Axel Williams

Axel Williams
Bab 31.



Tok ... Tok ... Tok ...


Pintu diketuk oleh Axel dari luar.


"Rowena, kau terlalu lama," kata Axel bertetiak dari luar.


Rowena kaget, "Ah, iya tunggu sebentar." jawab Rowena.


Dengan langkah buru-buru Rowena membuka pintu kamar mandi. Axel sudah berdiri di depan pintu kamar mandi sudah dengan mengenakan gaun panjang berwarna hitam.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Axel.


"Ti, tidak ada. Aku sedang ganti," kata Rowena.


Axel mundur beberapa langkah, ia mengamati Rowena dengan seksama. Mengamati Rowena dari atas ke bawah, naik ke atas lagi.


"Gaun ini cocok untukmu. Kau sudah coba semua?" tanya Axel.


Rowena menggeleng, "Belum. Aku hanya pakai ini," jawab Rowena lirih.


Axel bingung, mengapa Rowena terlihat murung dan kesal. Axel mendekati Rowen, dan bertanya pada Rowena.


"Ada apa? kau terlihat tidak suka," kata Axel.


"Tidak ada. Aku baik-baik saja," jawab Rowena.


"Tidak. Kau tidak terlihat baik. Katakan padaku, apa yang terjadi padamu?" tanya Axel menadahkan wajah Rowena sehingga pandangan mata mereka bertemu. Rowena mengalihkan pandangannya, hal itu membuat Axel kesal.


"Aku bertanya padamu, Rowena." geram Axel secara tidak sadar mencengkram dagu Rowena.


"Aahh, sakit." rintih Rowena


Axel terkejut, mendengar rintihan Rowena ia segera melepas cengkraman tangannya. Axel merasa kesal tanpa sebab yang jelas.


"Bersiaplah, kita akan pergi lima belas menit lagi." kata Axel.


Axel berbalik dan pergi meninggalkan Rowena. Merasa sedih, Rowena segera pergi tanpa berpamitan pada Axel, ia membawa bungkusan tas masuk ke dalam kamar mandi.


Brakkkkk...


Pintu ditutup Axel. mendengar Axel membanting pintu, Rowena hanya diam. Pikirannya sungguh kacau, dan tidak tahu harus berbuat apa. Rowena pun memutuskan kembali ke kamarnya.


"Bagaimana ini, aku sudah melakukan kesalahan. Apa yang sebenarnya terjadi padaku," ucap Axel gusar. Axel duduk di sofa, ia menarik napas perlahan dan menghela napas panjang.


***


Di kamar Rowena hanya duduk diam di sofa. Matanya berkaca-kaca seperti ingin menangis.


"Kasar sekali, dia sungguh tidak peka. Bagaimana bisa memperlakukan wanita seperti itu," batin Rowena mencengkram ujung gaunnya.


Rowena diam termenung beberapa saat, sampai ia sadar ia akan kena marah jika terlambat atau membuat Axel menunggu. Segera setelah tersadar dari lamunan, Rowena segera bersiap, merapikan diri untuk pergi ke pesta mendampingi Axel.


***


Pesta di mulai. Axel dan Rowena sudah tiba beberapa menit sebelum pesta itu berlangsung. Suasana masih canggung dan dingin. Keduanya sama-sama saling diam dan tidak bicara satu sama lain.


"Kau di sini saja. Aku akan kembali setelah menyapa beberapa orang," kata Axel berdiri dari duduknya.


Rowena menganggukkan kepala perlahan, "Ya, aku mengerti." jawab Rowena.


Rowena melihat dari jauh, Axel sedang berbincang dengan beberapa orang yang usianya lebih tua darinya juga Axel. Rowena diam menatapi setiap gerak gerik Axel, pikirannya kembali terganggu dengan apa yang dilihatnya saat ia ada di kamar mandi milik Axel.


Wajah Rowena murung, "Benar saja. Pria tampan dan kaya sepertinya pasti punya banyak wanita di sisinya. Dan, wanita di foto itu, dia sangat cantik. Aku juga melihat mereka begitu intens," batin Rowena terus menatap Axel.


Tidak tahu apa yang terjadi, Axel memergoki Rowena sedang menatapnya. Axel berbincang dengan beberapa orang di hadpaannya, rupanya ia sedang berpamitan. Axel pergi meninggalkan beberapa orang itu lalu kembali ke mejanya. Rowena terkejut, dengan segera ia memalingkan wajah dan berpura-pura tidak melihat Axel yang berjalan ke arahnya.


Axel duduk di samping Rowena, "Ada apa?" tanya Axel.


Rowena kaget, "Eh, Ah ... ti, tidak ada apa-apa. Apa maksudmu ada apa?" kata Rowena gugup.


"Kau terus menatapku, seperti kode untuk aku datang menemanimu di sini. Kau bosan? tidak suka berada di sini?" tanya Axel menatap Rowena.


"Bukan seperti itu, aku hanya ingin melihat sekeliling saja. Dan, tidak menyangka akan melihatmu," jelas Rowena beralasan.


"Ingin menghirup udara segar di luar? aku juga sedikit bosan," kata Axel. Ia mengajak Rowena pergi sejenak meninggalkan pesta.


Rowena menatap Axel, pandangan mata mereka saling bertemu satu sama lain. Axel berdiri duduknya, diikuti Rowena. Keduanya berjalan menuju pintu samping untuk keluar menuju taman samping gedung.


Suara langkah kaki terdengar seirama. Mereka berjalan dengan langkah santai mendekati taman. Axel berdiri membelakangi Rowena, ia menghirup udara dan membuang napasnya perlahan. Suasana hening, tidak ada suara yang keluar dari mulut. Sayup-sayup terdengar suara musik dan hembusan angin yang menerpa.


"Maaf ..." kata Axel tiba-tiba.


"Maaf ..." kata Rowena, bersamaan dengan Axel.


Keduanya membuka suara dan mengatakan hal yang sama. Lalu terdiam kembali karena merasa canggung.


Rowena menatap punggung Axel, "Maafkan aku, aku tidak bermaksud membuatmu marah. Hanya saja, hanya," kata Rowena yang langsung terdiam tidak melanjutkan ucapannya.


"Hanya apa? ada apa denganmu, Rowena?" tanya Axel yang langsung berbalik.


Rowena menunduk, "Hanya ingin tahu sesuatu saja. Mungkin karena itu aku menjadi terlalu banyak berpikir," jelas Rowena.


"Apa yang ingin kau ketahui?" tanya Axel lagi.


Rowena melebarkan mata, ia merasa bingung harus bicara apa. Rowena tidak tahu harus menjawab apa atas pertanyaan Axel. Tidak mungkin baginya bertanya mengenai foto siapa yang tersimpan di ponsel milik Axel. Jika sampai Axel marah, itu akan membuatnya semakin kesulitan.


"Bodohnya aku. Aku harus menjawab apa jika seperti ini? aku tidak mungkin bertanya foto siapa yanga ada di ponselnya kan? Astaga, Rowena. Apa kau sudah gila?" batin Rowena memaki diri sendiri.


Rowena ingat akan sesuatu, "Aku ingin tahu lukamu," kata Rowena lirih. Ia terpaksa berbohong dengan menayakan luka Axel.


Axel terkejut, "Lukaku?" jawab Axel yang langsung teringat akan luka di kepala dan bahunya.


Axel pun menghela napas panjangnya, "Apa kau ingin memastikan keadaanku?" tanya Axel.


Rowena mengangguk, "Ya, bagaimanapun kau terluka karena sudah menolongku. Aku hanya bisa melihat luka di pelipismu, tidak dibagian lain. Bahumu, bagaimana dengan bahumu?" tanya Rowena menatap Axel.


"Tidak serius," jawab Axel.


"Baguslah," jawab Rowena tersenyum paksa.


Axel mengernyitkan dahi melihat senyuman Rowena. Axel merasa seperti ada yang disembunyikan Rowena darinya. Hal itu membuat Axel penasaran dan ingin mendesak Rowena, namun ia tidak ingin memberikan kesan buruk pada Rowena. Ia pun hanya bisa menahan diri untuk diam.


"Sudah cukup lama kita berada di luar, ayo masuk dan selesaikan acara malam ini." ucap Axel. Berniat kembali mengikuti pesta.


"Oh, oke. Ayo," jawab Rowena mengiyakan ucapan Axel.


Axel dan Rowena berjalan beriringan. Mereka kembali masuk ke dalam gedung dan kembali menikmati meriahnya pesta.