Axel Williams

Axel Williams
Bab 28.



Rowena memajukan bibirnya kesal, "Kau ini, aku memujimu. Kau tidak berterima kasih atau tersentuh sedikitpun Menyebalkan," gerutu Rowena.


"Aku tidak butuh dipuji. Aku sudah sering dipuji, dan sering juga diejek olehmu, dengan kata 'Menyebalkan'," jawab Axel.


"Kenapa harus ada pria semenyebalkan dia, astaga, aku sungguh akan gila dibuatnya. Huh," batin Rowena mengeluh.


Axel terdiam, ia dengan lahap memakan masakannya, begitu juga Rowena. Meski kesal pada Axel, Rowena tidak bisa mengabaikan makanan lezat di hadapannya. Sungguh itu adalah makanan rumah terenak pertama yang dimakannya.


"Rasa ini sungguh luar biasa. Aku sangat suka," batin Rowena melahap makanan buatan Axel.


Axel melirik ke arah Rowena. Rowena sedang asik makan dan terlihat sangat menikmati. Axel mengalihkan pandangannya pada Rowena, ia teringat Alica yang selalu lahap makan di mana pun itu. Baik di rumah maupun di restorant.


"Sudah sebulan aku di sini. Bagaimana keadaan Mama dan Alica? juga Paman Rey?" batin Axel. Tiba-tiba memikirkan Lovely, Alica dan Reynold.


Rey meletakan sendok, ia mengambil ponselnya di atas meja dan membuka pesan di ponselnya. Banyak pesan masuk, ada dari Lovely, Alica, juga Rey. Andrew dan Azel juga mengirim beberapa pesan untuk Axel. Axel mengernyitkan dahi saat melihat nama Papanya dan saudara kembarnya mengirim pesan padanya.


"Huh, tidak perlu berlebihan ingin tahu keadaanku. Aku tidak butuh perhatian kalian," batin Axel terlihat kesal.


Satu persatu pesan dibuka Axel, ia membuka pesan dari Lovely. Lovely bertanya kabar dan keadaan Axel di Inggris. Lovely juga bertanya apakah Axel mengaalami kesulitan atau butuh sesuatu, terlihat Lovely begitu mencemaskan Axel. Tidak hanya itu, Lovely juga mengatakan jika dia merindukan putranya, Axel. Berharap selalu baik dan sehat, dijauhkan dari hal buruk dan selalu diberkati.


Bibir Axel tersenyum tipis saat membaca pesan Mamanya. Bagaimanapun Axel memang lebih menuruti dan lebih memilih berkomunikasi dengan Lovely ketimbang Andrew atau Azel.


Dengan lincah tangan Axel membalas pesan. Axel mengatakan jika ia baik-baik saja, dan meminta Lovely untuk tidak khawatir.


Axel membaca pesan dari Reynold. Rey memberikan pesan agar Axel berhati-hati dan selalu menjaga kesehatan. Rey mendoakan Axel bisa segera menyelesaikan pekerjaannya dan kembali. Axel langsung membalas pesan Reynold.


Pesan terakhir yang dibacanya adalah pesan dari Alica. Alica bahkan mengirim foto Alica dan dirinya dengan keterangan 'Aku merindukanmu Kakakku sayang', itu membuat Axel mengembangkan senyuman. Axel langsung membalas pesan Alica dengan segera.


Rowena mengamati Axel yang ada di hadapannya dengan seksama. Axel tidak sadar jika Rowena sedang mengamatinya, Rowena melihat Axel tersenyum menatap ponselnya sendiri.


"Pria ini, sebentar baik, sebentar mengesalkan, sebentar mengejutkan. Sekarang dia tersenyum tampan seperti ini. Hah, Rowena ayo sadar, dia adalah malaikat berhati iblis. Dia bersayap juga bertanduk," batin Rowena.


Pandangan Rowena berpaling sejenak, tidak lama kemudian ia kembali menatap Axel. Axel mengalihkan pandangannya, ia tidak sengaja menatap Rowena, memergoki Rowena sedang menatapnya. Pandangan kedunya bertemu.


"Kenapa menatapku?" tanya Axel mengubah ekspresi wajahnya yang semula tersenyum menjadi wajah datar bersuara dingin.


"Ti, tidak ada. Siapa yang menatapmu, memangnya kau se-keren apa sampai aku harus menatapmu." jawab Rowena beralasan.


"Benar juga. Kakakmu jauh lebih keren bukan?" ucap Axel.


Axel menyudahi sarapannya, ia berdiri dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan Rowena seorang diri. Rowena terdiam, sejujurnya tidak bermaksud untuk mengejak Axel atau membanding-bandingkan Axel dengan Kakaknya, tapi karena Rowena kesal jadi ia berbicara asal saja. Rowena kembali makan, ia menghabiskan sarapannya dengan lahap.


Selesai sarapan, ia lantas pergi ke dapur dengan membawa piring dan peralatan makan yang kotor untuk dicuci. Rowena juga mengelap meja dan membersihkan lantai. Rowena membersihkan semuanya sampai meja yang di dapur juga. Rowena langsung mencuci piring setelahnya selesai bersih-bersih.


Tepat pukul tujuh pagi, Rowena dan Axel berangkat. Dengan menggunakan mobil sebagai tumpangan mereka, Axel dan Rowena duduk bersebelahan di dalam mobil yang sama. Sebelumnya Axel dan Rowena sempat berdebat, karena Rowena memilih duduk di belakang. Sampai akhirnya Rowena mengalah dan menuruti permintaan Axel untuk duduk di depan, di samping bangku kemudi.


"Kau ini, hal kecil saja diributkan. Kekanakan," keluh Rowena.


"Hei, Nona Haeyse. Dengar baik-baik ucapanku, saat naik mobilku, kau harus duduk di sampingku. Jangan besar kepala, aku tidak ingin terlihat seperti supirmu. Mengerti," kata Axel tegas.


"Baiklah, Tuan Williams. Aku akan ingat semua yang kau katakan, oke." jawab Rowena menahan amarah. Tidak ingin berdebat lebih jauh lagi dengan Axel.


Perdebatan berakhir, Rowena dan Axel pergi meninggalkan rumah menuju suatu tempat yang berada di luar kota. Axel mendapatkan sebuah undangan pesta dari seseorang di luar kota. Karena ingin menunjukan muka, Axel pun mau tak mau pergi menghadiri pesta itu. Oleh karena itu Axel mengajak Rowena pergi bersamanya, Axel ingin Rowena menjadi wanita pendampingnya saat menghadiri pesta.


***


Axel dan Rowena saling diam sepanjang perjalanan. Sampai saat Rowena memberanikan diri untuk bertanya sesuatu hal pada Axel.


"Hei, boleh aku bertanya?" kata Rowena.


"Ya," jawab Axel singkat.


"Kau mempunyai saudara?" tanya Rowena.


"Punya," jawab Axel.


"Berapa? pria atau wanita?" tanya Rowena lagi.


"Keduanya," jawab Axel lagi.


"Oh, begitu. Apakah kau pernah ke sini sebelumnya? maksudku ke Inggris," ucap Rowena memalingkan wajah menatap jalanan yang ramai.


"Ya, pernah sekali. Ini kali kedua, dan kali ini cukup lama aku tinggal. Ada apa?" tanya Axel melirik ke arah Rowena yang menatap ke luar kaca mobil.


"Tidak ada. Hanya bertanya saja," jawab Rowena.


Axel merasa kepalanya sedikit sakit, tiba-tiba kepalanya pusing dan terasa berat. Pandangan matanyanya juga buram, hanya terlihat samar-samar. Axel mengedip-ngedipkan mata beberapa kali, tapi pandangannya semakin buram. Axel tidak tahan lagi, ia segera menepikan mobilnya dan menghentikan laju mobilnya dengan segera.


Hal aneh terjadi. Axel membuka mata dan melihat ia sudah berada di suatu tempat. Ya, ia ada di sebuah supermarket yang sedang ramai pengunjung. Axel merasa bingung, ia melihat sekeliling dengan seksama. Axel berjalan perlahan, ia melihat dari jauh seseorang yang tidak asing dilihatnya. Matanya terkejut, saat ia mengetahui jika seseorang itu tidak lain adalah Rowena.


Axel memanggil Rowena dan menghampiri Rowena namun Rowena mengabaikannya. Axel mengikuti Rowena, terus memanggil Rowena. Kebingungan dirasakan Axel, Rowena seperti tidak melihatnya sama sekali. Seperti tidak menyadari keberadaannya.


Axel terus mengikuti Rowena. Sampai Rowena tiba suatu tempat, yaitu rak khusus makan ringan. Rowena tersenyum dan mengambil beberapa bungkus makanan ringan, dipeluknya beberpa bungkusan itu dan ia hendak pergi.


Sesuatu terjadi, Rak tinggi yang dipenuhi makanan ringan itu tiba-tiba saja roboh dan menimpa Rowena. Axel terkejut, Rowena yang dilihatnya tertimpa rak besi, tenggelam dalam tumpukan bungkus makanan ringan. Darah mengalir ke arah Axel, Axel menyadari jika Rowena terluka parah. Axel gelisah, ia khawatir dan panik. Mulutnya berteriak meminta pertolongam tetapi seakan tidak ada yang mendengarnya