Axel Williams

Axel Williams
Bab 6.



Reynold dan Axel sampai larut malam berbincang sembari minum bersama. Axel meluapkan emosinya dan di tampung oleh Reynold. Sampai akhirnya Axel merasa mengantuk. Ia pun berpamitan untuk tidur. Axel melapas mantelnya dan meninggalkan mantelnya di sofa. Axel pergi berjalan terhuyung menuju kamarnya.


"Hati-hati," teriak Reynold.


"Hm, iya."Jawaban Axel dari balik dinding.


Terdengar pintu di buka dan di tutup kasar, membuat Reynold hanya bisa menggelengkan kepala. Reylond masih belum beranjak, ia masih duduk di sofa memikirkan kejadian pada masa lalu.


***


Lovely tampak gelisah, ia menunggu seseorang di ruang tamu. Ia bertanya-tanya, kenapa Axel tidak kunjung pulang sampai larut malam. Ia terus berjalan mondar-mandir dan dikagetkan oleh Andrew.


"Kau sedang apa?" tanya Andrew yang tiba-tiba datang.


Lovely kaget langsung menatap Andrew, "Ahh, aku menunggu Axel. Sudah hampir tengah malam dan dia belum juga kembali," jawab Lovely.


"Dia pasti ke klub," kata Andrew.


"Kau bawa ponsel? Hubungi dia dan tanyakan dia ada di mana," pinta Lovely.


Andrew meraba saku piamanya dan mengeluarkan ponselnya, Andrew melihat layar ponsel, mencari nama Axel dan menghubungi Axel. Panggilan Andrew terhubung, tetapi masih belum tersambung. Axel belum menerima panggilan, beberapa saat akhirnya panggilan di terima.


(Percakapan di telepon)


"Hallo, Axel," panggil Andrew.


"Andrew?" sapa seseorang di ujung telepon yang tidak lain adalah Reynold.


"Rey?" jawab Andrew.


"Hm, ini aku. Axel sudah tidur," jawab Reynold.


"Axel di rumahmu?" tanya Andrew lagi.


"Ya, dia datang dan minum bersamaku. Sekarang sudah pergi ke kamar dan tidur." jawab Reynold.


"Baiklah jika seperti itu. Maaf membuatmu kerepotan," kata Andrew.


"Tidak masalah, dia tidak pernah merepotkanku. Dia anak yang pintar dan rajin, selalu bisa di andalkan." kata Reynold membanggakan Axel.


"Ya aku harap dia bisa diandalkan," ucap Andrew.


"Kau ingin menuntutnya seperti apa Andrew? Axel bukan Azel, dan Azel bukan Axel. Meski mereka serupa mereka punya keinginan dan karakter yang berbeda." kata Reynold.


"Kau seharusnya tidak berhak ikut campur, Rey. Ini urusan kelurgaku. Kau mengerti?" kata Andrew yang mulai emosi.


"Aku tahu, Axel putramu. Aku juga punya hak sebagai orang yang sudah mengasuhkanya selama sepuluh tahun. Sejak kecil dia bersamaku, aku bahkan tidak pernah mengkritik apa yang dia lakukan. Kau selalu membuatnya kesal dan marah," jelas Reynold tidak terima dengan ucapan Andrew.


"Lupakan saja, aku lelah ingin tidur. Besok, jika Axel bangun minta dia untuk pulang," kata Andrew.


"Aku akan sampaikan. Pulang atau tidaknya kau tidak bisa memaksanya," jawab Reynold yang lalu mengakhiri panggilan.


Andrew mengernyitkan dahi. Ia merasa kesal. Lovely yang melihat wajah Andrew memerah langsung bertanya, Lovely berbicara dengan nada suara yang lembut.


"Sayang, ada apa? apakah itu Reynold?" tanya Lovely.


"Ya, Axel pergi ke rumah Rey. Sepertinya dia mengadu dan membuat kekacauan," jawab Andrew.


Lovely terdiam, mencerna ucapan Andrew. Lovely tidak berani bertanya lagi, dia tidak ingin membuat suaminya yang kesal semakin kesal.


***


Reynold meletakan ponsel Axel di meja, di samping gelasnya. Reynold duduk bersandar dan menghela napas panjang.


"Aku tidak akan biarkan Axel terus dipandang sebelah mata. Dia juga berhak bahagia, bebas melakukan apa yang ingin dia inginkan. Bisa-bisanya di perlakukan tidak adil seperti ini. Jika terus seperti ini, aku akan bawa Axel bersamaku pergi dari kota ini. Bila perlu pergi dari negara ini," gumam Reynold.


Reynold berdiri dari duduknya, dia berjalan terhuyung menuju kamar Axel. Reynold ingin melihat Axel, sebelum dia pergi tidur.


***


Pagi-pagi Axel sudah bangun. Axel sudah ada di dapur sedang memasak sarapan untuknya juga Reynold. Tidak berselang lama, Reynold keluar dari kamar tidurnya dan menyapa Axel.


"Kau sudah bangun, Nak?" sapa Reynold.


"Selamat pagi, Paman. Ayo duduk," kata Axel.


Axel mematikan pematik kompor, dan menyajikan masakan ke dalam piring. Setelah itu, ia membawa dua piring berisi sarapan ke meja makan.


"Aku mencoba resep baru dari internet," kata Axel meletakan piring berisi sarapan di hadapan Reynold.


"Bagus, kau selalu bisa mandiri. Mencoba hal baru bukan masalah, jika gagal bisa di coba lagi. Ayo kau juga duduk," pinta Reynold.


"Hm, " gumam Axel yang menarik kursi dan langsung duduk disamping Reynold.


Reynold mencicipin masakan Axel. Setelah dirasa-rasa oleh Reynold, rasa masakan Axel terasa lezat. Oleh karena itu, Reynold memuji Axel tanpa ragu.


"Ini lezat," kata Reynold.


"Sungguh?" jawab Axel tersenyum.


"Untuk apa aku berbobong padamu," jawab Reynold.


"Makan yang banyak, Paman. Aku akan isi lemari pendinginmu nanti. Ayo kita belanja bersama," ajak Axel.


Reynold menatap Axel, Axel menyuap makanan ke mulutnya dan mengunyah makanannya dengan segera. Axel menatap Reynold tanpa bicara, setelah makanan dimulut ditelan, Axel pun langsung bertanya pada Reynold.


"Ada apa, Paman? kenapa menatapku," tanya Axel tanpa ragu.


"Kau tidak kembali pulang?" tanya Reynold.


"Tidak," jawab singkat Axel.


"Semalam Papamu menghubungimu. Paman yang menerimanya," ucap Reynold.


"Hm," gumam Axel.


"Kau tidak ingin tahu apa yang Papamu tanyakan?" tanya Reynold.


"Tidak mau tahu dan tidak perlu Paman bicarakan lagi. Ayo makan dan kita bersiap pergi," jawab Axel.


"Anak ini, keras hati sekali. Mungkinkah karena besar di lingkungan yang liar, membuatnya seperti ini?" batin Reynold bertanya-tanya dalam hati.


"Baiklah, baiklah. Aku tidak akan bicarakan hal ini lagi," kata Reylond segera menyantap makanan di piringnya. Axel juga menikmati sarapannya, ia sama sekali tidak tertarik dengan apa yang di sampaikan Reynold.


"Memangnya apa yang harus aku dengar dan harus aku ketahui? di matanya aku hanya seoarang anak pembangkang dan egois, selalu saja di bandingkan dengan Azel. Aku tidak berminat, ini hidupku. Apapun yang aku lakukan dan jalani hanya aku yang akan tentuka. Tidak boleh ada yang namanya kekangan," batin Axel.


Sudah lebih dari sepuluh tahun semenjak ia masuk kembali dalam keluarga Williams. Axel tidak pernah sekalipun tersenyum bahagia, tidak pernah sekalipun merasa nyaman dengan apa yang dikerjakannya. Semua seolah terpaksa di lakukannya, karena ia adalah bagian anggota keluarga Williams.


***


Lovely menyiapkan sarapan untuk Andrew, Azel dan Alica. Semua sudah berkumpul di meja makan untuk sarapan kecuali satu orang, Axel. Lovely menatap lekat kursi yang biasa diduduki Axel. Ia merindukan putrnya itu.


Tiba-tina ponsel Lovely berdering, Lovely terkejut dan langsung berjalan ke meja dapur untuk mengambil ponselnya. Ia mendapatkan panggilan dari Adiknya, Alex. Dengan segera Lovely menerima panggilan dari Adiknya itu.