Axel Williams

Axel Williams
Bab 44.



Axel menatap layar ponselnya, ia melihat fotonya bersama Alica yang terpasang sebagai gambar layar di ponselnya.


"Cerewet sekali," gumam Axel tersenyum tipis.


***


Rowena berbaring di ranjangnya memeluk bonekanya. Rowena memejamkan mata berusaha tidur, tetapi tidak kunjung bisa terlelap. Bahkan rasa kantuk pun tidak ada. Rowena gelisah, ia berguling-guling beberapa kali ke kiri dan ke kanan untuk mencari posisi yang nyaman.


"Kenapa tidak bisa tidur, ya?" keluh Rowena yang langsung bangun dan duduk dari posisi berbaring.


Rowena mengambil ponselnya di atas nakas. Dilihatnya pesan masuk, ia tidak mendapatkan pesan apapun dari Axel. Rowena mencari kontak Axel dan langsung menghubungi Axel.


Panggilannya terhubung, Rowena menunggu sampai panggilannya diterima Axel. Beberapa saat kemudian, ia mendengar suara Axel dari seberang telepon.


[Percakapan di telepon]


"Ada apa?" Jawab Axel.


"Hei, kau menyebalkan sekali. Belum apa-apa sudah seperti itu," gerutu Rowena.


"Apa yang salah? aku kan bertanya, ada apa? kenapa kau menghibungiku? apa jangan-jangan kau merindukanku?" iseng Axel mengatakan itu untuk menggoda Rowena.


"Ya, sepertinya aku mulai rindu. Aku tidak bisa tidur dan tidak mengantuk, bagaimana ini?" tanya Rowena lirih.


"Kau kenapa?" tanya Axel.


"Entahlah," jawab Rowena.


"Apa ada yang bisa aku bantu?" tanya Axel.


"Teruslah bicara. Ceritakan apa saja agar aku tertidur. Suaramu enak didengar," ucap Rowena.


"Aku tidak mau. Kau pikir aku pendongeng? kau bukan lagi anak-anak," ucap Axel.


"Pelit sekali. Bukankah itu hal yang mudah, kau bisa bercerita apa saja dan aku hanya mendengar tanpa berkomentar. Begitu saja apa susahnya," jelas Rowena masih kekeh meminta Axel untuk mendongeng.


"Keluarlah! aku ada di depan rumahmu sekarang. Waktumu hanya sepuluh detik dari sekarang. Aku akan mulai menghitung, satu, dua, tiga ..."


Axel mulai menghitung. Sedangkan Rowena buru-buru bangun dan berlari keluar dari kamarnya.


"Tunggu dulu," jawab Rowena dengan suara serak, Rowena sedang berlari keluar rumah.


"Delapan ..." suara Axel yang masih menghitung.


"Sembilan ..." ucap Axel lagi.


Tiba-tiba saja Rowena sudah ribut mengetuk kaca mobil Axel dan tidak lama masuk dalam mobil. Napas Rowena naik turun, ia harus berlari dari kamar keluar rumah dengan durasi waktu sepuluh detik.


"Sepuluh ..." kata Axel menyelesaikan hitungannya.


"Kenapa masih dihitung, aku sudah di sini. Ah, lelah sekali," keluh Rowena menyandarkan kepalanya.


"Aku kira kau tidak mau menemuiku," kata Axel tiba-tiba memecah keheningan.


"Seharusnya, entah kenapa aku tiba-tiba merasa takut kau pergi. Maka dari itu, saat kau katakan hanya memberiku waktu sepuluh detik, aku langsung berlari," jelas Rowena.


"Kenapa kau tak ingin aku pergi?" tanya Axel menatap Rowena.


"Aku tak bisa jawab. Karena kakiku yang ingin berlari ke sini," jawab Rowena.


Axel memberikan sebuah tas berisi makanan pada Rowena. Makanan itu adalah masakan yang dimasaknya saat hendak makan malam.


"Apa ini?" Tanya Rowena sembari membuka tas, "Wah, makanan," ucap Rowena senang.


"Simpan di lemari pendingin. Besok bisa kau panasi," kata Axel.


"Wah, terima kasih. Oh, kau dari mana?" tanya Rewena.


"Dari rumah," jawab Axel.


Axel diam tidak menjawab. Axel terlihat dalam keadaan tidak baik, wajahnya terlihat murung dan tidak bersemangat.


"Apakah kau ada masalah? ada apa?" tanya Rowena ragu-ragu.


"Ayo minum denganku," ajak Axel.


Rowena sedikit terkejut, "Minum?" ulang Rowena.


Axel mengangguk, "Aku ingin minum untuk saat ini," gumam Axel.


"Bagaimama bisa aku minum? kejadian sebelumnya saja sudah mebuatku malu," batin Rowena.


"Aku tidak bisa minum. Tapi aku bisa menemanimu, bagaimana?" tawar Rowena.


"Apa katamu saja. Tunjukan bar yang lumayan di sekitar sini," kata Axel.


"Tunggu, aku ganti baju dulu. Aku tidak mungkin menggunakan piama seperti ini kan? aku juga akan simpan ini dulu," kata Rowena mendekap tas berisikan masakan.


"Ya, aku akan tunggu. Lima menit cukup, kan? lebih dari itu aku tidak akan menunggumu," kata Axel.


"Kau selalu perhitungan dalam waktu, ya? mengesalkan sekali," jawab Rowena.


Rowena langsung keluar dari dalam mobil dan berlari kecil masuk dalam rumahnya. Axel menatap kosong jalan yang ada di depannya sesaat setelah menatap kepergian Rowena.Axel merasa dirinya butuh hiburan karena merasa penat.


Lama menunggu Rowena pun akhirnya kembali. Axel menatap Rowena saat melihat Rowena masuk ke dalam mobil.


"Ayo," ajak Rowena, "Kau jalan saja, aku akan pandu." lanjutnya bicara.


Axel mengikuti arahan Rowena tanpa berkomentar. Axel dan Rowena bersama pergi ke sebuah Bar milik teman Ricardo. Biasanya Ricardo datang ke Bar itu dan mengajak Rowena sesekali.


***


Dipandu oleh Rowena, akhirnya Axel dan Rowena sampai di bar. Mobil Axel berhenti di parkiran di depan gedung bar. Mata Axel melihat sekeliling, banyak berjajar mobil-mobil mewah di sana.


"Kau yakin ini tempatnya?" tanya Axel. Merasa ragu-ragu.


Rowena mengangguk, "Ya, sangat yakin. Ayo," ajak Rowena.


Ia segera membuka pintu mobil dan turun dari dalam mobil.


Melihat Rowena yang sudah keluar dari dalam mobi, Axel pun mengikuti. Ia juga keluar dari dalam mobil dan langsung menyusul Rowena. Keduanya berjalan bersama untuk masuk ke dalam bar. Rowena merangkul lengan Axel. Ia juga yang memandu jalan bagi Axel.


Sesampainya di dalam bar. Suasana bar begitu ramai. Banyak pengunjung yang datang ke bar itu. Axel dan Rowena melihat sekitar, mencari tempat untuk duduk.


Rowena tersenyum, "Ayo, Ax. Kita duduk di meja depan bartender saja. Kebetulan sekali, aku kenal bartendernya." kata Rowena, mengajak Axel. Ia langsung menarik tangan Axel agar ikut dengannya.


Axel diam, ia pasrah begitu saja ditarik-tarik oleh Rowena. Ia hanya berjalan mengikuti langkah kaki Rowena yang tidak tahu akan membawanya ke mana. Beberapa saat kemudian, langkah kakinya terhenti. Ia dan Rowena sudah ada di depan meja yang ada di hadapan seorang bartender.


Rowena duduk, "Hallo Erick. Bagaimana kabarmu?" Sapa Rowena pada Bartender di hadapannya. Ia pun langsung duduk.


Erick melihat Rowena, "Hai, sayangku Rowena. Oh, kau akhirnya mengunjungiku. Kabar baik. Kau bagaimana?" tanyanya tersenyum ramah pada Rowena.


"Baik juga," Jawab Rowena tersenyum cantik ke arah Erick.


"Ingin minum apa?" tanya Erick menatap Rowena.


Rowena menggeleng, "Aku tidak minum. Aku hanya menemani temanku saja." jawab Rowena. Ia melirik ke arah Axel, "Kau mau minum apa?" tanya Rowena.


"Apa saja," jawab Axel singkat.


Rowena menaikan sebelah alisnya, "Oke," jawab Rowena. Rowena mengalihkan pandangannya kepada Erick, "Apa saja yang kau rekomendasikan, Erick." kata Rowena yang kembali tersenyum.


"Baiklah, akan kubuatkan sesuatu yang istimewa untuk temanmu." jawab Erick.


Suasana yang ramai, ditambah alunan music yang bergema memenuhi seluruh ruangan. Tidak membuat hati dan pikirkan Axel merasa lebih baik. Axel masih memikirkan sesuatu, ia memikirkan ucapan Alica dan Lovely. Adik dan Mama yang amat ia rindukan selama ini.