
"Pa, apakah Papa akan menemui Axel?" tanyanya pada Papanya.
"Ya, tentu saja. Papa akan usakahan bertemu denganya walau sibuk. Bibimu Lovely meminta Papa untuk melihat keadaanya." jawaban Papanya.
"Tapi, Flip," kata wanita di hadapan Flip, yang tidak lain adalah istrinya, Naomi.
"Ya, ada apa?" tanya Flip.
"Apakah kau yakin akan baik-baik saja? bukan aku berpikir macam-macam, hanya saja Lovely bilang jika Axel mirip seperti Andrew. Jadi ... " kata-kata Naomi terputus, Naomi langsung terdiam.
"Tidak apa. Sifat buruk dan baik orangtua pasti akan menurun pada anak-anaknya. Bukankah putrimu Filmoon juga?" jawab Flip tersenyum tampan.
"Kau benar. Aku terlalu banyak berpikir," kata Naomi.
Flip memegang tangan Naomi dan mengusap punggung tangan Naomi untuk menenangkan hati Naomi. Naomi dan Flip saling menatap dan tersenyum. Disamping Flip, ada Moon yang juga tersenyum melihat hubungan kedua orangtuanya yang selalu harmonis dan hangat.
***
Rowena berada dalam kamarnya. Tiba-tiba saja, ia begitu merindukan Axel. Ia mengambil ponselnya dan langsung menghubungi Axel. Lama panggilannya terhubung, namun belum tersambung. Axel belum menerima panggilam dari Rowena. Tentu saja, itu membuat Rowena sedikit kesal.
"Ck, ke mana dia?" batin Rowena menatap layar ponselnya.
Rowena mencoba menghubungi Axel lagi. Namun, lagi-lagi Axel tidak menjawab. Ia terus mengulang panggilan sampai hampir lima kali. Dipanggilan terakhir, Rowena hampir saja menyerah. Ia sudah akan mengakhiri panggilannya, namun tiba-tiba saja ada jawaban di ujung telepon.
"Hallo," jawab Axel.
"Kau dari mana? kau ini, susah sekali dihubungi." gerutu Rowena.
"Maaf, Rowena. Aku sedang ada urusan tadi. Ada apa?" tanya Axel.
"Tidak jadi, kau menyebalkan." jawab Rowena kesal.
Axel tertawa, "Haha ..." ia pun langsung menggoda Rowena, "Apa kau merindukanku?" tanya Axel.
Rowena melebarkan mata, "Tidak. Siapa yang rindu? memang siapa kau harus aku rindukan?" jawab Rowena.
"Oh, begitu. Jadi tidak rindu, ya? ya sudah aku kembali pulang, ya. Bye," kata Axel.
Rowena mengangkat sebelah alisnya, "Eh, tunggu. Apa maksudnya?" tanya Rowena berpikir tidak lama ia melebarkan mata, "Jangan bilang, kau di rumahku, Axel?" tanya Rowena lagi memastikan.
"Hm, aku di depan rumahmu. Keluarlah. Ayo kita bertemu," kata Axel mengiyakan tebakan Rowena yang benar.
Rowena tersenyum senang, "Tunggu, ya. Tidak lama, hanya lima menit. Aku punya sesuatu untukmu," kata Rowena.
"Ya, tidak perlu terburu-buru. Aku akan menunggumu," jawab Axel tenang.
"Ok," jawab Rowena mengakhiri panggilannya.
Rowena tersenyum tipis, "Ada apa dengannya hari ini? manis dan lembut seperti es krim," batin Rowena senang.
Ia segera berganti pakaian dan pergi dari kamarnya untuk menemui Axel. Rowena bergegas, setengah berlari keluar dari rumahnya menghampiri mobil Axel.
Rowena mengatur napasnya pelan-pelan. Ia lalu membuka pintu dan masuk ke dalam mobil. Ia menatap Axel, Axel juga menatap Rowena. Keduanya saling bertatap muka.
"Kenapa lari?" tanya Axel.
"Ingin saja. Sekalian olah raga," jawab Rowena tersenyum.
"Jangan berlarian, nanti kau jatuh dan terluka. Kalau seperti itu, bagiamana kau akan bekerja?" kata Axel menjelaskan maksud ucapannya.
Rowena mengernyitkan dahi, "Oh, begitu. Kau hanya khawatir aku terluka dan tidak bisa bekerja. Ok, ok, terima kasih atas perhatianmu, Tuan." kata Rowena menggerutu.
Axel tersenyum, "Kau kesal, ya?" tanya Axel.
Melihat buket bunha di hadapannya, membuat Rowena terkejut. Ia langsung menatap Axel dan mengembangkan senyuman.
"Untukku?" tanya Rowena.
Axel menganggukkan kepala, "Ya. Ini untukmu," jawab Axel.
Rowena menerima buket bunga peemberian Axel. "Terima kasih, aku suka sekali." jawab Rowena tanpa memudarkan senyuman.
"Aku merindukanmu," bisik Axel di telinga Rowena. Embusan napas Axel bisa dirasakan Rowena.
"Sungguh?" jawab Rowena bepura-pura tidak percaya. Ia ingin menggoda Axel.
"Kau tidak percaya padaku?" tanya Axel mengernyitkan dahinya.
Rowena juga mengernyitkan dahinya, "Buktikan jika kau memang merindukanku," kata Rowena.
"Buktikan apa? kau ingin apa? kau ingin makan apa?" cecar Axel penasaran dengan permintaan Rowena.
"Kemarilah, dekatkan wajahmu." pinta Rowena menatap Axel.
Axel tidak menaruh curiga, ia mendekatkan wajahnya ke wajah Rowena. Tanpa banyak mengulur waktu, Rowena langsung mencium dan mengalungkan tanganya ke leher Axel.
Mata Axel melebar, "Apa ini? kenapa dia seperti ini? ciuman ini, benar-benar membuatku candu." batin Axel.
Tidak mau melewatkan kesempat emas. Axel dengan senang hati menerima dan membalas ciuman Rowena. Diciumnya gemas bibir ranum Rowena. Membuat bibir keduanya saling beradu.
Axel melepaskan ciuman, "Apa ini? kau menggodaku?"tanya Axel.
Rowena menganggukkan kepala, "Ya. Aku menggodamu. Kenapa? kau tidak suka? Lupakan saja jika tidak suka. Aku akan kembali masuk ke dalam rumah, jika begitu." kata Rowena.
"Hei, siapa juga yang bilang 'tidak suka' atau 'tidak boleh' ? Bukankah aku hanya bertanya saja? kau kenapa? sensitif sekali padaku," kata Axel bingung. Tidak mengerti apa yang dipikirkan oleh Rowena.
Rowena manatap Axel, "Aku ..." kata Rowena yang langsung diam.
"Aku ..." ulang Axel.
"Umh, itu. Jangan kau ledek, ya. Itu, sebenarnya aku juga merindukanmu. aku tidak tahu, seberapa besar riduku padamu. Namun, aku selalu merindukanmu saat aku jauh darimu." Jelas Rewena dengan seriusnya.
Axel tersenyum senang, mendapatkan pernyataan serius dari Rowena. Ia pun langsung menginjak pedal gas mobilnya dan membawa Rowena pergi bersamanya. Axel ingin menghabiskan waktu bersama Rowena, hanya dengan Rowena seorang.
*****
Sesampainya di rumah. Rowena dan Axel bersama-sama turun dari dalam mobil. Axel berjalan menghampiri Rowena, tanpa di duga-duga, Axel langsung membopong Rowena untuk masuk ke dalam rumah.
"Eh, apa yang kau lakukan? turunkan aku, Ax." kata Rowena setengah kaget. Ia tidak bisa mengerti apa maksud Axel membopongnya.
"Jalanmu lambat. Aku sudah tidak bisa tahan," jawab Axel.
"Tahan? tahan apa?" tanya Rowena bingung.
"Tidak tahan untuk ..." kata-kata Axel terhenti. Membuat Rowena semakin penasaran.
Axel membuka pintu kamarnya, ia berjalan mendekati ranjang dan membaringkan Rowena di tempat tidur empuknya dengan gerakan perlahan dan hati-hati. Kedua mata saling menatap dalam, Axel dan Rowena saling melemparkan senyuman.
"Kau kenapa? tingkahmu aneh," kata Rowena.
"Begitukah?" jawab Axel masih lekat menatap Rowena.
"Iya, kau ..." kata-kata Rowena terhenti. Axel membungkam bibir Rowena dengan bibirnya agar Rowena tidak banyak bicara lagi.
Rowena hanya bisa melebarkan mata. Ia sempat terkejut, tetapi juga senang. Hatinya berdebar tidak karuan. Axel bersikap manis juga sedikit liar. Puas menikmati perannya Axel memberi kesempatan pada Rowena untuk lebih aktif. Tidak melewatkan kesempatan, Rowena pun beraksi memanfaatkan waktu yang diberikan Axel padanya