
"Joe," panggil Axel.
"Ya, Tuan?" tanggap Joe, ia langsung menatap Axel.
"Apa yang biasanya kau berikan pada wanita sebagai ungkapan rasa terima kasih?" tanya Axel.
"Apa?" kaget Joe, "Oh itu, Tuan. Tergantung apa yang wanita itu sukai. Kita bisa berikan sesuatu yang manis agar kita bisa meninggalkan kesan. Seperti, bunga, coklat, boneka atau apa saja yang bisa terlihat oleh mata." jawab Joe.
Axel mengangguk perlahan, "Begitu ya? baiklah jika seperti itu. Terima kasih," kata Axel.
"Ah, iya Tuan. Bukan apa-apa," jawab Joe.
Joe masih bingung apa maksud dari pertanyaan Axel. Namun, Joe tidak berani bertanya apa-apa pada Axel. Axel segera pergi dari ruangannya. Joe hanya menatapi dengan penuh kebingungan dan rasa penasaran.
***
Axel pergi ke sebuah toko bunga. Ia melihat lihat seisi toko tersebut. Ia terlihat sedang mengamati dan melihat-lihat semua bunga yang ada di toko.
"Selamat sore, apa yang Anda butuhkan, Tuan?" tanya pelayan toko bunga tersebut. Ia tersenyum ramah menatap Axel yang sedang sibuk menyelisik tokonya.
"Aku butuh bunga untuk aku berikan pada seseorang." jawab Axel. Mengalihkan pandangannya ke penjual bunga di hadapannya.
"Untuk siapa? orangtua, teman, saudara, istri atau kekasih?" tanya pelayan toko itu memastikan.
"Wanita," jawab Axel.
"Maaf," jawab Pelayan.
Axel tersadar, "Ah, maksud saya seorang wanita. Dia adalah seorang teman," jelas Axel.
Pelayan toko tersenyum, "Saya merekomendasikan bunga mawar," jawabnya.
"Mawar?" tanya Axel mengernyitkan dahi.
"Jika mawar, itu seperti apa yang aku berikan pada Alica. Ah, apa saja asal aku belikan wanita itu sesuatu," batin Axel.
"Baiklah, berikan saja itu." jawab Axel mengiyakan pilihan si penjual bunga.
"Baik, Tuan. Saya akan rangkaikan, Anda bisa duduk dan menunggu beberapa saat." kata si penjual.
"Ya," jawab Axel.
Axel menatap luar kaca toko itu, ia melihat sebuah toko buku. Muncul ide untuk membelikan buku resep kepada Rowena.
"Maaf, Nona. Aku akan segera kembali setelah dari toko buku yang ada di sana," kata Axel. Ia menunjuk ke toko yang berada tidak jauh dari tempatnya sekarang berada.
"Baik, Tuan. Silakan," jawab penjual bunga itu.
Axel keluar dari toko bunga dan berjalan mendekati toko buku. Axel melihat-lihat, banyak buku ia lihat di sana. Mulai dari buku-buku panduan, novel, komik dan masih banyak yang lainnya.
"Silakan, Tuan." sapa ramah si pemilik toko buku.
"Buku khusus resep masakan?" tanya Axel.
"Saya memiliki beberapa buku yang bagus," jawab penjaga toko yang langsung memberikan beberapa buku pada Axel.
Axel menerima dan melihat-lihat sampul buku dan isi buku tersebut. Diperiksanya satu per satu buku resep itu, dan dibacanya sekilas.
"Bungkus semuanya," kata Axel.
"Baik, Tuan." jawab si penjual.
Buku selesai dikemas, Axel menyerahkan uang untuk membayar dan menerima kembalian setelahnya. Selesai dari toko buku, ia kembali ke toko bunga. Ia melihat bunga sudah selesai dirangkai, bunga itu terlihat indah dari kejauhan. Axel melakukan transaksi pembayaran dan membawa pulang bunga itu bersamanya.
Axel dalam perjalanan pulang. Sesekali ia melirik ke arah bunga yang tergeletak di bangku samping tempatnya duduk. Axel merasa puas, ia tidak lagi merasa berhutang apapun pada Rowena karena sudah merawatnya selama ia sakit selama beberapa hari terakhir.
***
Di rumah, Rowena sedang berbincang dengan Kakaknya melalui telepon. Rowena memberitahukan hal baik yang ia terima pada Kakaknya itu.
"Kak, kau pasti tidak akan percaya, kan?" ungkap Rowena senang.
"Axel memberiku izin pulang, Kak. Yah, meski hanya satu minggu." kata Rowena senang.
"Wah, itu berita bagus. Pulanglah, aku sudah sangat merindukanmu," jawab Ricardo.
"Besok aku akan pulang, Kak." jawab Rowena.
"Ya, aku akan tunggu. Hati-hati ya," kata Ricardo senang.
"Hm, iya, Kak." jawab Rowena lagi.
"Rowena, maafkan aku. Sepertinya panggilan ini harus berakhir. Ini sudah jam pulang kantor, aku juga harus pulang ke rumah sekarang. Sampai jumpa besok, sayang." kata Ricardo berpamitan pada Rowena.
"Hati-hati, Kak. Sampai besok," jawab Rowena.
Rowena mengakhiri panggilan, ia segera meletakan ponselnya di atas meja. Rowena mendengar suara pintu dibuka, ia dengan cepat pergi untuk melihat siapa yang datang.
"Axel," panggil Rowena.
Axel masuk dan menutup pintu utama rumahnya. Ia segera berjalan menuju ruang tengah, ia mendengar ada yang memanggilnya. Axel menghentikan langkahnya, ia melihat Rowena sudah berdiri tidak jauh darinya. Rowena melihat Axel membawa buket bunga dan sebuah bungkusan. Rowena mengernyitkan dahi, menatap Axel.
"Kenapa melihatku seperti itu?" kata Axel berjalan mendekati Rowena.
Axel pun memberikan buket bunga pada Rowena. Rowena terkejut, ia tidak mengira jika Axel akan memberinya bunga.
"Untukku?" tanya Rowena ragu-ragu.
"Tentu saja. Jika bukan untukmu, lalu untuk siapa?" jawab Axel dingin.
"Tapi, tapi," kata Rowena terbata-bata. Ia merasa bingung juga terkejut. Tidak tahu harus bicara apa.
"Tidak ada tapi. Terimalah, ini mahal." sahut Axel menatap tajam pada Rowena.
Rowena menerima dan mencium aroma dari buket bunga yang ia peluk. Senyumnya mengembang, ia terlihat sangat senang.
"Terima kasih, Axel. Aku sangat menyukai bunga mawar," ungkap Rowena tersenyum manis.
Axel melebarkan mata, ia teringat akan Alica. Ekspresi yang sama ditunjukan Rowena saat menerima buket bunga darinya.
"Untung saja kau menyukai mawar. Aku tidak salah membeli," jawab Axel canggung.
"Ngomong-ngomong, kenapa kau memberiku bunga?" tanya Rowena ingin tahu.
"Oh, ini. Ini adalah bentuk ucapan terima kasihku untukmu. Terima kasih karena sudah bersusah payah merawatku saat aku sakit beberapa hari yang lalu. Aku tidak ingin berhutang budi, anggap saja ini tebusan atas waktumu yang tersita untuk merawatku." jelas Axel.
Rowena tersenyum tipis, "Sebenarnya tidak masalah. Aku bekerja di sini, kau adalah majikanku. Jika kau sakit tugasku juga merawatmu. Namun, aku tetap harus mengucapkan terima kasih, aku sangat suka hadiah darimu," jawab Rowena yang lagi-lagi tersenyum cantik menatap Axel.
"Jangan terus tersenyum, ambil ini juga," kata Axel memberikan bungkusan berisi buku resep masakan.
"Apa lagi ini?" tanya Rowena. Ia menerima bungkusan dan segera membuka bungkusan. Matanya melebar, ia melihat beberapa buku resep masakan. "Wah, kau mengejutkanku, Axel." Kata Rowena terkejut.
"Apa kau suka?" tanya Axel.
"Tentu. Dengan ini aku akan mengalahkanmu," jawab Rowena girang.
"Oh, kau berkeinginan mengalahkanku dalam memasak, ya? baguslah, baca dan praktekkan. Ingat jangan membuat dapurku berantakan," kata Axel lagi.
"Aku tahu, aku tahu, jangan terus mengatakan jika aku akan buat hancur dapurmu. Aku tidak sebodoh itu," keluh Rowena.
"Ya sudah, aku ke kamar dulu. Jangan memasak, ayo kita pergi makan bersama. Malam ini kita makan di luar," kata Axel.
"Apa?" tanya Rowena kaget.
"Apa aku tidak salah dengar? Aku dan dia, kita? makan di luar?" batin Rowena.
Axel memasamkan wajah, "Kenapa? tidak mau? ya sudah kalau tidak mau, masaklah untuk makan malam kita. Awas saja kalau masakanmu tidak enak," gerutu Axel.
"Ah, oke. Ayo kita makan di luar, aku mau. Jangan marah lagi," bujuk Rowena.
"Bersiap-siaplah. Satu jam lagi kita harus berangkat," kata Axel yang langsung dijawab anggukan kepala oleh Rowena.