
Waktu berjalan begitu cepat. Satu minggu yang mereka janjikan sudah tiba waktunya. Hari ini tepat satu minggu Arini bekerja. Meskipun hari-hari berjalan lancar, namun Arini tetap gugup akan keputusan Reyhan.
Arini sudah berusaha yang terbaik agar tidak dipecat dari perusahaan ini. Meskipun masih banyak sekretaris yang lebih baik darinya dalam hal pekerjaan, tetapi ia tetap berdoa agar Reyhan memberinya kesempatan. Walaupun awalnya Arini tidak begitu paham dengan tugasnya, tetapi seiring berjalannya waktu Arini belajar dengan cepat.
Itu juga tak lepas dari pantauan Soni. Soni secara diam-diam memberikan arahan kepada Arini. Kenapa harus diam-diam? Karena Reyhan pasti akan memarahinya karena menganggap itu bukan urusannya. Soni merasa kasihan kepada Arini jika ia sampai dipecat dari perusahaan.
Arini berada di ruangan Reyhan saat ini. Ia lebih gugup dari biasanya. Tubuhnya bergetar dan serasa sesak untuk bernapas. Arini hanya menundukkan kepalanya. Menanti keputusan dari Reyhan atas dirinya.
Sedangkan Reyhan duduk santai di kursi kerjanya. Menyilangkan kakinya dan menatap Arini dengan santai. Bahkan ini tidak berakibat untuk Reyhan jika ia harus memecat sekretarisnya yang satu minggu ini bekerja untuknya.
"Saya suka kinerjamu akhir-akhir ini." Satu kalimat yang keluar dari mulut Reyhan. Arini mendongak dan menatap Reyhan.
Reyhan menopang dagunya dengan satu tangannya. Satunya lagi memainkan bolpoin.
"Tapi maaf, saya tidak bisa terus mempekerjakan kamu di sini. Saya sangat menghargai sekali kerja kerasmu selama satu minggu ini. Mulai hari ini kamu saya pecat. Tenang saja, saya tetap akan memberikan pesangon untuk kamu." Terang Reyhan yang masih dalam posisi sama.
Jantung Arini tiba-tiba berdegup kencang. Walaupun ia sudah mempersiapkan diri sebelumnya, tetap saja ia merasa sedih. Arini sekuat tenaga menahan air matanya agar tidak jatuh. Arini sudah kalah. Sia-sia tenaganya ia gunakan untuk menjadi sekretaris yang baik. Akhirnya dipecat juga kan.
"Baiklah pak, terima kasih untuk waktu satu minggu ini. Setidaknya ini menjadi pengalaman yang berharga buat saya." Balas Arini pasrah. Walaupun ia menangis di depan Reyhan meminta agar tidak dipecat, itu juga tidak akan baik. Dari awal memang Reyhan tidak suka terhadapnya.
Arini mengangguk dan tersenyum getir. Arini menerima amplop yang berisi gajinya selama satu minggu ini. Dirinya melangkah keluar dan segera mengemasi barangnya. Sampai di mejanya, Arini tak kuasa menahan sedihnya. Entah sedih karena apa, Arini juga tidak tahu. Arini menyembunyikan wajahnya dibalik kedua telapak tangannya. Tanpa ia sadari, Reyhan yang berada diambang pintu memperhatikannya dengan lekat.
"Bodoh! Begitu saja kamu menangis." Batin Reyhan sedikit kesal. Kemudian ia masuk kembali.
Reyhan mengacak rambutnya pelan dan duduk di sofa. Sebenarnya, Reyhan sudah memikirkan semalaman tentang keputusannya ini. Reyhan tidak tega memecat Arini. Namun ia harus melakukan ini. Meskipun Arini semakin hari semakin berkembang, tetapi masih saja belum menguasai sepenuhnya menjadi sekretaris yang baik.
Anggap saja ini bukan rezekinya. Reyhan merasa kasihan dan tak tega sebenarnya. Tetapi ia harus profesional. Sebagai permintaan maafnya, Reyhan juga memberikan gaji untuk Arini selayaknya bekerja satu bulan penuh.
"Semoga kamu bisa mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan jurusanmu Arini. Maaf, aku tidak bisa membiarkanmu terus bekerja di sini." Gumam Reyhan lirih.
Setelah merasa tenang, baru Arini mengemasi barangnya dan membawanya pergi. Ia menatap karyawan lainnya sebelum pergi. Namun yang lainnya hanya menatap Arini dengan sinis seperti biasanya.
Arini berjalan menuju lift. Di dalam hanya ada dirinya sendiri. Arini melihat pantulan dirinya di cermin. Betapa menyedihkannya dirinya saat ini.
Setelah sampai di lantai bawah, Arini berjalam menuju lobby. Sebenarnya ia ingin mencari Caca dulu. Namun ia urungkan, karena saat ini mungkin lagi sibuk. Arini memutuskan untuk segera pulang saja.