
Aksa membaringkan Novi di tempat tidurnya. Lalu ia menyelimuti Novi dan kini ia duduk di tepi ranjang. Aksa memandangi Novi dengan lekat. Selama ini ia mengejar Novi namun tak pernah terbalaskan. Bahkan sampai sekarang, ia tidak bisa menghilangkan rasa cinta itu untuk Novi. Aksa membelai lembut pipi Novi. Selama ini, ia tidak punya kesempatan untuk dekat dengan Novi.
"Sampai kapan kamu menyiksa dirimu sendiri? Padahal Reyhan tak pernah melihat cintamu untuknya," gumam Aksa.
"Kapan kamu akan menerimaku Nov, sampai sejauh ini aku bahkan belum bisa berpaling pada wanita lain," gumam Aksa lagi.
Cukup lama Aksa memandangi Novi. Kemudian ia pergi dari kamarnya dan meninggalkan Novi agar beristirahat. Aksa berdiam di sofa ruang tengahnya. Ia memikirkab cara agar Novi menerima cintanya. Namun saat ia menyatakan cintanya, hanya penolakan yang ia dapatkan. Aksa menuju kamar lainnya. Ia istirahat di sana sambil menunggu Novi sadar.
***
Keesokan harinya...
Novi terbangun dari tidurnya. Ia merasakan pusing dan sedikit berat di kepalanya. Perlahan, Novi bangun dan bersandar di ranjangnya. Ia tersadar, bahwa ini bukan kamar miliknya. Kamar ini sangat asing baginya. Novi segera memeriksa dirinya sendiri. Semua pakaiannya masih terpasang lengkap di tubuhnya. Novi menghela napasnya lega.
Perlahan Novi turun dari kasurnya. Ia berjalan keluar kamar untuk melihat siapa yang telah membawanya ke sini. Novi ingat, terakhir kali ia berada di bar. Saat terbangun ternyata sudah berbaring di kamar orang lain. Tak lupa Novi membawa tasnya. Ia mengendap seperti maling sambil menuruni tangga. Tidak ada siapapun di rumah ini. Saat sampai di ruang tengah, langkahnya terhenti karena mendengar suara orang yang sedang memasak. Novi menoleh sekilas untuk melihat siapa orang tersebut. Namun sialnya ia tidak bisa mengenali orang itu saat dari belakang.
"Samperin gak ya? Duh, tapi kalau tiba-tiba menghilang kasihan dia juga," batin Novi bingung.
Akhirnya Novi memilih untuk menghampiri orang tersebut. Ia ingin mengucapkan terima kasih karena telah menolongnya.
"Permisi," ucap Novi saat sudah sampai di dekat dapur. Orang tersebut menoleh dan tersenyum tipis. Novi terkejut karena orang itu tak lain adalah Aksa.
"Aksa? Kok bisa ada kamu di sini?" tanya Novi dengan terkejut.
"Hah? Jadi kamu yang membawaku ke sini?" tanya Novi tak percaya.
"Kalau bukan aku siapa lagi? Memangnya ada orang lain selain kita?" tanya Aksa. Ia menaruh makanan yang telah ia masak di atas meja makan. Ia mengambil dua piring untuk dirinya dan Novi.
"Makanlah, kamu pasti laparkan?" ucap Aksa.
"Maaf, aku harus pergi. Oh iya, terima kasih karena sudah menolongku," ucap Novi sinis. Ia pergi dari sana secepatnya. Aksa hanya menghela napasnya pelan. Dirinya sudah memasak sebanyak ini dan Novi pergi begitu saja. Padahal ia berharap bisa sarapan bersama Novi pagi ini.
"Sial banget sih. Kenapa juga harus Aksa yang menolongku?" gerutu Novi saat ia berjalan keluar rumah Aksa.
Novi mengeluarkan ponselnya. Ia menghubungi sopirnya namun tidak terjawab. Novi berdiri di dekat jalan raya untuk memesan taksi. Namun tak ada satupun taksi yang lewat.
"Masa iya aku balik lagi ke rumah Aksa dan memohon untuk mengantarku pulang?" ucap Novi. Ia bingung juga harus bagaimana.
"Aaarrggh.. Lapar banget lagi," gerutu Novi.
Beberapa saat kemudian, Novi kembali lagi ke rumah Aksa. Aksa yang sedang makan sendiri terkejut melihat Novi berjalan menuju ruang makan. Novi menarik kursi dengan kasar dan duduk di sana.
"Habis ini antarkan aku pulang!" ucap Novi dengan ketus. Aksa menahan tawanya sambil melirik Novi. Ia hanya mengangguk dan mempersilakan Novi untuk makan.