
Arini ingin mengetuk pintunya dan pintunya terburu terbuka. Tampak Novi dengan wajah kesalnya. Novi melirik Arini dengan sinis sambil menekuk tangannya di depan dadanya dengan angkuh.
"Lihat saja, gue akan usir lo dari perusahaan ini!" Gumam Novi kesal. Arini hanya menunduk dan tersenyum kikuk. Ia benar-benar bingung harus bersikap seperti apa.
"Aahhh... Minggir sana! Jangan halangi jalan gue!" Ucap Novi dan mendorong Arini. Novi segera bergegas ke ruangannya.
"Ada apa lagi dengan mbak Novi ya. Sepertinya dari tadi marah-marah saja." Ucap Arini pelan. Ia segera masuk ke dalam dan memberitahu Reyhan bahwa kliennya akan datang sebentar lagi.
"Son, kamu urus semuanya. Jangan sampai ada kesalahan. Dan kamu Arini, bantulah Soni juga." Ujar Reyhan dengan datar.
"Baik pak." Jawab Arini dan mengangguk.
Arini dan Soni pamit. Namun sebelum mereka sampai di pintu, Reyhan memanggil Arini dan membuat Arini menghentikan langkahnya begitu juga Soni.
"Mmm.. Aku tunggu di luar saja ya." Ujar Soni kepada Arini. Arini mengangguk dan sekarang langkahnya mendekat kepada Reyhan.
"Buatkan saya kopi dulu. Seperti yang kemarin." Ucap Reyhan dan membuang mukanya. Reyhan merasa sedikit malu. Ia tak mau mengakui bahwa kopi buatan Arini sangat cocok dilidahnya. Arini tersenyum tipis.
"Apa ada hal lain lagi pak?" Tanya Arini memastikan.
"Tidak ada. Hanya saja.. Hanya saja mulai hari ini setiap pagi kamu harus membuatkan aku kopi." Perintah Reyhan lagi.
Arini mengangguk dan segera keluar untuk melaksanakan perintah Reyhan. Soni sudah tersenyum manis melihat Arini keluar dari sana.
"Pak Soni duluan saja. Saya masih harus membuatkan kopi untuk pak Reyhan dulu." Ucap Arini.
"Tidak apa-apa. Saya akan tunggu kamu di sini. Cepatlah, sebelum bos marah nanti." Ujar Reyhan dan sedikit mendorong Arini agar segera beranjak.
"Ini pak, kopi yang pak Reyhan minta." Ujar Arini seraya meletakkan secangkir kopi diatas meja Reyhan. Reyhan menatap sekilas.
"Ya." Jawab Reyhan singkat. Arini segera pamit undur diri.
Di luar, Arini dan Soni menuju ruang rapat karena sudah ditunggu kliennya di sana. Walaupun baru datang, Soni dan Arini tidak ingin kliennya menunggu lama.
"Maaf, kami ada urusan sedikit tadi." Ujar Soni dan mereka saling duduk.
"Tidak apa pak. Kami juga baru sampai." Jawab klien tersebut.
Arini menyodorkan surat kontrak yang sudah dipersiapkan tadi. Klien tersebut membacanya dan mengangguk seraya setuju dengan isi dari kontrak kerja itu. Klien tersebut segera menandatangani suratnya dan begitu juga Soni sebagai perwakilannya. Biasanya juga Reyhan yang menandatangani surat seperti ini. Tetapi kali ini Reyhan sedikit sibuk dan menyerahkan tugas kecil ini kepada Soni.
"Terima kasih banyak, semoga kita bisa bekerja sama dengan baik." Ujar Soni sambil menjabat klien tersebut.
"Sama-sama pak Soni. Kalau begitu kami pamit dulu." Jawab klien tersebut dan mereka saling bertukar senyum.
Setelah mengantarkan sampai lift, Arini dan Soni berjalan beriringan menuju meja kerja mereka. Sepanjang perjalanan, Soni senyum-senyum sendiri entah apa yang ia pikirkan. Arini yang ada disampingnya bergidik ngeri melihatnya.
"Kelihatannya hubungan kamu sama bos sudah lebih baik dari sebelumnya." Ucap Soni dan pertanyaan itu membuat Arini sedikit terkejut.
"Ah, tidak pak. Ini mungkin karena profesional kerja saja. Sebenarnya saya masih takut jika berhadapan dengan pak Reyhan." Terang Arini sedikit gugup.
"Hahaha, kenapa takut? Bos itu sebenarnya baik tahu." Bela Soni. Karena ia tahu memang Reyhan adalah bos yang baik.
Namun Arini belum terbiasa. Dirinya suka gugup sendiri jika berhadapan dengan Reyhan. Takut Reyhan memarahinya. Takut Reyhan membentaknya seperti hari-hari sebelumnya.