
Mereka sekeluarga sedang makan malam. Tidak ada yang memulai pembicaraan. Semua tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing. Hanya ada suara gelak tawa dari Zian saja.
Suasana hening sampai makan malam selesai. pak Kusuma kembali ke kamarnya diikuti Indi, istrinya. Sedangkan Reyhan mengurus anaknya. Vian menuju teras rumahnya. Bertegur sapa dengan dua bodyguard yang selalu siap siaga.
"Apa Clara selalu datang mengganggu ke rumah ini?" Tanya Vian yang kini sudah bergabung dengan mereka di teras rumah.
"Iya tuan. Beberapa hari yang lalu nona Clara selalu mengacau. Bahkan kami hampir kuwalahan menanganinya." Jawab Aldi dengan sopan.
"Pantas saja kak Rey over protektif seperti itu kepada anaknya. Clara bahkan tidak melepaskan mereka begitu saja. Sepertinya aku juga harus bertindak dalam hal ini." Batin Vian.
Meskipun Vian jarang pulang ke rumah, ia cukup paham bagaimana hubungan kakaknya dengan mantan istrinya dulu. Vian paham wanita seperti apa Clara ini. Jika dibiarkan, ia semakin menjadi.
"Kalian tahu kan, Clara itu wanita seperti apa?" Kini tatapan Vian berubah dingin.
"Kami sudah mengerti tuan. Kami akan berusaha lebih keras lagi untuk menjaga tuan muda kecil." Balas Rafa.
"Kenapa kalian gugup begini?" Ujar Vian dan ia tersenyum tipis.
"Ya sudah, kalian istirahatlah. Terima kasih sudah menjaga keluarga kami." Ucap Vian dan menepuk bahu mereka bersamaan. Kemudian melangkah pergi menuju kamarnya.
"Kasihan kak Reyhan. Pasti ini sangat membebani pikirannya." Ucap Vian sebelum memejamkan mata.
Besok, Vian akan mencoba bicara kepada Arini. Semoga saja Arini mau menerima tawaran ini. Selain itu, ia bisa bertemu Arini setiap hari tanpa harus mencari-cari alasan.
Pas sekali hari ini hari Minggu, Reyhan dan Vian tidak pergi ke kantor. Arini sudah bersiap diri. Tadi pagi-pagi sekali Vian menghubunginya dan mengajaknya bertemu untuk menawarkan pekerjaan kepadanya. Arini hanya menurut saja. Kebetulan sekali ia juga belum mendapatkan pekerjaan baru.
Tok tok tok
Pintu Arini terketuk, itu artinya Vian sudah sampai di depan apartemennya. Arini mengambil tasnya dan segera berlari kecil ke arah pintu. Arini membuka pintunya dan benar saja, Vian sudah berdiri di depan pintunya. Arini mengembangkan senyumnya.
"Sudah siap?" Tanya Vian.
"Iya, ayo!" Jawab Arini dan kini ia mengunci pintunya. Mereka berjalan beriringan menuju parkiran.
"Memangnya pekerjaan apa sih yang kamu tawarkan kepadaku?" Tanya Arini penasaran. Ia menatap Vian sekilas.
"Tenang saja, ini sesuai dengan jurusan kamu kok. Dan pekerjaannya juga nyantai." Balas Vian. Ia tak mau memberitahu Arini terlebih dahulu. Ia akan menjelaskannya ketika nanti sudah sampai di rumahnya.
Setelah sampai di parkiran, Vian membukakan pintu mobil untuk Arini. Arini tersenyum tipis dan masuk ke dalam. Vian segera berlari menuju pintu satunya lagi dan masuk ke dalam mobil. Vian melajukan mobilnya menuju rumah.
Arini sedikit gugup. Walaupun ia belum tahu pekerjaan apa yang ditawarkan oleh Vian. Namun ia takut tidak bisa bekerja dengan baik. Arini meremas pelan ujung bajunya.
"Santai saja. Aku yakin kamu bisa kok." Ucap Vian dan tangannya mengusap kepala Arini dengan pelan.
"I-iya. Aku hanya sedikit takut saja." Balas Arini. Dirinya sedikit tertegun dengan sikap Vian yang tiba-tiba seperti tadi. Arini semakin gugup. Namun Arini berusaha menenangkan dirinya sendiri.