
Arini tak membalas ucapan Reyhan. Namun ia menyimpulkan senyumnya saat mendengar pengakuan dari Reyhan.
"Kenapa tidak dibalas, hem? Aku tahu kamu juga memiliki perasaan yang sama kan?" Ujar Reyhan lagi.
"Saya hanya mau pulang." Balas Arini menghindari kontak mata dengan Reyhan.
Reyhan tersenyum tipis dan tangannya membuka pintu. Merangkul Arini untuk bersama-sama keluar kamar. Arini melihat sekeliling kalau nanti ada yang melihat mereka seperti itu akan terjadi salah paham. Terutama kepada Vian. Arini tidak ingin menjadi alasan pertengkaran antara kedua kakak beradik ini.
"Pak, bisa nggak kalau pak Reyhan gak usah peluk-peluk gini?" Ujar Arini merasa canggung. Reyhan menatap Arini sekilas dan mendekatkan wajahnya ke telinga Arini.
"Kalau belum dijawab, saya tidak akan melepaskannya. Bodo amat kalau ada yang lihat." Balas Reyhan didekat telinga Arini. Membuat Arini merinding.
Selama perjalan sampai menuruni tangga masih dalam posisi yang sama. Reyhan memang sengaja menggoda Arini. Ia ingin mengetahui seberapa lama Arini memendam perasaannya sendiri.
"Loh, kok belum pulang? Menginap di sini?" Tanya seseorang dari belakang mereka. Arini yang mendengarnya seakan membeku. Langkah mereka terhenti dan perlahan berbalik ke arah sumber suara. Ternyata itu adalah Indi.
"Ini mau pulang kok ma. Tadi Reyhan ada sedikit pekerjaan jadi menyuruh Arini menunggu dulu. Iyakan?" Ujar Reyhan sambil melirik Arini.
"Eh, i-iya bu. Apa yang dikatakan pak Reyhan benar." Dusta Arini. Jika tidak ia lakukan, maka Indi akan bertanya banyak hal kepada mereka.
"Ya sudah, kalian hati-hati ya. Sudah malam." Jawab Indi.
Mereka mengangguk dan pamit karena takut kemalaman. Mengingat perjalanan yang lumayan jauh.
"Gimana? Mau jawab sekarang atau?" Goda Reyhan.
"Apaan sih pak." Ujar Arini dan ini kesempatan baginya untuk melepas tangan Reyhan yang sedari tadi memeluk bahunya. Arini segera mendorong sedikit kasar tubuh Reyhan dan ia mempercepat langkahnya. Reyhan tersenyum menatap Arini meninggalkannya menuju mobil.
Tak lama setelah itu, mobil mereka telah sampai di parkiran apartemen. Sebelum keluar, Arini mengucapkan terima kasih seperti yang setiap hari ia lakukan. Namun bukannya melajukan mobilnya kembali, Reyhan justru ikut turun dari mobil.
"Ada apa pak?" Tanya Arini bingung.
"Mengantarmu." Jawab Reyhan enteng.
Reyhan segera melangkah mendahului Arini yang masih mematung di tempatnya.
"Jadi pulang atau tidak?" Tanya Reyhan membalikkan badannya sekilas.
"Eh, iya pak." Balas Arini dan segera mengikuti Reyhan.
Sepanjang jalan menuju apartemen Arini hanya suara langkah kaki mereka yang terdengar. Hingga tanpa terasa mereka sudah sampai di depan pintu apartemen Arini. Arini membuka pintunya dan berbalik menatap Reyhan sebelum ia masuk ke dalam.
"Terima kasih pak Reyhan sudah mengantar saya. Maaf kalau saya selalu merepotkan bapak. Hati-hati di.." Sebelum Arini melanjutkan kalimatnya, Reyhan justru masuk ke dalam dengan santainya.
"Kenapa buru-buru sekali. Aku masih ingin di sini." Ujar Reyhan menaik turunkan alisnya. Ia duduk di sofa dan menyandarkan kepalanya.
"Tapi pak.."
"Sssttt... Saya haus. Tolong buatkan minuman." Sela Reyhan tak mau mendengar protesan Arini.
Arini mendengus kesal namun lirih. Ia tidak berani menampakkan itu di depan Reyhan. Arini menuju dapur dan segera menuangkan air mineral ke dalam gelas. Reyhan yang memperhatikan Arini dari ruang tamu tersenyum bangga. Hari ini ia akan membuat Arini mengakui perasaannya.