Arini, I Love You!

Arini, I Love You!
Bab 66



"Aku juga mau disuapi seperti itu," ujar Reyhan yang tiba-tiba berada di belakang Arini yang sedang menyuapi Zian. Arini menoleh lalu tersenyum.


"Mas," ucap Arini. Reyhan duduk di samping Arini.


"Aku senang akhirnya sebentar lagi akan melangsungkan pernikahan. Dan aku masih tak menyangka, kamu adalah wanita yang berhasil meluluhkan hatiku," ucap Reyhan dengan serius. Arini menunduk sambil tersenyum tipis. Begitu juga dengan Arini, ia tak menduga bahwa Reyhan akan menjadi suaminya.


"Zian juga senang, Tante Arini akan menjadi ibu untuk Zian," sahut Zian. Arini menangkup wajah Zian dan mencium keningnya sekilas. Ia memeluk Zian dengan penuh kasih sayang.


Orang tua Arini dan Reyhan akhirnya lega menyaksikan sendiri kebahagiaan putra dan putrinya. Terlebih lagi orang tua Arini. Mereka semakin yakin jika Reyhan adalah laki-laki yang baik. Dan laki-laki yang begitu mencintai dan menyayangi putrinya.


Setelah acara tersebut selesai, Arini kembali ke kamarnya bersama dengan Zian. Tentunya dengan diantar langsung oleh Reyhan. Ia akan memastikan keamanan mereka berdua.


"Ini sudah larut, kamu istirahatlah. Zian, jangan buat Tante Arini repot ya," ujar Reyhan sambil berjongkok di depan Zian. Zian mengangguk. Ia mencium kening dan kedua pipi putranya. Lalu berdiri kembali.


"Jaga dirimu baik-baik. Besok aku akan menjemputmu kembali," ucap Reyhan lalu mencium kening Arini dengan lembut. Reyhan tersenyum lalu melambaikan tangannya kepada Arini dan Zian. Perlahan langkahnya menuju luar kamar Arini. Arini menutup pintu kamarnya dan segera istirahat bersama Zian.


***


Pagi pukul 08.00. Arini, Reyhan, dan Zian menuju bandara untuk mengantar orang tua Arini pulang ke Jogja. Banyak hal yang harus diurus di sana. Oleh karena itu, mereka tidak bisa tinggal di Jakarta lebih lama. Apalagi, acara pernikahan juga semakin dekat.


"Ibu dan Bapak hati-hati ya. Salam untuk keluarga di sana," ucap Arini sambil mencium punggung tangan orang tuanya secara bergantian. Begitu juga dengan Reyhan dan Zian.


"Pasti. Kamu juga hati-hati di sini. Jaga diri kamu," ucap ibunya Arini. Arini mengangguk.


"Mas, kamu mau bawa aku ke mana sih sebenarnya?" tanya Arini yang penasaran. Reyhan tersenyum tipis. Ia enggan menjawab pertanyaan Arini.


"Mas," panggil Arini. Reyhan menatap Arini sekilas. Ia mengusap rambut Arini dengan lembut.


"Nanti kamu juga tahu," jawab Reyhan yang semakin membuat Arini penasaran. Tetapi, Arini memilih diam dan mengikuti apa yang sebenarnya ingin Reyhan lakukan.


Hingga tibalah mereka di suatu gedung yang begitu megah. Reyhan menggendong Zian dan menarik tangan Arini untuk mengikutinya. Menaiki lift dari lobi hingga lantai 12. Menuju salah satu kamar yang telah ia siapkan untuk Arini.


Sampainya di depan pintu apartemen tersebut, Reyhan menyerahkan sebuah kartu yang digunakan untuk membuka pintu itu. Arini menatap Reyhan dengan bingung.


"Bukalah," pinta Reyhan. Arini segera membuka pintu tersebut. Perlahan mulai memasuki ruangan itu. Arini terkejut ketika melihat semua barangnya sudah berpindah di tempat itu. Ia menatap Reyhan meminta penjelasan.


"Aku hanya ingin memastikan calon istriku tinggal dengan nyaman di sini. Lagipula, ini lebih dekat dari kantor. Aku akan lebih gampang mengunjungimu nanti," jelas Reyhan.


"Ya ampun mas, kamu tidak perlu melakukan semua ini. Aku nyaman kok tinggal di sana," balas Arini.


"Iya, tapi akan lebih aman kamu tinggal di sini. Arini, aku hanya ingin menjagamu. Memastikan keselamatanmu dan Zian," tutur Reyhan.


"Tante, Daddy sendiri loh yang menyiapkan semua ini," ucap Zian. Membuat Arini tersipu malu. Ia benar-benar merasakan kebahagiaan saat ini.