
Sekretaris kaget, ia tidak mengira jika Merry melakukan itu pada atasannya. Sejauh yang dilihat, Merry adalah orang yang selalu membantu Ricardo. Bisa dikatakan jika Merry sudah seperti asisten pribadi Ricardo. Sekretaris tidak habis berpikir, mengapa Merry tega melakukan pengkhianatan pada Ricardo.
"Apa rencana Anda, Tuan?" tanya Sekretaris yang langsung menundukan kepala.
"Kau tangani beberapa hal, pantau keadaan perusahaan. Aku akan pergi dan mungkin tidak akan kembali lagi ke perusahaan hari ini. Hubungi aku jika ada apa-apa," kata Ricardo.
"Ba, baik, Tuan." jawab Sekretaris.
Ricardo bangkit berdiri dari duduknya dan langsung pergi dengan langkah kaki cepat. Sekretaris menatap kepergian Ricardo dengan penuh pertanyaan dipikirannya.
"Apakah akan ada masalah besar? bagaimana ini?" Batin Sekretaris itu gelisah.
***
Ricardo mendatangi apartemen di mana Merry tinggal. Ricardo sedang mencari kebeeadaan Merry. Berulang kali Ricardo menghubungi Merry, panggilannya terhubung dan diabaikan begitu saja oleh Merry. Sampai dipanggilan yang berikutnya, nomor telepon Merry sudah tidak aktif lagi.
"Merry..." panggil Ricardo
Brakkk... Brakkk... Brakkk...
Ricardo menggebrak pintu apartemen Merry. Berharap Merry keluar dan memberinya penjelasan.
"Merry, keluar!" seru Ricardo.
Ricardo masih terus memanggil dan menggebrak pintu apartemen Merry. Lama Ricardo di sana sampai akhirnya malam pun tiba. Ricardo putus asa dan memutuskan pergi meninggalkan apartemen Merry.
Ricardo berjalan mendekati mobilnya, ia segera masuk dan membanting pintu mobilnya. Ricardo menatap kearah gedung apartemen Merry.
"Kenapa kau seperti ini? kau di mana, Merry?" gumam Ricardo.
Ricardo masih enggan percaya dengan apa yang terjadi. Semua terasa tidak masuk diakal, Ricardo benar-benar tidak menyangka jika Merry akan melakukan hal seperti itu. Wanita yang dikasihinya dan dicintainya menghancurkannya juga bisnisnya.
"Untuk apa kau lakukan ini? aku selalu percaya padamu," batin Ricardo mengepalkan tangan karena kesal.
"Aku harus menemukanmu. Aku tidak akan percaya pada siapapun dan apapun juga. Aku tidak akan percaya jika itu tidak berasal dari mulutmu sendiri, Merry." batin Ricardo.
Cukup lama Ricardo berada dalam mobilnya yang terparkir di halaman depan apartemen Merry. Sampai akhirnya Ia memilih untuk pergi meninggalkan tempat tersebut. Ia tidak langsung pulang ke rumah, ia mampir kesebuah bar untuk minum bir. Ricardo terlihat kesal, kecewa dan putus harapan. Masih banyak hal yang ia ingin tanyakan pada Merry, masih banyak juga yang ingin ia sampaikan.
***
Di rumah, Rowena gelisah menunggu kepulangan Ricardo. Rowena melihat ke arah jam dinding berulang kali, juga melihat ke arah jendela rumahnya. Dia mengintip kalau-kalau Kakaknya pulang.
Rowena melihat ponselnya, ia mencoba menghubungi Ricardo. Panggilanya tersambung namun Ricardo tidak kunjung menerima panggilan dari Rowena.
"Di mana sebenarnya? ini sudah tengah malam," gumam Rowena.
Wanita cantik itu mondar mandir dengan perasan yang masih tetap sama. Hatinya tidak tenang sedikit pun, ia kembali mengingat saat ia menghubungi sekretaris Kakaknya dan diberitahu tentang apa yang terjadi.
[Sepuluh menit kemudian]
Terdengar suara mesin mobil dari luar, Rowena mengintip dan melihat mobil Kakaknya terparkir di halaman. Segera Rowena mebuka pintu dan keluar dari dalam rumah. Dengan langkah tergesa, Rowena menghampiri mobil Ricardo. Seseorang asing keluar dari kursi kemudi, ia tidak lain adalah seorang supir pengganti. Diikuti oleh Ricardo yang duduk di bangku belakang dengan keadaan yang sudah setengah mabuk dan acak-acakan.
"Kak," panggil Rowena.
"Ini," kata Ricardo memberikan beberapa lembar uang pada supir pengganti.
"Terima kasih, Tuan. Saya permisi," kata supir yang langsung pergi setelah memberikan kunci mobil pada Ricardo.
"Kak, ada apa denganmu? Kakak dari mana?" tanya Rowena.
"Aku lelah ingin tidur. Kau kenapa belum tidur?" jawab Ricardo yang langsung berjalan terhuyung masuk dalam rumah.
"Kakak baik-baik saja? aku akan memapahmu," kata Rowena yang langsung menyusul Ricardo dan membantu memapah Ricardo masuk ke dalam rumah.
Rowena hanya diam, ia mengantar Kakaknya sampai di kamar. Ricardo duduk di tepi tempat tidur, Rowena langsung mengambil gelas berisi air putih dan lalu memberikan pada Ricardo.
"Minum dulu," pinta Rowena.
Ricardo menerima gelas dan meneguk habis air putih dalam gelas dengan sekali minum. Gelas diberikan Ricardo pada Rowena dan diletakan di nakas samping tempat tidur Ricardo.
Ricardo hanya diam. Rowena melangkah mundur dan berbalik untuk pergi, baru selangkah kakinya melangkah Ricardo mengatakan kata 'maaf' pada Rowena.
"Maaf," kata Ricardo.
Rowena memalingkan kepala, "Besok kita bicara. Tidurlah, Kak. Aku tahu ini sulit," kata Rowena yang langsung pergi dari kamar Ricardo.
Rowena keluar dari kamar, dan menutup pintu kamar Ricardo. Kakinya melangkag perlahan kembali ke kamar tidurnya.
"Pasti sulit bagi Kakak untuk menerima kenyataan pahit ini. Merry benar-benar keterlaluan, aku akan buat perhitungan denganmu. Jangan kira kau bisa lolos dari tanganku," gumam Rowena.
Rowena merasa kesal dan marah pada Merry, juga merasa sedih pada Kakaknya. Meski pernah kecewa karena Kakaknya pernah tidak percaya padanya, namun Rowena tidak rela jika Kakaknya dipermainkan oleh Merry.
***
[Satu Bulan kemudian]
Brukkk...
Axel membanting sebuah berkas dokumen di atas meja. Joe dan Adele kaget, mereka saling bertatapan dan terlihat sedikit takut.
"Apa-apan dia, dia anggap aku apa?" Sentak Axel kesal.
"Tuan, tenangkan diri Anda." sahut Joe mencoba meredam amarah Tuannya.
"Tidak bisa, Joe. Aku bukan pengangguran yang hanya akan menunggu orang yang tidak penting. Dia mencoba bermain-main denganku, aku tidak akan beri ampun. Akuisisi perusahaan itu, apapun caranya!" perintah Axel.
"Tapi Tuan, apakah tidak beresiko? maksud saya, perusahaan itu diambang kehancuran." jelas Joe.
"Itu lebih baik daripada uangku tidak kembali sepeserpun. Lakukan saja perintahku," kata Axel.
"Baik, Tuan." jawab Joe.
Joe langsung pergi meninggalkan ruangan Axel. Adele menundukan kepala, menunggu perintah dari Axel.
"Apa jadwalku?" tanya Axel.
"Siang ini Anda kosong. Nanti pukul tiga sore akan ada rapat," jawab Adele.
"Hm, aku mengerti. Keluarlah dan lanjutkan pekerjaanmu." kata Axel.
"Baik, Tuan." jawab Adele.
Adele bergegas pergi meninggalkan Axel. Sejujurnya Adele takut jika melihat Axel yang sedang kesal atau marah.
***
Meski satu bulan sudah berlalu, tidak membuat sakit hati dan kepedihan di hati Ricardo memudar. Ricardo terlihat semakin liar dan tidak terkendali. Rowena terkadang kesal, saat Ricardo bersikap keras kepala. Tidak heran jika terkadang Ricardo dan Rowena bertengkar.
"Kak, cukup!" sentak Rowena, ia mengambil gelas berisi minuman yang sedang dinikmati Ricardo.
"Berikan gelasku. Aku ingin minum," kata Ricardo.
"Sampai kapan kau seperti ini? kau jangan menjadi lemah karena wanita busuk itu," kata Rowena kesal.
Ricardo menatap Rowena lalu tertawa, "Hahahaha... kau benar sekali. Aku adalah seorang pecundang. Aku, aku, aku tidak bisa melupakannya," kata Ricardo lirih.
Rowena menghela napasnya, ia meletakan gelas di meja dan membantu Ricardo berdiri dari lantai.
"Bangun, berbaringlah di tempat tidur. Ayo," ajak Rowena yang langsung memapah Ricardo ke tempat tidur.
Rowena membaringkan tubuh Kakaknya yang berantakan ke tempat tidur. Rowena menatapi wajah Kakaknya, hatinya terasa sakit melihat saudara yang disayanginya kacau seperti itu.
"Aku akan buat perhitungan padamu, Merry. Jangan harap kau akan lepas begitu saja," batin Rowena marah.
Rowena menyelimuti tubuh Ricardo dan pergi meninggalkan Ricardo yang tergeletak di tempat tidur.