
"Ke mana lagi aku harus mencari pekerjaan lagi ya. Sekarang susah sekali sih mencari pekerjaan baru. Kalau menganggur lagi kan gak mungkin. Nanti bagaimana hidupku selanjutnya." Gumam Arini sambil berjalan. Dirinya melamun sambil membawa kardus dikedua tangannya.
Arini berjalan menyusuri setiap jalanan kota. Ia sengaja tidak memesan taksi atau menaiki bus. Hatinya sangat kacau hari ini. Ia pernah menganggur satu tahun, baru mendapatkan pekerjaan tetapi dipecat tepat satu minggu ia bekerja.
Tiiiinnn..
Arini terkejut dan tersadar dari lamunannya. Namun untuk menghindar, ia sudah tidak sempat. Sampai akhirnya sebuah mobil menyerempetnya dan Arini terjatuh.
Brukk
"Auuw.." Eluh Arini. Arini mengusap lengannya. Memeriksa apakah terdapat luka di sana. Arini bernapas lega, ternyata hanya luka ringan saja.
"Kenapa kamu ceroboh sekali Arini?" Gumam Arini menyalahkan dirinya sendiri. Arini menyembunyikan wajahnya diantara kedua lututnya dan kini air matanya tumpah lagi. Betapa menyedihkannya ia saat ini.
Seseorang yang ada di dalam mobil langsung keluar begitu melihat Arini terjatuh. Dengan panik, orang itu menghampiri Arini.
"Maaf, apa kamu tidak apa-apa?" Tanya seseorang itu. Dia masih muda, tampan dan lembut. Arini mendongak dan ia sedikit terpana dengan orang yang ada di depannya saat ini.
"Haloo..?" Sapa laki-laki itu sambil melambaikan tangannya di depan wajah Arini.
"Iya, saya tidak apa-apa. Maaf, tadi saya tidak perhatikan jalan." Ujar Arini sambil mengusap air matanya dan langsung membereskan barangnya yang terurai di depannya. Laki-laki itu membantu Arini. Laki-laki itu juga membantu Arini berdiri.
"Memangnya habis dari mana kamu?" Tanya laki-laki itu.
"Habis belanja pak. Maaf sekali lagi, saya tadi sedikit bengong waktu di jalan." Balas Arini berdusta.
"Oh iya, gak apa-apa kok. Saya Alvian. Kamu bisa panggil saya Vian. Kalau boleh tahu, nama kamu siapa?" Ucap Vian sambil mengulurkan tangannya. Arini membalas uluran tangan Vian.
"Saya Arini." Jawabnya dengan tersenyum kecil.
Vian menawarkan diri kepada Arini untuk mengantarnya pulang sebagai permintaan maaf. Walaupun sebenarnya bukan salah Vian, ia juga merasa bersalah.
Awalnya Arini menolak. Namun karena Vian terus memaksa akhirnya Arini menyetujui permintaannya walaupun dengan terpaksa. Kini mereka sudah berada di dalam mobil. Vian melajukan mobilnya dengan pelan. Mereka menyusuri jalanan kota menuju apartemen Arini.
"Terima kasih pak sudah mau mengantar saya. Sebenarnya tidak perlu repot-repot seperti ini." Ucap Arini dan lagi-lagi tersenyum kecil. Kini mereka sudah sampai di parkiran.
"Saya juga senang bisa mengantarmu pulang." Balas Vian santai.
Arini segera turun dan sedikit menjauh dari mobil Vian. Vian membunyikan klakson dan melambai kearah Arini. Arini juga membalas lambaian tangan Vian.
Arini mulai melangkah menuju apartemennya. Sesampainya di sana, ia segera meletakkan kardusnya diatas meja dengan asal dan berjalan menuju dapur. Arini membuka kulkasnya dan mengambil satu botol air mineral dingin dan ia segera meneguknya. Setelah itu, Arini meletakkan kembali botol air minum tersebut.
Arini kembali termenung. Dari tadi pikirannya melayang memikirkan pekerjaan apa yang akan ia tuju setelah ini. Tidak ada pengalaman. Pengalaman hanya satu, di perusahaan Reyhan. Namun dilihat dari prosesnya, itu sama sekali bukan keahlian Arini.