Axel Williams

Axel Williams
Bab 51.



"Tidurlah, jangan sampai aku ulangi ucapanku untuk yang ketiga kalinya. Atau aku akan menambahkan dua bulan masa kontrak kerjamu," ancam Axel.


"Oke, oke, aku patuh. Aku akan kembali tidur," jawab Rowena yang lebih memilih patuh dibandingkan harus menerima kenyataan masa kerjanya akan ditambah.


Melihat Rowena yang patuh, membuat Axel ingin menggoda Rowena. Dikecupnya lembut tengkuk leher Rowena berulang-ulang. Tangan Axel juga dengan sengaja menyelinap kebaju tidur Rowena, mengusap perut Rowena.


Rowena menggigit bibir bawahnya berusaha menahan godaan. Ia tidak bersuara sedikitpun.


Kecupan Axel beralih keleher, lalu telinga. Axel mengendus telinga Rowena, menggigit dan menghisap-hisap daun telinga Rowena.


"Ssh, Axel hentikan," kata Rowena mulai tidak nyaman.


Axel tidak menghiraukan, ia masih memancing Rowena dengan sengaja. Membuat Rowena mengeluarkan suara seksinya itulah tujuan Axel.


"Axel," panggil Rowena dengan suara tertahan.


"Hm?" gumam Axel masih terus mengendus.


Rowena mencengkram kuat tanga Axel yang kini beralih kepahanya. Digenggamnya erat jemari Axel, agar tidak bergerak semakin liar.


Merasa pergerakannya akan membuahkan hasil, Axel semakin gencar melakukan serangannya.


Tidak tahan lagi, Rowena berbalik dan menatap tajam kearah Axel. Rowena merasa kesal, digodai Axel.


"Hentikan," ucap Rowena.


"Tidak," tolak Axel.


"Ax," belum seleaai Rowena memanggil namanya, Axel sudah lebih dulu membungkam bibir Rowena dengan ciumannya.


Diciumnya lembut bibir mungil milik Rowena. Entah mengapa Axel menjadi tidak tahan manakala ia harus melihat bibir merah merekah milik Rowena, padahal sebelumnya ia bertekat untuk menjauhi Rowena apapun yang terjadi.


Ciuman lembut perlahan memanas, Axel berhasil menyelinapkan lidahnya masuk dalam mulut Rowena, ia juga menghisap-hisap lembut bibir atas Rowena. Rowena enggan untuk menolak, ciuman itu seakan membiusnya untuk pasrah menerima.


Rowena mengusap dada bidang Axel, ia menyelinapkan tangannya masuk dalam piama Axel, ia menemukan celah menggoda balik pria nakal di hadapannya.


Axel melepas ciumannya, "Oh, ingin bermain-bermain rupannya," ucap Axel tersenyum tipis.


Rowena hanya tersenyum, tangannya meraba perut sexy Axel juga dada Axel. Axel kembali mencium kilas bibir Rowena, lalu menciumi leher Rowena. Axel kembali mencium bibir Rowena, mengigit lembut bibir Rowena. Rowena membalas ciuman Axel, mereka pun berciuman panas.


***


Ciuman keduanya terlepas. Axel meraba wajah Rowena dan mengecup lembut kening Rowena dengan durasi cukup lama. Karena gemas dan ingin terus menempel pada Rowena, Axel pun mendekap erat Rowena sampai Rowena berteriak ingin dilepaskan.


Rowena kaget, tiba-tiba saja Rowena melebarkan mata, "Hei, posisi apa ini? lepaskan pelukanmu," kata Rowena.


Rowena meronta ingin dilepaskan. "Ini sesak, Axel." lanjutnya bersuara.


"Tidak," tolak Axel segera. "Aku tidak akan melepaskanmu. Aku ingin seperti ini, ingin terus memelukmu." lanjutnya terus mendekap Rowena bahkan semakin erat.


"Axel, posisiku tidak nyaman. Biarkan aku mengubah posisiku, ok. Pelukanmu terlalu erat." bujuk Rowena agar ia bisa bergerak bebas.


"Berjanjilah, kau akan temani aku. Jika tidak maka aku tidak akan lepas," kata Axel memberikan syarat.


"Situasi apa ini? ah, pria ini selalu saja seenaknya. Selalu saja ingin untung dan merugikanku," batin Rowena.


Axel merenggangkan pelukan, perlahan-lahan pelukannya terlepas. Rowena bebas sekarang, ia pun segera mencari posisi yang nyaman. Rowena berbaring, diikuti Axel. Posisi Rowena ada samping Axel, ia menemani Axel.


"Aku tidak bohong, kan? aku di sini menemanimu," kata Rowena tersenyum menatap Axel.


Axel memeluk Rowena, "Ya, terima kasih." jawab Axel merasa senang.


Rowena merasa aneh saat Axel memeluknya, ia tidak bisa menolak juga tak ingin melepaskan dekapan Axel. Ia merasa pelukan Axel selalu membuatnya nyaman dan terasa aman. Semakin lama dipeluk, semakin enggan untuk terlepas. Rowena tahu jika ia harus terbiasa dengan sikap Axel yang seperti ini.


"Apa kau punya masalah? kau bisa cerita kepadaku," kata Rowena.


Axel diam tidak menjawab, begitu juga Rowena yang langsung diam. Suasana hening dan sunyi malam itu. Tidak ada suara yang terucap walau sepatah kata pun dari bibir Axel ataupun Rowena. Sampai akhirnya, Axel angkat biacara beberapa detik berikutnya.


"Aku tidak apa-apa. Aku hanya merindukan keluargaku, Mama dan Adikku." jawab Axel.


"Mama dan Adik? jika kau rindu kenapa tidak kau datangi saja mereka?" jawab Rowena menanggapi ucapan Axel.


"Aku tidak ingin bertemu dua orang lain yang membuatku kesal. Seorang yang selalu menuntutku untuk sama dengan anak kesayangannya. Aku selalu disudutkan, aku dipandang sebelah mata, hanya karena aku tidak tumbuh bersama mereka. Salahkah, jika aku seperti ini? berpisah dengan meraka juga bukan kemauanku. Aku selalu berusaha agar aku terlihat baik, namun pada akhirnya aku hanya menelan rasa kecewa. Tidak ada orang yang bisa memahamiku," jelas Axel.


Axel menceritakan apa yang ia rasakan, apa yang ia jadikan beban pikirannya selama ini kepada Rowena.


Mendengar cerita Axel, meski Rowena masih tidak memahami, tetapi ia merasa kasihan. Ia mengubah posisinya lagi, ia memeluk Axel dan mengusap kepala juga punggung Axel. Ia menepuk pelan punggung Axel, sekaan menghibur Axel.


"Jangan sedih. Kau adalah pria tangguh yang aku temui. Jika itu Kakakku pasti sudah akan berbeda cerita." kata Rowena mencoba menenangkan Axel.


Axel membuka matanya dan menatap Rowena. Begitu juga Rowena yang menatap Axel. Pandangan keduanya saling bertemu. Saat saling memandang, tangan Rowena tidak diam. Tangannya mengusap lembut kepala Axel dan Rowena menorehkan senyuman. Melihat senyuman Rowena, juga mendapat perlakukan seperti itu dari Rowena. Axel merasakan jantungnya berdegup kencang. Degupan jantung Axel semakin cepat dan tidak terkendali.


Deg ... deg ... deg ...


"Jangan tersenyum," kata Axel manatap dalam mata Rowena.


Rowena mengernyitkan dahi, "Kenapa?" tanya Rowena menatap tajam ke arah Axel.


"Kenapa tidak boleh tersenyum?" tanya Rowena lagi. Ia penasaran ingin tahu apa sebabnya ia tidak boleh tersenyum.


"Jangan memancingku. Jangan membuatku berdebar," sambung Axel sesaat setelah Rowena bertanya. Ia mengakui perasaanya yang berdebar.


Rowena mencerna ucapan Axel dan tidak lama kemudian tertawa, "Hahaha ... dasar kau. Apa maksudmu? tidurlah, kau sudah cukup bicara melantur." kata Rowena menanggapi ucapan Axel.


"Kenapa kau mau menuruti semua keinginnaku, Rowena? kenapa kau tidak menolakku?" tanya Axel penasaran.


"Tidak alasan untukku menolak. Karena aku adalah pekerja kontrakmu. Aku terikat olehmu," jawab Rowena.


"Jika tidak terikat, kau akan menolakku?" tanya Axel lagi.


"Tentu saja. Untuk apa aku mengiyakan ucapanmu. Kau bukan siapa-siapa bagiku," kata Rowena tanpa ragu.


"Begitu, ya." ucap Axel sedikit kecewa.


"Begitu apa?" tanya Rowena lagi.


"Ternyata kau juga tidak menyukaiku. Terima kasih sudah jujur mengatakan perasaanmu," kata Axel yang langsung murung.