Axel Williams

Axel Williams
Bab 37.



Beberapa hari berlalu, Rowena dengan sabar merawat Axel. Ia juga mulai belajar memasak dengan arahan Axel. Meski sempat kesusahan dan masakannya gagal berulang-ulang, tidak membuat Rowena menyerah untuk bisa menyaingi kemampuan Axel.


***


Pagi itu, sarapan spesial dihidangkan. Kentang panggang dengan rasa gurih yang menggoda.


"Makanlah, aku berusaha beras untuk membuat ini. Jangan berkomentar buruk, atau aku akan kesal padamu." kata Rowena.


Axel tersenyum tipis, "Aku akan coba. Jika ini enak aku akan berikan bonus padamu. Kau bisa pulang ke rumahmu untuk satu minggu," jawab Axel.


Rowena terkejut, "Sungguh? wah, wah, apa ini? apakah kau salah minum obat?" goda Rowena.


"Berharaplah ini seenak yang aku bayangkan. Jika rasanya tidak memuaskan jangan harap kau pergi," jawab Axel.


Axel mengambil sendok, ia langsung menyendok kentang panggang di piringnya dan menikmatinya. Di sampingnya, ada Rowena yang berharap masakannya memuaskan Axel. Selain ia senang bisa kembali pulang, ia juga senang ia berhasil membuat kentang seenak buatan Axel.


Axel mengecap-kecap merasakan rasa kentang panggang itu. Axel pun menatap Rowena, ia melihat Rowena penuh harapan dengan masakannya.


"Bagaimana?" tanya Rowena.


Axel mengangguk, "Ini enak," kata Axel.


"Jadi," sambung Rowena.


"Jadi, hmmm, jadi apa lagi? pulanglah, Kakakmu juga pasti merindukanmu. Aku tidak ingin dicap sebagai seorang penjahat yang menawan seorang wanita di rumahku." kata Axel.


Rowena senang, ia bersorak kegirangan. Rowena tersenyum lalu berdiri dan mencium kilas pipi Axel.


"Terima kasih, Tuanku. Kau memang hanya jahat di luar," puji Rowena. Ia tanpa sadar membuat Axel merona karena sudah mencium pipinya.


Axel terkejut, "Ka, kau, apa yang kau lakukan?" kata Axel melebarkan mata menatap Rowena. Ia merasa malu sekaligus terkejut.


"Kenapa apa? aku memberimu hadiah, sebagai ungkapan rasa terima kasihku karena kau izinkan aku pulang." jawab Rowena dengan polosnya.


"Aku tidak perlu hadiahmu! jangan membuatku geli dengan tingkahmu," kata Axel dingin.


Rowena tertawa kecil, "Bilang saja kau malu. Wajahmu merona," ejek Rowena.


Axel menunduk, ia merasa malu. Jantungnya memang berdegup saat kecupan kilas dari Rowena mendarat di pipinya. Axel tidak menyangka jika Rowena akan menciumnya dengan tiba-tiba.


"Kapan kau akan pulang?" tanya Axel.


"Hmm, entahlah. Aku tidak ingin buru-buru pulang sebenarnya. Namun, karena kau sudah baik hati, aku akan pulang besok, bagaimana?" usul Rowena.


"Terserah kau saja. Waktumu hanya satu minggu, tidak kurang ataupun lebih. Manfaatkan dengan baik waktu yang aku berikan," kata Axel menegaskan.


"Dimengerti, Tuan. Silakan habiskan kentang panggangnya. Setelah ini aku harus bereskan halaman belakang rumah," ucap Rowena yang juga langsung menikmati sarapannya.


Keduanya begitu menikmati sarapan pagi itu. Setelah sarapan Axel berpamitan untuk pergi ke kantor.


"Aku pergi dulu. Jaga diri dan rumah baik-baik," kata Axel.


"Ya, kau juga hati-hati mengemudi." jawab Rowena memperingatkan.


"Hm," gumam Axel menyahuti peringatan Rowena.


Axel meninggalkan Rowena, Rowena menatap kepergian Axel. Rowena menghabiskan sarapannya dan segera membersihkan meja makan juga mencuci piring. Setelah pekerjaan dapur selesai, ia segera pergi ke halaman belakang rumah untuk membereskan apa yang ada di sana.


***


Axel sampai di kantor. Ia sudah duduk dan fokus pada pekerjaannya. Pintu ruangan diketuk, seseorang masuk dan menyapa Axel.


"Selamat pagi, Tuan. Saya menyerahkan dokumen yang kamarin Anda minta," kata Adele, sekertaris pribadi Axel.


"Baiklah, terima kasih." jawab Axel.


Axel memalingkan wajah dari komputer ke arah Adele. "Ya?" jawab Axel.


"Saya mendapat panggilan dari Tuan Andrew. Beliau mengatakan jika Anda tidak pernah mau menerima panggilan beliau," kata Adele.


Axel menghela napas panjang, "Baiklah. Aku mengerti, jika kau dihubungi lagi, kau bisa sampaikan jika aku baik-baik saja. Minta mereka untuk tidak khawatir, kau mengerti?" kata Axel.


"Saya mengerti. Saya permisi, Tuan." pamit Adele.


Axel membuka laci meja kerjanya dan melihat ponselnya, ia melihat ada panggilan dan pesan yang masuk. Banyak panggilan tidak dijawabnya, ada dari Mama, Papa, Azel sampai Alica.


"Memperlakukanku seperti anak kecil saja," gumam Axel.


Axel meletakan kembali ponselnya dan menutup laci meja kerjanya. Ia kembali fokus pada layar komputernya. Ia tidak ingin memusingkan diri dengan panggilan yang sudah tau akan mengarah ke mana perbincangannya.


***


Di luar ruangan Axel. Joe dan Adele bergosip. Mereka diam-diam membicarakan atasan mereka.


"Hei, apa kata Tuan?" tanya Joe.


"Tuan hanya ingin aku menyampaikan pada Tuan besar, jika Tuan baik-baik saja dan tidak perlu khawatir." jawab Adele.


"Oh, begitu. Aku kira beliau akan marah mendengar Tuan besar menghubungimu untuk mencarinya," sahut Joe.


"Tidak, Tuan tidak terlihat marah. Tuan hanya mengehela napasnya," jawab Adele yang fokus menatap layar komputernya.


"Untung saja semenjak di sini, Tuan tidak pernah marah-marah lagi. Tidak pernah mengomel dan komentar ini itu. Jantungku terselamatkan," kata Joe.


"Haha, kau ini. Berapa tahun kau ikut Tuan? sebagai orang yang lebih lama dibandingkan aku, kau harusnya tau benar seperti apa atasanmu." sahut Adele mengomentari ucapan Joe yang berada tidak jauh darinya.


"Jangan mengejekku, lihatlah kau sendiri. Dulu di awal-awal kau bekerja. Kau terus saja mengeluh padaku setiap hari. Lelah, bosan, sakit hati. Sekarang saja berbicara manis," ejek Joe, tidak terima dengan komentar Adele.


Adele hanya tertawa, "Hahaha, jika diingat-ingat benar juga." jawab Adele. Ia kembali mengingat pada masa pertama kalinya ia datang ke kantor.


"Oh, kau tau? ada seorang wanita di rumah Tuan." kata Joe menatap Adele.


Adele melebarkan mata, "Apa? wa, wanita?" kaget Adele yang langsung menatap Joe.


"Sstttt," desis Joe menempelkan jari telunjuknya di bibirnya sendiri. "Jangan keras-keras. Kau ingin Tuan keluar dari ruangannya?" lanjut Joe berbicara sembari menatap pintu ruangan Axel.


Adele mengangguk cepat, "Ok, ok. Katakan padaku, siapa wanita itu?" tanya Adele penasaran.


"Entahlah," jawab Joe diikuti kedua bahunya yang terangkat. "Tuan kita sepertinya sedang bermain rahasia," lanjutnya berkomentar.


"Kau ini bagaimana, kau kan Asistennya. Tidakkah kau tahu apa-apa?" desak Adele.


"Kau Sekretarisnya. Apa kau juga tidak tahu apa-apa?" jawab Joe balik bertanya.


Perdebatan antara Joe dan Adele berlangsung. Mereka saling mengkritik dan menganggap pendapat masing-masing benar.


***


Joe sedang merapikan dokumen di ruangan Axel. Axel selesai bekerja dan ingin pulang. Ia mengenakan jasnya dan menatap ke arah Joe.


"Kau tidak pulang, Joe?" tanya Axel.


Joe memalingkan wajah ke arah Axel dan tersenyum, "Ya, Tuan. Saya akan pulang setelah merapikan beberapa dokumen." jawab Joe.


"Ok," Jawab Axel.


"Aku bawakan apa untuk Rowena ya? coklat, cake atau bunga?" batin Axel.


Axel memikirkan apa yang ingin ia berikan untuk Rowena sebagai ucapan terima kasih.