
"A-aku hanya asal bicara saja. Lupakan saja," jawab Axel.
"Baiklah," jawab Rowena sedikit kecewa.
"Apa yang aku kau katakan, bodoh! mulutmu ini asal saja bicara," batin Axel mengumpat diri sendiri.
"Pria ini memang berkepribadian aneh. Sebentar lembut, sebentar jahat, sebentar marah-marah. Bisa bermulut manis juga. Apa iya aku bisa bertahan?" batin Rowena.
Setelah menempuh kurang lebih tiga puluh menit perjalanan, mereka pun sampai ditujuan. Jalanan sedikit sepi, sehingga perjalanan tidak memakan waktu lama.
"Sudah sampai," kata Axel.
"Oh, iya. Terima kasih sudah mau mengantar. Jaga dirimu baik-baik saat aku tidak bersamamu. Dan ... jangan rindu padaku, " goda Rowena tersenyum.
"Selamat menikmati hari liburmu. Bisa saja untuk selanjutnya kau tak diizinkan pergi dari rumahku," kata Axel.
"Hati-hati mengemudi, sampai jumpa minggu depan, Tuanku." kata Rowena tersenyum.
Axel hanya tersenyum tipis. Rowena keluar dari dalam mobil dan langsung berlari masuk dalam rumahnya. Axel pun kembali melanjutkan perjalanannya.
***
Rowena masuk dalam rumah dan berteriak memanggil Ricardo.
"Kak," panggil Rowena.
"Kak, Kakak, aku pulang." Panggil Rowena lagi.
"Hallo, Kak. Kakak," panggil Rowena lagi.
Ricardo keluar dari kamarnya, "Selamat datang," sambut Ricardo merentangan tangan siap memeluk Rowena, adiknya.
Rowena berlari memeluk Ricardo, "Kak, aku merindukanmu." kata Rowena senang.
"Aku juga rindu padamu," jawab Ricardo mengeratkan pelukannya.
Ricardo melepas pelukan dan mencium kening Rowena. Ricardo melihat wajah, dan anggota tubuh Rowena dari atas sampai bawah.
"Kau baik-baik saja? apa pria itu baik kepadamu?" tanya Ricardo.
Rowena mengangguk, "Ya, dia sangat baik, Kak. Kau pasti tidak percaya, kan?" jawab Rowena.
"Entahlah, aku juga merasa dia sedikit punya sisi baik. Yah, mungkin hanya berlagak kejam dan dingin, seperti itulah kira-kira." sahut Ricardo.
"Kau ini, jangan sampai ucapanmu di dengar olehnya. Dia pasti akan mengeluarkan dua tanduknya tanpa diduga," kata Rowena tertawa kecil.
"Baiklah-baiklah, lupakan dulu dia. Aku akan mengajakmu ke suatu tempat, kita akan berjalan-jalan sembari menikmati matahari terbenam. Kau mau?" ajak Ricardo.
"Mau, mau," sahut Rowena girang, "Kapan kita berangkat? apakah sekarang?" tanya Rowena.
"Iya, tunggu sebentar. Aku ambil kunci mobil dulu," kata Ricardo.
Rowena mengangguk, tanda mengiyakan ucapan Ricardo. Ricardo masuk dalam ruang kerjanya dan tidak lama keluar, ia hanya mengambil mantel dan kunci mobil lalu segera kembali menemui Rowena.
"Ayo," ajak Ricardo menggandeng tangan Rowena.
"Hm," jawab Rowena menyambut tangan Kakanya itu.
Keduanya berjalan keluar rumah dan segera masuk dalam mobil. Mobil pun melesat pergi meninggalkan rumah, untuk pergi ke tempat tujuan.
***
Malam harinya. Usai menikmati indahnya matahari terbenam. Ricardo mengajak Rowena menuju pusat perbelanjaan sederhana menyerupai pasar, yang hanya buka saat malam hari. Di sana menjual berbagai jenis makanan, cemilan dan barang kebutuhan lainnya.
"Ramai sekali," gumam Rowena melihat sekeliling.
"Kau ingin makan apa? kentang goreng, atau burger, ada hot dog juga," tawar Ricardo.
"Ah, aku ingin makan sosis saja. Lihat itu, Kak. Terlihat lezat kan?" ucap Rowena menunjuk sebuah gerai mini yang menjual sosis panggang.
Ricardo menuruti permintaan adiknya, ia segera mengikuti langkah kaki Rowena yang sudah lebih dulu melangkah menuju gerai tersebut.
Rowena dan Ricardo terlihat menunggu penjual memanggang sosis yang mereka pesan. Tidak perlu waktu lama, pesanan mereka akhirnya matang dan siap untuk dinikmati, saat Ricardo ingin mengeluarkan dompet dari saku mantelnya hendak membayar, ia tidak menemukan dompetnya. Ricardo kebingungan, mencari dompetnya.
"Ada apa?" tanya Rowena menatap Ricardo.
"Aku kehilangan dompetku," jawab Ricardo melihat kiri kanan mencari dompetnya.
"Oh, tunggu. Aku saja yang bayar, setelah ini kita cari perlahan," kata Rowena.
"Kau simpan di mana, Kak?" tanya Rowena.
"Dalam saku mantelku. Kita bahkan baru sampai dan baru ingin membeli makanan, bagaimana bisa hilang," gumam Ricardo terlihat cemas.
"Pelan-pelan kita cari. Mungkin saja terjatuh," kata Rowena.
Saat Rowena dan Ricardo sibuk mencari, seseorang datang menghampiri dan bertanya pada kedunya.
"Apa kalian mencari dompet?" tanyanya.
Rowena juga Ricardo bersamaan menatap seseorang itu. Ricardo melihat seseorang itu memegang dompetnya.
"Iya, itu dompetku." kata Ricardo.
"Ini, ambillah." jawab wanita yang berdiri di hadapan Ricardo dan Rowena.
Ricardo mengambil dompetnya dari wanita asing itu. Rowena melihat wanita asing itu begitu cantik, namun memiliki aura yang tidak biasa.
"Terima kasih," kata Ricardo.
"Ya, berhati-hatilah lain kali." ucap wanita itu memperingatkan.
Wanita asing itupun pergi begitu saja. Namun langsung dicegah oleh Ricardo. Ricardo merasa tidak enak hatu melihat seseorang yang sudah menemukan dompetnya pergi begitu saja.
"Nona," panggil Ricardo menghadang jalan wanita tersebut. "Maaf, bagaimana caraku berterima kasih padamu? ingin aku traktir sesuatu?" tawar Ricardo.
"Tidak," jawabnya singkat dengan tatapan mata yang tajam menatap Ricardo.
Melihat itu Rowena ikut membantu Ricardo bicara. Rowena berjalan mendekati Ricardo dan wanita misterius itu.
"Maafkan Kakakku jika tidak sopan, Nona. Kami hanya bermaksud baik untuk membalas budi atas bantuanmu." kata Rowena ramah.
Wanita itu diam, ia melihat sekilas arah Rowena. Namun, kembali melihat arah lain.
"Hai, aku Rowena. Siapa nama Anda, Nona?" tanya Rowena memperkenalkan diri.
"Moon," kata wanita itu singkat.
"Mo-Moon?" ulang Rowena memastikan.
"Maaf, aku sudah ditunggu orangtuaku. Kalian harus selalu berhati-hati. Kejahatan tidak melihat tempat dan korban," katanya memperingatkan dan langsung pergi meninggalkan Ricardo dan Rowena.
Rowena tertegun sesaat. Ia menatapi kepergian wanita misterius itu bersamaan dengan Ricardo.
"Wanita itu aneh sekali," kata Rowena.
"Ya, dia dingin dan misterius. Tapi, syukurlah dompetku akhirnya ditemukan." sahut Ricardo.
"Kita kurang hati-hati, Kak. Ayo kita pulang saja," ajak Rowena.
"Kenapa pulang? tidak ingin berjalan-jalan lagi?" tanya Ricardo.
Rowena menggeleng, "Tidak. ayo pulang dan lekas makan malam." ajak Rowena.
Suasana hatinya berubah setelah bertemu sosok wanita misterius yang mengembalikan dompet Kakaknya.
"Baiklah jika itu kemauanmu. Ayo," kata Ricardo mengiyakan permintaan adiknya.
***
Seorang wanita yang baru saja datang itu langsung duduk di samping pria paru baya yang tidak lain adalah ayahnya.
"Hei, kau sudah kembali, sayang?" tanya seseorang di hadapannya, yang tidak lain adalah Mamanya.
"Ya, Ma. Aku lelah setelah mengejar penjarah." katanya mengeluh pada Mamanya.
"Ada apa?" tanya Papanya.
"Ada seseorang yang berniat jahat. Ingin mencuri dompet seseorang," jelasnya menceritakan singkat.
"Kau tidak apa-apa?" tanya lagi Papanya terlihat khawatir.
"Aku baik-baik saja, Pa. Papa dan Mama sudah pesan apa saja? aku lapar," katanya menatap ke arah meja yang ada di hadapan mereka bertiga.
Sekeluarga itu terlihat menikmati makanan yang mereka pesan. Mereka makan bersama-sama sembari bercengkrama.