Axel Williams

Axel Williams
Bab 49.



"Kau ingin aku pergi? sepertinya kau tidak senang aku tidak mau libur," gerutu Rowena.


"Masalahnya bukan padaku atau padamu. Tapi pada Kakakmu, Kakakmu pasti ingin bertemu denganmu," jawab Axel.


"Ya, nanti aku akan bicarakan padanya. Kau libur kerja, kan? antar aku ya? sekalian bertemu Kakakku," ajak Rowena.


Axel menganggukkan kepala perlahan, "ok," jawab singkat Axel.


Mendengar jawaban Axel yang setuju, membuat Rowena senang. Entah sejak kapan ia tidak ingin menjauh dan menjaga jaraknya dari Axel.


***


Axel, Rowena dan Ricardo duduk dan bicara. Ricardo menatapi Axel, Axel merasa tidak nyaman akan tatapan Ricardo, ia pun melirik Rowena seakan memberi isyarat. Namun Rowena membuang pandangan, seakan tidak peduli.


"Jadi semalam Rowena kembali ke rumahmu?" tanya Ricardo.


"Ya," jawab Axel singkat.


Ricardo menatap Rowena, "Kenapa tidak bilang?" tanya Ricardo.


"Ah, aku, aku," kata Rowena tidak bisa menjawab.


"Aku memintanya menemaniku untuk minum. Dan dia mengantarku pulang. Karena sudah larut malam, aku melarangnya pergi meninggalkan rumah. Apa kau keberatan dengan hal itu?" jelas Axel, membantu Rowena bicara.


Ricardo menganggukkan kepala, "Aku tidak keberatan. Itu bagus jika dia mau mendengarkanmu. Sudah larut tidak seharuanya seorang wanita berkeliaran di luar rumah." sahut Ricardo.


Suasana hening, semua diam dan larut dalam pemikiran masing-masing. Ponsel Axel berdering, Axel merogoh saku mantelnya dan mengambil ponselnya. Ia mendapatkan panggilan dari nomor asing yang tidak ia tahu.


"Nomor asing, siapa?" batin Axel menatap layar ponsel.


Axel menatap Rowena lalu menatap Ricardo, "Aku terima panggilan sebentar," ucap Axel yang langsung berdiri dari sofa tempat ia duduk. Axel pun pergi ke teras depan rumah, untuk menerima panggilan.


***


Axel menerima panggilan tersebut, ia penasaran, siapa yang menghubunginya dan ada keperluan apa dengannya.


[Percakapan di telepon]


"Hallo," jawab Axel.


"Hallo, Axel? ini aku, Paman Flip."


"Paman Flip?" batin Axel


mengingat, "Ah, sepupu Mama.


Ya, pasti yang sering Mama ceritakan itu," imbuhnya dalam hati.


"Iya, Paman. Ada sesuatu? bagaimana bisa Paman mendapatkan nomor pribadiku?" tanya Axel.


"Dari Mamamu. Soal tujuanku menghubungimu, aku hanya ingin bertanya kabarmu dan ingin berbincang secara langsung denganmu. Bagaimana? apakah kau mengizinkan aku menemuimu?" tanya Flip.


"Paman ingin bertemu? kapan?" tanya Axel lagi.


"Secepat mungkin. Kapan kau ada waktu luang? ayo bertemu dan minum kopi bersama," ajak Flip.


"Baiklah, aku akan menyusun jadwal lebih dulu. Jika ada waktu luang, aku pasti akan beritahu Paman." jawab Axel.


"Baiklah, aku akan sangat berterima kasih jika kita bisa bertemu." kata Flip.


"Ya, Paman." jawab Axel mengiyakan.


"Aku rasa itu saja. Aku akan tutup panggilannya," kata Flip, yang langsung mrngakhiri panggilannya.


Axel terdiam sejenak, ia menerka-nerka hal apa yang ingin dibicarakan Flip dengannya, sehingga ingin mengajaknya bertemu. Rowena keluar dan datang mendekati Axel.


"Apa ada sesuatu?" tanya Rowena berdiri di samping Axel.


"Tidak ada. Oh, bagaimana Kakakmu?" tanya Axel melirik sebentar kearah dalam rumah Rowena.


"Aku sudah bicara dengannya. Dia tidak keberatan, hanya saja sepertinya dia mencurigaiku denganmu, bagaimana?" jawab Rowena.


"Curiga apa? kita kenapa?" bingung Axel.


Axel pun mengerti maksud Rowena. Axel menatap Rowena, lalu menayakan sesuatu hal pada Rowena.


"Apa kau menyesalinya? maksudku, soal kegilaan kita semalam," kata Axel dengan suara pelan.


Rowena kaget, "Hm," gumam Rowena, "Tidak juga. Kau kan tidak lakukan apa-apa padaku," jawab Rowena.


"Kau masih ingin tinggal? aku tidak nyaman bersama dengan Kakakmu," ucap Axel berharap segera pergi.


"Ayo pulang, tapi sebelum pulang ayo lihat matahari terbenam bersamaku. Kau mau, kan?" ajak Rowena penuh harap.


Axel tidak menjawab, ia hanya menganggukan kepala perlahan sebagai tanpa kesediaannya atas ajakan Rowena. Hal itu langsung disambut senyum manis Rowena manakala melihat Axel mengangguk.


***


Flip selesai menghubungi Axel. Ia meletakan ponselnya di atas meja.


"Bagaimana?" tanya Naomi.


"Apanya?" jawab Flip.


"Axel, apa yang dia katakan?" tanya Naomi lagi.


"Apa lagi, hanya jawaban pada umumnya. Dia akan mengatur jadwalnya, jika senggang akan menghubungiku." jawab Flip.


"Kau yakin dia akan mau menemuimu? terlebih kita kan tidak sering bertemu dengannya, hanya beberapa kali kita mengunjungi Lovely dan Andrew. Itupun setelah kita pergi mengunjungi Paman Brian dan Bibi Amelia." kata Naomi ragu-ragu.


"Perasaanku mengatakan hal lain. Dia akan menemuiku, dia pasti merasa penasaran mengapa aku ingin menemuinya." jawab Flip sangat yakin.


"Ya, semoga saja akan ada hal baik yang datang. Ayo, antar aku pergi belanja," ajak Naomi.


"Aku? di mana Moon?" tanya Flip.


"Putrimu sudah pergi. Seperti biasa, ia pasti sibuk dengan profesornya. Ayo cepat," pinta Naomi.


"Ya, baiklah. Aku akan mengantarmu," jawab Flip, "Tapi," sambung Flip tiba-tiba diam.


Naomi menghela napas panjang, ia segera mendekat dan mncium pipi suaminya itu. Naomi sudah hafal keinginan Flip, tidak bisa mengabaikan permintaan suaminya.


"Terima kasih, sayang," ucap Flip.


"Ya, sama-sama, sayang," jawab Naomi.


Flip dan Naomi pun segera pergi dari rumah menuju pusat perbelanjaan. Flip menemani Naomi pergi berbelanja kebutuhan rumah mereka.


***


Hembusan angin menerpa wajah Rowena. Rowena bisa merasakannya, rasanya segar, tenang dan membuatnya nyaman. Rowena merentangakan tangan dan menutup kedua matanya semakin menikmati suasana.


"Kau menyukainya?" tanya Axel.


"Ya, aku suka. Suka sekali," jawab Rowena tanpa mengubah posisinya.


Axel melihat sekeliling, ada banyak orang yang juga sedang menikmati tidurnya matahari. Ada yang berfoto, bermain ombak, atau pasir. Kenangan masa lalu terbayang, saat ia masih kecil, ia sering ke pantai untuk melepas penat. Di pantai ia duduk termenung menatap arah pantai yang membentang luas. Kini ia kembali menikmati masa-masa itu, masa yang tak bisa ia lupakan meski sudah sekian lama. Tanpa sadar Axel pun melamun, ia dikejutkan oleh Rowena yang menjentikan jari tepat di wajahnya.


"Hei," panggil Rowena bersamaan dengan jentikan jarinya.


"Apa?" kaget Axel.


"Kenapa melamun? apa yang kau pikirkan? matahari sudah tenggelam sepenuhnya, ayo pulang. Aku lapar," kata Rowena mengeluh.


"Bukan apa-apa. Ayo," ajak Axel.


Rowena mengernyitkan dahi, "Apa yang bukan apa-apa. Jelas-jelas ia melamun, masih tidak mau mengaku. Dasar pria, apa susahnya menjawab iya, ada yang aku pikirkan. Kenapa ia harus menutupinya," gerutu Rowena berjalan di belakang Axel.


Karena terlalu larut dalam pikirannya, ia tidak sadar jika Axel berhenti dari langkahnya. Ia pun menabrak Axel dan terpental hampir jatuh. Untung saja dengan cekatan Axel berhasil menahan Rowena agar tidak jatuh.


"Aduh, eh," teriak Rowena yang hilang keseimbangan, ia akan terjatuh.


Axel berbalik dan langsung menarik tangan Rowena, membuat Rowena masuk dalam pelukannya. Rowena berdebar karena kaget, ia bisa merasakan jika Axel juga berdebar. Detak jantung Axel bisa dirasakan Rowena.