhir*


****


Rowena sangat malu. Ia seakan tidak sanggup lagi mengangkat kepala menatap Axel. Ia juga merasa bersalah, tidak menyangka akan berulah di saat ia hilang kesadaran.


Axel dan Rowena sarapan bersama. Tidak ada suara, suasana hening. Hanya ada suara garpu dan sendok yang saling beradu di atas piring. Rowena mencuri-curi pandang melirik Axel. Ia pun akhirnya membuka suara dan meminta maaf pada Axel.


"Maaf," kata Rowena lirih.


"Apa? kau bicara apa? angkat kepalamu dan tatap mata lawan bicaramu," kata Axel.


Rowena menggelengkan kepala perlahan,"Aku malu," jawab Rowena.


Axel mengehela napas, "Haahh ..." ia pun meletakan garpu dan sendok yang dipegangnya ke atas piring, "Rowena, dengarkan aku. Tidak perlu kau bersikap seperti ini. Maafkan aku juga, aku tidak bermaksud membuatmu seperti ini. Aku seharusnya tidak bicara apa-apa." kata Axel yang juga merasa bersalah. Bagaimanapun, Axel juga sudah melakukan kesalahan dan mengambil keuntungan.


"Kenapa? kenapa kau minta maaf? yang liar kan aku, bukan kau." kata Rowena yang langsung menatap dalam mata Axel.