
"Kamu tadi tidak serius kan mau cerai dariku?" Tanya Jerry memastikan.
"Kalau gue minta cerai sekarang, yang ada gue jadi gembel nanti. Saat ini gue masih butuh dia. Gue ceraikan setelah berhasil mendapatkan Reyhan kembali saja." Gumam Clara dalam hatinya.
Clara menangis lagi. Membuat Jerry kebingungan. Kenapa Clara sedih lagi, apa dia salah bertanya tadi, pikirnya.
"Mas, kamu tahu kan aku sangat mencintaimu. Aku tadi hanya emosi sesaat saja mas.. Aku minta maaf sama kamu ya." Ujar Clara dalam kesedihannya. Sungguh, Clara ini pandai berakting. Membuat Jerry tak tega melihat Clara yang seperti ini.
Jerry memeluk Clara kembali. Berusaha menenangkan Clara. Sedangkan Clara sebenarnya risih dipeluk Jerry. Namun ia harus bertahan demi kelangsungan hidupnya.
Bagaimana Clara dulu bisa menikah dengan Jerry, itu sebenarnya karena tipu dayanya. Membuat Jerry seolah-olah bersalah atas dirinya. Kemudian membuat Jerry menikahinya. Karena kelembutan Jerry, akhirnya Jerry mau menikah dengan Clara. Jerry juga sangat mencintai Clara, itu sebabnya Jerry dengan senang hati menikah dengan Clara.
Saat itu, kehidupan rumah tangga Clara dengan Reyhan dilanda masalah yang membuat ekonomi keluarga mereka tidak stabil. Clara yang tidak bisa menerima semua itu langsung menceraikan Reyhan dan menikah dengan Jerry. Setelah beberapa tahun, melihat Reyhan yang sukses dalam bisnisnya membuat Clara ingin kembali lagi kesisi Reyhan tanpa ada rasa malu.
"Kamu tahu kan, aku sangat mencintaimu? Apapun akan aku lakukan untukmu. Clara, sudahlah jangan sedih lagi." Ucap Jerry dan mengecup sekilas kening Clara.
Clara mengangguk dan menampilkan senyumnya yang dibuat semanis mungkin.
"Ayo, kita istirahat saja." Ajak Jerry dan menuntun Clara untuk masuk ke dalam kamar dan beristirahat.
***
Hari ini, Clara dan Jerry memutuskan untuk pergi ke kediaman Kusuma. Jerry hanya tidak ingin Clara terlihat sedih karena mantan suaminya tidak mengizinkan Clara untuk bertemu anaknya sendiri.
Jerry melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Mereka ke sana pagi-pagi sekali. Tak butuh waktu lama, mereka sudah sampai di depan rumah keluarga Kusuma.
"Kamu lihat kan mas. Bahkan mereka sampai menyewa bodyguard agar aku tidak bisa masuk ke dalam rumah untuk menemui Zian." Ujar Clara kepada Jerry.
Jerry membelai lembut tangan Clara dan tersenyum tipis.
"Ayo." Ajak Jerry. Mereka turun dari mobil.
Saat di teras, mereka dihadang oleh dua bodyguard yang selalu siap siaga di depan pintu.
"Maaf, kami tidak bisa memberikan izin kepada bu Clara untuk masuk ke dalam." Ucap Aldi dengan tegas. Menatap mereka dengan dingin.
"Kami hanya ingin bertemu pak Reyhan." Balas Jerry. Aldi dan Rafa saling bertukar pandang.
"Tunggu sebentar." Ucap Rafa. Rafa segera masuk untuk memberitahukan kepada Reyhan bahwa Clara datang bersama seorang lelaki.
Reyhan keluar, sebenarnya saat ini mereka sedang sarapan. Indi ingin ikut menemui mereka, namun Reyhan melarangnya.
"Ada apa?" Tanya Reyhan tanpa basa-basi.
"Kita bisa bicara sebentar? Ini tentang Zian." Ucap Jerry.
"Biarkan mereka masuk." Perintah Reyhan dan mereka masuk ke ruang tamu.
Clara dan Jerry duduk bersebelahan sedangkan Reyhan berdiri di depan mereka namun posisinya membelakangi mereka.
"Rey, aku tahu aku tidak berhak ikut campur dalam urusan kalian berdua. Tapi, aku sebagai suami Clara, aku ingin membicarakan hal yang menurutku harus dibicarakan." Ucap Jerry panjang lebar.
"Tidak usah bertele-tele. Saya tidak punya banyak waktu." Sela Reyhan dan masih dalam posisi yang sama.
"Rey, bisakah kamu memberikanku hak untuk menemui Zian. Aku juga ibunya Rey." Kini Clara buka suara. Clara menitikkan air mata palsu. Kesedihan palsu dan ia harus bermain peran sesedih mungkin hari ini agar Reyhan prihatin terhadapnya.
"Bukankah sudah ku bilang sebelumnya? Punya hak apa kamu atas Zian? Masih pantaskah kamu disebut sebagai ibu? Yang menelantarkan anaknya saat baru lahir?" Kini emosi Reyhan terpancing.
Jerry maupun Clara terdiam. Clara meremas jemarinya. Ia nampak gusar.
"Kenapa cara menyedihkan seperti ini tidak berhasil? Sial!" Batin Clara kesal.
"Rey, setidaknya biarkan kami melihat Zian hari ini. Aku yang akan menjamin jika Clara tidak akan membawa Zian pergi." Ucap Jerry meyakinkan Reyhan. Ia tidak tega melihat Clara sedih.
Reyhan membalikkan badannya. Kini menatap Jerry dan Clara dengan tatapan dingin.
"Usir mereka keluar dan jangan biarkan mereka menginjakkan kakinya di sini lagi." Ucap Reyhan sedikit berteriak. Aldi dan Rafa dengan sigap menarik mereka keluar rumah.
"Rey, bagaimana bisa kamu bersikap seperti ini. Zian juga anakku. Aku juga berhak atas dia." Teriak Clara saat dirinya ditarik paksa oleh Rafa. Namun Reyhan tak mengindahkan kata-kata Clara.
"Lepaskan gue! Gue bisa berjalan sendiri." Ucap Clara dan menghempaskan tangan Rafa darinya.
"Mas.." Kini Clara berada di pelukan Jerry. Clara menangis tersedu-sedu.
Ditengah acara menangisnya, Arini datang dan melewati mereka begitu saja. Saat Arini akan masuk ke dalam, tangannya ditarik dengan paksa oleh Clara.
"Lo siapa?" Tanya Clara dengan kesal.
"Lo bukannya wanita yang waktu itu di kantor?" Tanya Clara sambil mengingat-ingat tentang Arini. Arini hanya mengangguk pelan.
"Siapa lo? Ada hubungan apa lo sama keluarga ini?" Tanya Clara semakin kesal.
"Sayang, bicaralah yang tenang." Ucap Jerry menenangkan Clara. Namun Clara tidak peduli.
"Jawab!" Bentak Clara yang sudah tidak sabar menunggu jawabannya.
"Sa-saya.. Saya adalah.." Ucap Arini dengan gugup.