
Rumah Clara nampak sepi. Tak ada pelayan ataupun tukang kebun yang dipekerjakan di sini. Hanya setiap pagi Jerry memanggil jasa asisten rumah tangga untuk mengurus rumahnya. Setelah pekerjaan beres, asisten tersebut pulang kembali dan akan kembali bekerja besok pagi.
Jerry tak bisa membiarkan orang luar berada di rumahnya begitu saja. Terlebih dengan sikap Clara yang terkadang suka marah-marah dan mengamuk tidak jelas. Membuatnya harus benar-benar ekstra menjaga istrinya itu.
Reyhan dengan langkah cepat menuju pintu rumah yang besar dan nampak menyeramkan itu.
Klek
Ternyata pintunya tidak terkunci. Tetapi di mana Clara berada? Reyhan menyusup masuk ke dalam rumah tanpa permisi.
"Halo Rey." Sambut Clara saat Reyhan memasuki ruang tengah. Dengan santainya Clara duduk sambil mengangkat kakinya di atas meja.
"Apa kabarmu? Lama tidak bertemu." Ucap Clara basa-basi.
"Di mana kamu sembunyikan Zian? Jangan main-main denganku Clara!" Ujar Reyhan dengan nada tinggi.
"Apa maksud kamu Rey?" Tanya Clara yang tidak paham arah pembicaraan Reyhan. Clara menurunkan kakinya dan melangkah mendekati Reyhan. Clara langsung memeluk Reyhan.
Reyhan berusaha melepas Clara yang sedang memeluknya. Dengan kasar Reyhan mendorong Clara dan mencekik lehernya dengan erat. Sehingga membuat napas Clara tersengal.
"Katakan di mana Zian!!" Bentak Reyhan yang masih mencekik Clara.
"Siapa dalang dibalik ini? Gue sama sekali tidak mengetahui hal ini. Sial! Apa ini ulah Novi." Batin Clara sambil berusaha melepas cengkraman tangan Reyhan.
Setelah bersusah payah, akhirnya Clara berhasil melepas tangan Reyhan dari lehernya. Clara terbatuk-batuk sambil memegangi dadanya.
"Kamu ingin tahu di mana Zian bukan?" Tanya Clara dan dirinya tersenyum sinis.
"Tidak perlu basa-basi! Cepat katakan di mana Zian berada!" Ucap Reyhan semakin emosi. Reyhan mengguncang tubuh Clara agar cepat mengatakan di mana Zian berada.
"Sekalian saja gue manfaatin situasi ini." Batin Clara dan menyeringai ke arah Reyhan.
"Apa syaratnya Clara?" Ujar Reyhan semakin geram. Bahkan Reyhan tak habis pikir bahwa wanita dihadapannya ini adalah mantan istrinya. Wanita yang pernah ia cintai dulu. Bagaimana bisa ia dulu mencintai dan tergila-gila dengan wanita licik sepertinya.
"Seratus juta? Dua ratus juta? Berapa uang yang kau inginkan Clara! Katakan!" Kini Reyhan mulai tidak sabar.
"Bukan itu syarat yang aku inginkan." Jawab Clara dengan santai.
"Lalu?" Reyhan mengernyitkan dahinya.
"Mudah kok. Kamu tinggalkan Arini dan menikah denganku lagi." Ungkap Clara dengan santainya.
Reyhan mengepalkan tangannya. Jika di depannya ini adalah laki-laki, pasti ia sudah habis dihajar oleh Reyhan.
Tiba-tiba ponsel Reyhan berdering. Dengan cepat Reyhan menjawab panggilan tersebut yang ternyata itu dari Soni.
"Aku sudah cek semuanya. Penculikan Zian sama sekali tidak ada hubungannya dengan Clara Rey." Ujar Soni berterus terang.
Reyhan seketika menatap Clara dengan tajam. Seolah mencari tahu bahwa yang dikatakan Soni memang benar.
"Apa kau yakin?" Ucap Reyhan dengan dingin dan masih menatap Clara dengan tajam.
"Aku bisa pastikan Rey. Tetapi aku juga belum menemukan dalang dibalik semua ini." Ucap Soni yakin.
Reyhan menutup sambungan telepon tersebut. Pikirannya masih kalut, jika bukan Clara lalu siapa lagi yang berani mengusik keluarganya.
"Apa kamu setuju Rey?" Tanya Clara kembali. Menyadarkan Reyhan dari lamunannya.
"Jangan pernah bermimpi untuk menjadi istriku lagi Clara! Karena aku selamanya tidak akan pernah menerimamu kembali!" Ucapnya dan kini Reyhan melangkah keluar rumah Clara.