Axel Williams

Axel Williams
Bab 56.



Axel pun menganggukkan kepala tanda mengerti dan paham akan ucapan Flip.


"Jadi, Paman Flip hanya berdua saja dengan Filmoon?" tanya Axel memecah suasana yang canggung.


"Ya, hanya berdua saja. Bibimu sedang ada kegiatan bersama temannya." jawab Flip.


"Ah, begitu." sahut Axel.


Ingat akan tujuan awalnya, Flip pun berusaha menenangkan hatinya mengenai putrinya. Meyakinkan hatinya sendiri jika putrinya baik-baik saja. Flip pun mengajak Axel berbincang santai dengan topik pembicaraan yang ringan. Seperti apa kegiatan Axel sehari-hari, bagaimana pekerjaan dan apa saja kendala saat ia bekerja. Mengenai pengalaman kerja sampai hal-hal yang disukai Axel.


Flip lihai dalam memancing pembicaraan, ia mampu membuat Axel yang pendiam, perlahan bicara dan bercerita meski hanya cerita-cerita singkat.


***


Rowena menemui Filmoon di kamar mandi. Rowena masuk dalam kamar mandi, melihat Filmoon di depan cermin sedang sibuk membersihkan sisa-sisa darah yang menempel.


"Hai, kau tidak apa?" sapa Rowena mendekati Filmoon.


Filmoon memalingkan wajah menatap Rowena. Melihat Filmoon yang tidak asing, Rowena pun bertanya.


"Sepertinya kita pernah bertemu," tanya Rowena mengingat-ingat.


"Oh, benarkah? maaf, aku lupa. Aku tidak mengingat orang-orang yang aku temui," ucap Filmoon.


"Kau tak ingat?" kata Rowena.


Filmoon menggeleng, "Aku hanya akan mengingat orang-orang tertentu saja. Atau orang yang sering bertemu denganku, jika hanya satu atau dua kali bertemu mungkin aku akan lupa," jelasnya.


Rowena kaget, "Aku ingat. Kau wanita yang menemukan dompet milik Kakakku. Ya, itu pasti kau," ucap Rowena kegirangan.


Filmoon berpikir sejenak, ia kembali mengingat. Filmoon tidak dapat mengingat apa-apa, ia melupakan kejadian malam itu.


"Maaf, aku benar-benar lupa." ucap Filmoon sedikit kecewa karena tidak bisa mengingat.


"Cepat sekali kau lupa," gerutu Rowena. Ia menatap lekat-lekat wajah Filmoon di depanya.


"Lupakan dulu soal itu. Aku ke sini ingin melihatmu, bagaimana keadaanmu. Darahmu banyak keluar tadi." tanya Rowena.


Filmoon tersenyum, "Aku baik-baik saja. Tidak perlu cemaskan aku," jawab Filmoon.


"Syukurlah jika baik-baik saja. Aku hanya khawatir," sambung Rowena menghela napas lega.


"Ayo, aku sudah selesai membersihkannya." ajak Filmoon merasa tidak enak karena sampai harus disusul Rowena ke kamar mandi.


"Biar aku lihat dulu," pinta Rowena.


Rowena melangkah lebih dekat lagi pada Filmoon, ia lalu melihat dengan seksama hidung Filmoon. "Sudah tidak mengeluarkan darah, kan? Kau yakin sudah berhenti?" tanya Rowena masih khawatir.


"Tidak akan keluar lagi. Jangan cemas," jawab Filmoon.


Rowena hanya mengangguk, ia mencoba untuk percaya jika Filmoon baik-baik saja. Keduanya pun pergi kembali menemui Flip juga Axel.


***


Flip dan Axel selesai memesan. Axel memesan makanannya juga makanan Rowena. Begitu juga Flip yang memesan makanan siangnya juga makan siang putri kesayangannya. Selesai mencatat, pelayan pergi untuk menyerahkan pesanan ke bagian dapur.


"Jadi, kau sendiri yang berminat datang ke Inggris?" tanya Flip, mulai buka suara.


"Ya, jujur ini kesempatanku keluar dari rumah. Kapan lagi aku akan pergi," jawab santai Axel.


Axel menatap Flip, "Paman, boleh aku bertanya?" tanya Axel ragu-ragu.


Flip mengangguk, "Tentu saja boleh. Katakan, apa yang ingin kau tanyakan?" jawab Flip.


Karena penasaran akan pertanyaan apa yang akan diajukan Axel. Flip diam-diam menggunakan kekuatannya untuk membaca pikiran lawan bicaranya. Namun, hal mengejutkan dirasakan Flip saat mencoba mengorek isi pikiran Axel. Dilihatnya isi pikiran Axel yang buram, tanda jika ia tidak mampu menembus isi pikiran lawan bicaranya.


"Aku tidak bisa membaca apa yang Axel pikirkan. Sama seperti dulu, aku tidak bisa membaca pikiran Paman Brian. Kenapa bisa seperti ini, apa kemampuanku semakin menurun seiring berjalannya waktu?" batin Flip bertanya-tanya.


"Bisa ceritakan padaku, mengenai Papa dan Mamaku? maksudku aku ingin tahu cerita mereka dari orang lain, seperti Paman. Bukan dari mereka sendiri," jelas Axel mengutarakan keinginanya.


"Apa yang ingin kau ketahui, Axel?" tanya Flip lagi.


"Apakah Papaku adalah orang yang baik? Bagaimana dengan Mamaku, apakah Mama bahagia bersama Papa?" cecar Axel pada Flip. Ia sungguh-sungguh penasaran akan kisah masa lalu Papa dan Mamanya.


"Axel, dengarkan Paman. Bukannya Paman tidak mau menjawab. Hanya saja, Paman tidak bisa menceritakan beberapa hal yang menurut Paman terlalu pribadi seperti yang kau tanyakan sekarang. Tanyakan langsung pada Papa dan Mamamu untuk lebih baiknya. Namun, Paman akan ceritakan hal-hal yang memang harus kau ketahui," jelas Flip dengan tenang.


Axel diam sejenak, "Paman Flip bukan orang biasa. Ia tidak ingin mencetitakan hal-hal yang terlalu pribadi soal Papa dan Mama. Aku menajdi tertarik dengan sosoknya. Terlihat tenang dan tegas, juga terlihat berwibawa," batin Axel mengamati Flip diam-diam.


"Aku mengerti Paman. Baiklah, anggap saja aku tidak bertanya apa-apa tadi. Kita akan bahas yang lain saja," jawab Axel.


Rowena dan Filmoon kembali. Mereka langsung duduk di kursi masing-masing. Filmoon di samping Flip, dan Rowena di samping Axel.


"Kau baik-baik saja, sayang?" tanya Flip mengusap kepala Filmoon penuh kasih sayang.


Filmoon menganggukkan kepala perlahan, "Baik, Papa. Jangan khawatir," jawab Filmoon tersenyum.


Flip menghela napas lega, "Syukurlah, Papamu ini akan habis dimarahi oleh Mamamu jika sampai kau kenapa-kenapa." jawab Flip merasa lega.


Filmoon dan Rowena tersenyum, Flip adalah pria yang baik dan sangat sayang pada keluarga. Dibandingkan Flip, Naomi adalah sosok yang keras dan pemarah jika sudah menyangkut keluarga, terutama soal Filmoon.


Axel menatap Rowena, "Apa kau juga baik-baik saja?" bisik Axel di telinga Rowena.


Rowena menganggukkan kepala, "Ya, aku baik. Memangnya aku kenapa? tanya balik Rowena berbisik.


Axel mengernyitkan dahi menatapi Rowena. Hal sama dilakukan Rowena. Keduanya saling beradu tatapan beberapa detik.


Tidak lama, pelayan datang menyajikan hidangan makan siang yang sudah dipesan. Axel, Rowena, Flip dan Filmoon. Mereka semua langsung menikmati makan siang masing-masing dengan tenang.


***


Makan siang usai. Mereka masih tinggal sembari menikmati hidangan penutup.


"Apa rencanamu dilibur akhir bulan ini? Ingin pergi memancing bersama?" ajak Flip.


"Wah, memancing. Apakah bisa memanggang ikan?" sahut Rowena.


"Tentu saja, Mamaku paling bisa diandalan soal membuat ikan panggang yang lezat," jawab Filmoon menanggapi pertanyaan Rowena.


Melihat Rowena yang tertarik pergi, Axel akhirnya mengiyakan ajakan Flip untuk pergi memancing.


"Baiklah. Aku akan ikut saja. Aku juga butuh menghilangkan penat," jawab Axel.


Flip tersenyum, "Jangan terlalu keras bekerja. Nikmati masa mudamu," ucap Flip.


"Itu benar, Paman. Nenekku juga sering bicara seperti itu. Selagi muda harus banyak belajar, tetapi juga harus tahu bagaimana menikmati hidup. Agar saat usia mulai menua bisa banyak mempunyai kenangan yang indah." ucap Rowena menggebu.


"Benar sekali, Rowena." jawab Flip tersenyum.