Axel Williams

Axel Williams
Bab 16.



[Inggris]


Malam harinya. Axel sedang melihat-lihat sekitar rumahnya. Axel belum pernah tinggal di rumah yang sudah hampir dua tahun dibelinya itu.


"Tinggal sendiri, ya." gumam Axel lirih diikuti senyum masam, "Rasanya sedikit kecewa. Namun, bukankah ini lebih baik? aku bisa tenang seorang diri," imbuhnya lagi masih tetap bergumam.


Axel berjalan menuju kamarnya, matanya masih lekat memandangi sekitar rumahnya. Langkah kakinya terhenti, ia sampai di depan sebuah pintu kamar. Dengan perlahan ia menjulurkan tangan dan membuka pintu kamar pribadinya. Kakinya kembali melangkah untuk masuk ke dalam kamar. Malam itu berlalu begitu saja. Axel pergi beristirahat setelah menempuh perjalanan jauh yang melelahkan.


***


Malam berganti pagi, langit yang gelap sudah memudar dan kini langit berubah cerah disambut sinar sang mentari.


Seorang wanita sedang melakukan kegiatan rutinitasnya. Ya, wanita cantik itu berolah raga pagi, ia berlari kecil menyusuri jalan seorang diri. Merasa lelah berlari, kakinya memutuskan berhenti dari pergerakannya. Dan ia berdiri memandangi sekitar jalan yang sudah mulai ramai.


"Ahh, aku bosan sekali. Satu minggu di sini hanya begini-begini saja yang aku kerjakan," keluhnya sembari menghela napas panjang.


Wanita itu kembali melangkah, ia kembali berlari kecil dan pergi. Lama berlari, tibalah ia di sebuah rumah mewah yang tidak lain adalah rumahnya.


"Bi, di mana Kakak?" sapanya saat masuk ke dalam rumah dan bertemu pelayan rumahnya.


"Tuan masih di kamarnya, Nona." jawab pelayan ramah.


"Hah, pemalas!" serunya sedikit kesal. "Bi, hangatkan susu. Aku akan bangunkan si pemalas," katanya yang langsung pergi.


"Baik, Nona." jawab pelayan lagi.


Bibi pelayan hanya bisa menggelengkan kepalanya, dan pergi ke dapur untuk melanjutkan pekerjaanya.


***


Tok... Tok... Tok... Suara pintu diketuk.


"Kak, bangun! Ayolah, jangan jadi pemalas." teriak perempuan cantik itu memanggil-manggil Kakaknya.


Tok... Tok... Tok.... Pintu kembali diketuk.


"Kak Ric..." panggilnya keras-keras.


Pintu kamar terbuka perlahan, dari balik pintu terlihat sosok pria tampan yang baru saja bangun dari tidurnya.


"Rowena, tidak bisakah kau diam? aku libur kerja, aku ingin tidur. Kembali ke kamarmu," kata Ricardo pada Rowena, adiknya.


"Meski libur kau tidak boleh bermalas-malasan. Kau memanggilku ke Inggris hanya untuk ini?" keluh Rowena pada Kakaknya itu.


"Aku tidak memanggilmu, sayang. Bukankah kau sendiri yang bosan di sana?" jawab Ricardo tersenyum tampan.


"Ahh, sudah lupakan. Kau memang menyebalkan," gerutu Rowena memutar tubuhnya membelakangi Ricardo.


"Ayolah, sayangku. Jangan menggerutu. Ok. Apa yang kau mau sekarang?" tanya Ricardo.


"Temani aku jalan-jalan hari ini, kita berkencan." Kata Rowena menatap Ricardo penuh harap.


"Hei, berkencanlah dengan kekasihmu. Mengapa aku harus berkencan denganmu? Kakak tampanmu ini sudah memiliki kekasih," jawab Ricardo.


"Hah, kekasih apa? kekasihmu hanya tahu menghamburkan uangmu saja. Saat kau kesusahan dia selalu tidak ada di sisimu. Apakah itu yang dinamakan kekasih, yang tulus mencintai? sudahlah, putus saja dengannya." oceh Rowena, tidak menyukai prilaku kekasih Kakaknya.


"Rowena, jaga bicaramu. Jangan kasar," kata Ricardo tidak suka.


Rowena menghela napas panjangnya, "Hahhh ... Baiklah, Kak. Ini peringatan terakhirku. Aku punya firasat buruk tentang kekasihmu, Merry. Aku merasa dia hanya memanfaatkanmu," ucap Rowena dengan penuh keyakinan.


"Mengapa kau begitu yakin?" tanya Ricardo penasaran.


"Karena aku dan Merry sama-sama wanita. Aku bisa rasakan jika dia mengincar sesuatu. Semoga saja firasatku salah," jelas Rowena, "Aku ingin mandi dan sarapan," imbuh Rowena yang langsung pergi meninggalkan Ricardo.


Ricardo menatap kepergian adiknya, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ricardo merasa jika Rowena sangat tidak menyukai kekasihnya, Merry. Bahkan sejak awal Ricardo menjalin hubungan dengan Merry, Rowena sangat menentang hubungan tersebut.


"Tidak mungkin Merry seperti itu, dua Tahun bersama dia selalu jadi wanita yang baik. Mana mungkin dia seperti itu, mungkinkah Rowena hanya salah paham?" batin Ricardo.


"Ah, sudahlah. Belum tentu firasat Rowena benar. Lebih baik aku mandi dan sarapan. Perutku lapar," gumam Ricardo.


Ricardo kembali ke kamarnya dan bersiap untuk mandi.


***


Rowena selesai mandi, ia duduk di depan cermin sembari mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kering. Rowena menatap cermin, kekesalan masih ada dalam hatinya, manakala Ricardo membela Merry.


"Menyebalkan sekali. Andai saja aku bisa menguak semuanya. Sayang sekali aku tidak merekamnya. Ahhh... ini membuatku gila!" seru Rowena kembali dilanda emosi.


Rasa kecewa dan kesal berbaur menjadi satu. Namun, Rowena bertekad untuk membuktikan jika Merry bukanlah wanita yang tepat untuk Kakaknya. Merry adalah wanita yang sudah berkhianat, karena Rowena pernah memergoki Merry bersama laki-laki asing. Bahkan Merry terlihat intim dengan laki-laki asing itu.


Beberapa kali Rowena mengingatkan Ricardo akan pilihannya. Beberapa kali itu juga Ricardo seakan menolak peringatan Rowena dan membela Merry, mengatakan jika Merry adalah perempuan baik-baik. Sampai-sampai Rowena dan Ricardo pernah bertengkar hanya karena Merry.


Sebagai seorang adik, Rowena hanya ingin Kakaknya bahagia. Sejak awal mengenal Merry, ia sudah tidak menyukai Merry. Karena harus merawat neneknya yang sakit, ia harus tinggal terpisah dengan Ricardo. Selama tinggal terpisah, ia tidak bisa terlalu mencampuri urusan Ricardo dengan Merry, dan selalu berharap jika Kakaknya akan berakhir dengan Merry. Ingin Kakaknya dan kekasihnya berpisah. Namun, pada kenyataanya sampai dua tahun hubungan keduanya masih saja terjalin. Bahkan Ricardo terlihat semakin memendam rasa pada Merry.


Dua hari di Inggris, Rowena pergi makan siang dan secara tidak sengaja memergoki Merry makan siang dengan laki-laki asing. Hal itu tentu membuat seorang Rowena curiga dan penasaran, karena terlalu fokus mengintai ia lupa untuk merekam atau memfoto sebagai bukti untuk diberikan pada Ricardo.


Tentu saja, saat Rowena menceritakan pada Ricardo, Ricardo hanya menanggapi dengan senyuman dan menyangkal adanya perselingkuhan. Hal itulah yang kini disesali Rowena, andai waktu kembali berputar, ia akan merekam dan membongkar perselingkuhan Merry dengan pria asing saat itu di depan Ricardo.


Rowena mengambil napas dalam lalu mengembuskan napas perlahan, "Bagaimanapun, aku akan cari bukti. Wanita licik itu tidak pantas menjadi bagaian keluarga Haeyse. Sebaiknya aku mengirim mata-mata untuk mengawasi gerak-gerik wanita jahat itu. Aargghhh ... aku sangat kesal," batin Rowena marah. masih dengan menatap tajam ke arah cermin.


"Sudahlah, aku akan cepat keringakan rambut dan sarapan. Memikirkan wanita licik itu terus juga tidak akan ada gunanya bagiku," ucap Rowena yang langsung bangkit berdiri dari duduknya.


Rowena segera berjalan mendekati lemari pakaian dan memilih pakaian gantinya. Dengan cepat ia mengeluarkan pakaian dan berganti pakaian. Setelah selesai berganti, ia segera mengambil pengering rambut dan mengeringkan rambut hitam panjangnya yang masih setengah basah agar cepat kering seluruhnya.