
Di perusahaan, Axel dan Azel sibuk di ruangan masing-masing, begitu juga Andrew. Asisten Azel, yang bernama Joe datang keruangan Axel dan memberikan setumpuk berkas dokumen untuk diperiksa Axel.
"Tuan," sapa Joe.
"Ya, Joe." jawab Axel.
Joe mendekat, meletakan setumpuk berkas dokumen di meja Axel. Joe kemudian melangkah sedikit mundur, memberikan sedikit jarak antara dirinya dan atasanya.
"Ini adalah beberapa berkas dokumen yang Anda inginkan, Tuan. Apakah Anda memerlukan hal yang lain?" tanya Joe.
"Hm, tidak ada. Jadwalku kosong, kan?" tanya Axel lagi menatap Joe di sampingnya.
Joe menganggukkan kepala perlahan, "Iya, Tuan. Anda tidak memiliki jadwal rapat atau pertemuan hari ini. Sebaliknya, Tuan Andrew dan Tuan Azel lah yang akan pergi menemui klien nanti siang." jawab Joe.
"Oh, oke. Kau bisa kembali ke mejamu Joe." perintah Axel.
"Baik, Tuan. Saya permisi," jawab Joe berpamitan.
Joe langsung pergi meninggalkan ruangan Axel. Axel menatap setumpuk berkas di hadapannya dan mengambil satu di antaranya. Axel membuka dan melihat isi berkas dokumen tersebut, ia membaca dengan seksama isi dari berkas yang dipegangnya.
***
Joe menutup pintu dan kembali ke meja kerjanya. Meja kerja Joe, ada di samping meja Adele, yang tidak lain adalah kerja Sekretaris pribadi Axel.
"Ada apa, Joe?" tanya Adele.
"Ya, seperti biasa. Aku gugup," jawab Joe.
"Hahaha, kau sudah bekerja berapa lama. Masih saja gugup berhadapan dengan Tuan Axel," kata Adele menggoda Joe.
"Entahlah, aku sangat takut saat menatap sorot mata Tuan Axel. Beliau tidak dalam keadaan marah atau kesal, tetapi tatapannya membuatku seakan dihujam tombak, dan itu mengerikan. Bersyukur saja, sejauh ini Tuan puas dengan kinerjaku." Jelas Joe.
"Saat pertama kali aku kerja, aku juga merasa takut. Bagaimana tidak? Beliau begitu dingin dan sedikit bicara. Matanya memang tajam melihat kearah kita, seakan menyelisik dan kita tidak bisa berkutik lagi setelahnya. Mengerikan," kata Adele.
"Kau mengejekku, kau sendiri juga ketakutan, dasar Adele." Ejek Joe menatap Adele.
"Hahaha, sudah-sudah. Jangan bergosip lagi, kita lanjutkan saja bekerja," kata Adele yang langsung menatap layar komputer di hadapannya.
"Semangat!" seru Joe menyemangati dirinya sendiri dan Adele.
***
Azel bertemu Andrew di ruang kerja Andrew. Azel berdiskusi beberapa hal sebelum pergi bersama Papanya itu, untuk menemui klien saat jam makan siang.
"Pa, coba baca ini. Aku sudah membuat rinciannya," kata Azel menyodorkan sebuah berkas dokumen ke hadapan Andrew.
Andrew melihat dan membaca berkas dokumen yang diberikan Azel. Andrew menganggukkan kepala lalu menatap Azel.
"Lakukan saja seperti rencanamu ini, Papa ikut denganmu hanya untuk melihat pekerjaanmu." kata Andrew, menyetujui usulan putra emasnya.
"Oke, Pa." sahut Azel.
"Tingkatkan kinerjamu," kata Andrew.
Azel menganggukkan kepala perlahan, "Azel mengerti, Pa." jawab Azel.
***
Alica sedang bersama teman-temannya, ia dan beberapa temannya baru saja selesai dengan acara membagikan bantuan di sebuah panti asuhan yang baru saja masuk dalam daftar bukunya. Alica merasa puas, pekerjaan yang cukup melelahkan. Namun Alica senang bisa membantu anak-anak yang tinggal di panti asuhan tersebut.
Banyak kegiatan dilakukan Alica, seperti bercerita, membantu menggambar dan belajar, bahkan bermain bersama.
Setelah kegiatan selesai, teman-teman Alica berpamitan. Alica berpisah jalan dengan teman-temannya. Alica diajak pulang, namun Alica masih ingin tinggal dan menghabiskan waktu di tempat yang bisa dikatakan nyaman baginya.
"Alica, aku pulang dulu ya." pamit seorang teman Alica bernama Jane.
"Aku juga, sampai jumpa." ucap seorang lain lagi bernama Chatrine.
"Oke Jane, Chatrine, terima kasih untuk hari ini ya. Sampai jumpa dan hati-hati dijalan," jawab Alica tersenyum.
Jane dan Chatrine bergantian memeluk Alica. Mereka pun akhirnya pergi, tersisa seseorang yang masih tinggal bersama Alica. Temannya itu masih pergi ke kamar mandi untuk mencuci tangan.
Alica berdiri di bawah sebuah pohon. Matanya melihat sekeliling setelah melihat kepergian dua temannya yang mengendarai sebuah mobil pergi meninggalkan panti asuhan.
"Sayang sekali tidak banyak donatur yang mau membantu di sini, kasian sekali. Aku harus meminta bantuan Mama nanti," gumam Alica.
Seseorang berjalan kearah Alica dan menyapa Alica, "Alica," sapanya.
"Hai Nicholle," sapa balik Alica.
"Di mana Jane dan Chatrine?" tanya Nicholle melihat sekeliling yang sepi.
"Mereka sudah kembali, terlihat terburu-buru. Aku tidak bertanya apakah ada kepentingan atau tidak." jawab Alica.
"Ah, begitu. Bagaimana denganmu? Kau mau ikut pulang bersamaku?" tawar Nicholle.
"Kakak? Azel?" tanya Nicholle.
Alica menganggukkan kepala pelan, "Ya, Azel. Mana mungkin aku meminta Axel yang menjemputku. Kau tahu itu," jawab Alica.
"Hahaha, kau kenapa Alica? Axel juga Kakakmu, memang berbeda dari Azel, tetapi kau tidak perlu bersikap seperti itu, bukan?" kata Nicholle.
"Wow, kau membela Axel. Kau menyukai Axel? tanya Alica menggoda Nicholle.
"Dari mana kau lihat aku menyukainya? jangan membuat gosip," elak Nicholle membantah.
Alica tertawa, "Haha, kau itu. Aku hanya bergurau Nicholle, mana mungkin kau menyukai pria sedingin Axel. Benar, kan?" kata Alica menatap Nicholle.
"Tentu saja, tipeku adalah pria romantis. Hahaha," jawab Nicholle yang lalu tertawa. Nicholle pun berpamitan untuk pulang pada Alica, "Baiklah, aku akan pulang dulu. Aku harus mengantar Mamaku ke rumah Bibiku, sampai jumpa Alica. Jaga dirimu," kata Nicholle memeluk Alica.
Alica melepas pelukan, "hati-hati di jalan Nicholle, terima kasih untuk hari ini." kata Alica tersenyum cantik.
"Sama-sama, terima kasih kembali." jawab Nicholle.
Nicholle pun pergi meninggalkan Alica. Nicholle terlihat masuk dalam mobilnya dan melambai pada Alica sebelum akhirnya melesat jauh dari pandangan Alica.
Alica mengeluarkan ponselnya, Alica mengirimkan pesan pada Azel untuk menjemputnya di panti asuhan. Pesan terkirim, Alica menunggu balasan dari Azel sembari berjalan-jalan.
Sepuluh menit sudah Alica menunggu, akhirnya balasan di kirim oleh Azel. Azel mengatakan jika dia tidak bisa menjemput Alica, karena alasan pekerjaan. Azel menjelaskan jika dia dan Andrew sedang menemui seorang klien untuk membahas pekerjaan dan penting. Azel meminta Alica untuk memanggil supir.
Balasan di kirim Alica. Alica tersenyum saat mengetik pesan untuk Azel dan memberikan semangat untuk Azel. Alica mengatakan pada Azel untuk tidak khawatir, dan akan segera memanggil supir.
"Mau bagaimana lagi, aku harus hubungi Mama dan meminta Mama mengirim supir jika seperti ini. Aku tidak bisa selalu mengandalkan Azel," gumam Alica.
Alica pun langsung menghubungi Amelia dan meminta Amelia mengirim supir ke panti asuhan tempatnya berada.
***
Ponsel Lovely berdering, ia yang sedang duduk santai di sofa mengambil ponsel di atas meja dan melihat layar ponsel.
"Alica," gumamnya. Yang langsung menerima panggilan Alica, dan meraka pun bicara.
(Percakapan di telepon)
"Hallo," jawab Lovely.
"Hallo, Mama. Apakah Mama sibuk?" tanya Alica.
"Tidak sayang, Mama tidak sibuk. Ada apa? apakah ada sesuatu?" tanya Lovely.
"Mama, bisakah mengirim supir untukku?" tanya Alica lagi.
"Kau tidak pulang dengan teman-temanmu?" tanya Lovely.
"Aku masih ingin tinggal, Ma. Aku mengira Azel bisa menjemputku. Dia sedang sibuk ternyata, dia bersama Papa saat ini dan tidak bisa menjemputku." Jawab Alica menjelaskan.
Lovely terdiam, ia ingat jika supirnya baru saja dimintanya mengantar sebuah berkas domuken pada Andrew di kantor.
"Sayang, bisa kau menunggu? supir kita sedang mengantar sesuatu ke kantor. Tadi Papamu menghubungi Mama dan ingin Mama mengirim berkas dokumen yang akan dipakai sore ini rapat di kantor." Jelas Lovely.
"Oh, baiklah. Aku akan menunggu." Jawab Alica.
"Mama akan hubungi supir agar segera menjemputmu," kata Lovely.
"Iya, Ma. Maaf merepotkan, dan terima kasih." jawab Alica.
"Iya sayang, jaga dirimu baik-baik." jawab Lovely.
"Hm, oke. Sampai jumpa di rumah, Ma. Alica sayang Mama," kata Alica terlihat bahagia.
"Mama juga sangat sayang pada Alica," jawab Lovely.
Alica mengakhiri panggilannya. Sesaat kemudian, Lovely menghubungi supirnya. Panggilannya belum diterima oleh supirnya. Ia pun mencoba lagi menghubungi supirnya tersebut, tetapi tidak juga diterima.
Lovely berdiri dari duduknya, di saat yang sama ia melihat Axel yang baru masuk ke dalam rumah dari arah ruang tamu. Ia langsung memanggil Axel dan meminta bantuan pada Axel.
"Axel, boleh bantu Mama?" tanya Lovely langsung, sesaat setelah melihat Axel.
Axel menghentikan langkahnya menatap Lovely, "Ada apa, Ma?" tanya Axel dengan wajah datar.
"Kau sibuk? bisa jemput Alica?" tanya Lovely.
Axel membuang muka, "Tentu sibuk. Aku haus ingin minum dan ambil sesuatu di kamarku," kata Axel yang langsung pergi ke dapur.
Axel berjalan melewati Lovely, "Mama kirim alamatnya padaku," kata Axel.
Lovely yang awalnya khawatir akhirnya melebarkan senyumannya, "Oke." jawab Lovely senang.
"Anak ini, mengejutkan saja. Mama tau kau tidak akan mengecewakan," batin Lovely.