Axel Williams

Axel Williams
Bab 11.



Sebelumnya...


Azel pergi ke kamar mandi, di kamar mandi setelah selesai mencuci tangan dan mengeringkan tangan. Azel mengeluarkan ponselnya dari balik jasnya, ia melihat ada pesan masuk dari Alica.


Pesan dari Alica Williams untuk Azel.


"Kak, bisa jemput aku di panti asuhan?"


Azel mengerutkan dahi, "Bagaimana bisa menjemputnya. Aku dan Papa masih bicarakan hal yang sangat serius. Lebih baik memintanya dijemput oleh supir saja," batin Azel.


Azel pun mengetik pesan untuk Alica, Azel meminta Alica menghubungi supir.


Untuk Alica Williams dari Azel.


"Aku ada bersama Papa, Alica. Kami sedang berbincang dan membahas pekerjaan penting. Lebih baik kau hubungi saja supir, dan meminta untuk menjemputmu. Oke?"


Tidak lama mengirim pesan, ponsel Azel kembali bergetar. Ternyata Alica sudah membalas pesan Azel.


Dari Alica Williams untuk Azel.


"Oke, Kak. Semangat bekerja, aku menyayangimu."


Membaca pesan Alica, Azel menorehkan senyuman manisnya. Azel tahu, adik kesayangannya Alica pasti akan mengerti keadaanya.


"Imut sekali adikku ini," gumam Azel tersenyum.


Azel kembali menyimpan ponselnya dibalik saku jasnya. Azel harus segera kembali menemui Papa dan rekan bisnis perusahaannya.


***


Semua pekerjaan telah selesai dikerjakan Axel. Axel ingin pergi ke rumah Reynoold, namun ia melupakan sesuatu. Ya, ia meninggalkan hadiah yang akan diberikannya pada Reynold. Sudah lama ia menyimpan hadiah itu, saat ingin memberikannya pada Reynold, ia selalu saja lupa.


Axel terpaksa harus pulang ke rumah untuk mengambil hadiah tersebut. Saat kembali ke rumah, Axel justru di hadapkan dengan hal yang tidak terduga. Lovely memintanya untuk pergi menjemput Alica yang entah berada di mana saat ini.


[Axel]


Aku keluar dari mobilku, kakiku melangkah perlahan masuk ke dalam rumah. Ya, rumah yang sudah aku tinggali selama kurang lebih tujuh belas tahun lamanya.


Baru saja aku melewati ruang tamu, dan aku pun sudah berada di ruang tengah saat ini. Aku merasa haus, mungkin lebih baik minum dulu sebelum aku ke kamar mengambil hadiah untuk Paman Reynold.


"Axel, boleh bantu Mama?" Suara yang tidak asing di telingaku. Ya, itu suara Mama yang tiba-tiba meminta bantuan padaku.


Aku mendengar suara Mamaku yang tiba-tiba saja menghentikan langkahku. Bantuan apa yang diinginkan Mama? Hm... aku selalu tidak bisa mengabaikan Mama begitu saja. Jujur saja dari semua penghuni rumah ini, aku hanya bisa memahami karakter Mama seorang.


Beliau seorang yang baik, di mana ada Mama yang buruk? ah, bisa-bisanya aku bicara omong kosong seperti ini.


Aku menghentikan langkahku dan bertanya pada Mama, "Ada apa, Ma?" tentu saja aku masih dengan wajah datarku, karena aku bukanlah orang yang pandai ber-ekspresi.


Mama menatapku, aku juga menatapnya. Aku menunggu apa yang Mama inginkan. Aku bisa melihat Mama penuh harap padaku, tapi apa? apa yang Mama ingin aku lakukan?


"Kau sibuk? bisa jemput Alica?" tanya Mama padaku.


Aku membuang muka, "Tentu sibuk. Aku haus ingin minum dan ambil sesuatu di kamarku," kataku yang langsung pergi ke dapur.


Sungguh, aku tidak bisa menolak. Tatapan matanya penuh harap padaku, seakan Mama membiusku, aku pun lewat di dekatnya dan bicara setengah berbisik.


"Mama kirim alamatnya padaku," ucapku lagi yang langsung pergi mendekati meja makan.


"Oke," jawab Mama terlihat senang.


Aneh sekali bukan? dari banyaknya orang aku tidak bisa berkata 'tidak' pada wanita paruh baya yang tidak lain adalah Mama kandungku, Lovely.


Papaku? jangan tanyakan beliau. Aku tidak suka padanya, selalu menekan dan mengekang apa yang aku inginkan. Aku tidak pernah menuntut apa-apa selama ini. Namun, mengapa semua yang aku lakukan seakan salah dan lebih buruk dari pekerjaan Azel?


Dari awal Papaku 'Andrew' tidak menyukaiku. Mungkin karena aku adalah anak yang suka membantah dan selalu saja menolak apa permintaannya sejak aku datang ke sini, ke rumah ini.


Azel dan Alica, mereka adalah saudara kembar dan adikku. Aku tidak bisa dekat atau akur dengan mereka, bukan karena aku tidak suka, tetapi aku tidak terbiasa dengan kehadiaran mereka yang tiba-tiba.


Sepuluh tahun aku hidup bersama Paman Reynold. Aku menghabiskan waktuku untuk tinggal berpindah, dari kota satu ke kota lain, tidur di mana saja asalkan bisa tidur. Makan? tentu saja makan apa yang ada, sering tidak makan pun aku alami. Belajar dan sekolah? aku selalu diam-diam menyelinap dalam sekolah dan mengintip dari jendela ruang kelas, dari situlah aku belajar. Karena aku sering membatu kantin sekolah-sekolah untuk sekedar mencuci piring atau membersihkan dapur kantin tersebut.


Drrttt....


Ponselku bergetar, aku meneguk habis air dalam gelas yang ada di tanganku. Perlahan kuletakkan gelas dan aku mengelurkan ponselku dari balik saku jasku.


Ada pesan masuk dari Mama, Mama memberiku sebuah alamat. Hm, aku sudah membaca pesan dan kembali memasukkan ponsel dibalik jasku. Langkah cepatku membawaku ke luar rumah, aku kembali masuk dalam mobil dan mengemudi mobilku menuju lokasi keberadaan Alica.


Ada hal yang aku lupakan saat aku sudah jauh dari rumah. Bukankah aku seharusnya ke kamar dan mengambil hadiah? pikiranku berkata lain, kakiku pun melakukan apa yang pikiranku inginkan. Keluar dari rumah, naik dalam mobil, dan bergegas menjemput Alica. Ini konyol, sebelumnya aku tidak pernah melakukan ini. Apa yang aku inginkan itulah yang aku lakukan. Bagaimana bisa kali ini aku berbeda?


Ah... lupakan saja! ini karena aku tidak bisa menolak keinginan Mama.


Sekitar empat puluh menit kemudian aku tiba di lokasi. Aku melihat sebuah bangunan tidak jauh dari pandanganku. Ini sebuah panti asuhan. Ya, adikku, ahh... maksudku Alica. Dia adalah seorang wanita muda yang suka sekali bersosialisasi.


Mobilku masuk halaman dan kuhentikan tidak jauh dari pintu utama. Aku duduk diam sejenak di dalam mobil, aku masih tidak bisa bayangkan. Aku akhirnya sampai dan bisa-bisanya begitu menuruti keinginan Mama untuk menjemput Alica. Sepertinya kepalaku bermasalah sekarang.


Aku membuka pintu mobil dan keluar. Tanganku langsung menutup kembali pintu mobil setelah aku keluar dari dalam mobil. Mataku menyelisik sekitar, halaman yang luas, bangunan yang besar seperti sebuah Mansion tua. Cat dinding yang sudah mulai mengelupas, dan warnanya pun sudah memudar. Puas melihat sekeliling, aku melangkah mendekati pintu utama. Ada bel, dan akupun menekan bel itu beberapa kali.


Klekkkk....


Pintuk terbuka perlahan, seorang perempuan tua keluar dan menatapku dengan senyuman.


"Selamat siang," sapanya padaku.


"Selamat siang, saya ingin menjemput seseorang. Alica Williams," kataku tanpa basa-basi lagi.


Mata wanita tua di hadapanku melebar. Dia langsung mengembangkan senyuman lebarnya.


"Oh, Anda Tuan Williams?" tanyanya padaku.


Aku hanya bisa mengangguk dan tersenyum tipis. Mau bagaimana lagi, aku juga anak dari Andrew Williams.