
Novi dengan anggunnya masuk ke ruangan Reyhan. Kini ia lebih sering mengunjungi Reyhan. Sejak Arini dipecat dan digantikan oleh Vian, Novi sudah tidak khawatir lagi tentang posisinya. Ia hanya harus berusaha lebih keras lagi agar Reyhan mau melirik padanya.
"Rey, aku bawakan kamu sarapan. Pasti belum makan kan?" Ucap Novi yang sudah berdiri disamping Reyhan dan membuka bekalnya.
"Aku sudah sarapan." Jawab Reyhan malas. Dirinya masih fokus dengan laptopnya.
"Ihh, ini aku yang buat sendiri loh. Masak kamu gak mau nyicipin sih." Ucap Novi dengan manja.
"Nov, apa kamu begitu senggangnya? Kenapa tidak mengurusi pekerjaanmu saja?" Ujar Reyhan yang jengah dengan sikap Novi. Dirinya risih jika Novi menempel padanya terus seperti ini.
Novi memanyunkan bibirnya. Ia begitu kesal dengan jawaban Reyhan. Novi berdecak kesal disamping Reyhan.
Klek
Suara pintu terbuka. Soni dan Vian masuk bersamaan. Novi dengan sinis melihat ke arah mereka.
"Kak, semua sudah siap. Mau pergi sekarang atau.."
"Ya, tunggu aku di luar." Sela Reyhan dan mengemas laptop serta berkas yang ada di mejanya. Vian dan Soni mengangguk dan menunggu di luar ruangan Reyhan. Sedangkan Novi masih berdiri mematung.
"Jika kamu tidak serius dalam pekerjaanmu, sebaiknya mengundurkan diri saja. Aku tidak keberatan kehilangan satu karyawan lagi." Peringat Reyhan sebelum beranjak pergi. Novi mengepalkan tangannya dan tak menjawab ucapan Reyhan. Baru kali ini Reyhan berucap begitu serius.
Reyhan, Vian dan Soni menuju lift. Hari ini cukup sibuk bagi mereka bertiga. Kegiatan di luar kantor kali ini mungkin akan lebih memakan waktu mereka.
Langkah mereka menuju lobby dan masuk ke dalam mobil. Soni yang mengemudi sedangkan Reyhan dan Vian duduk beriringan dikursi belakang.
"Sepertinya kak Novi suka sama kamu kak." Ujar Vian membuka pembicaraan.
Reyhan memicingkan matanya ke arah Vian. Mencerna ucapan adiknya itu.
"Tahu dari mana kamu?" Balas Reyhan datar.
"Dilihat dari sikapnya saja sudah ketahuan kali kak." Jawab Vian lagi.
Reyhan menghela napasnya dengan berat. Sebenarnya bukan Reyhan tidak mengetahui hal itu, tetapi ia lebih menghargai Novi sebagai sahabat saja. Ia tak pernah punya pikiran untuk ke sana. Apalagi membuat hubungan yang lebih serius dengan Novi.
"Apa urusanku?" Balas Reyhan lagi dengan malas.
"Bukannya tidak peka. Tapi aku lebih suka dia menjadi sahabat saja. Lagipula kamu tidak perlu ikut campur tentang urusan percintaan kakak." Ucap Reyhan dengan santai.
"Oke, tidak akan ikut campur selagi wanita itu bukan Arini." Balas Vian. Ia akan merestui siapa saja yang akan menjadi kakak iparnya kecuali Arini. Jika suatu saat nanti Reyhan ada rasa terhadap Arini, Vian tidak akan tinggal diam.
Reyhan mengernyitkan dahinya. Menatap Vian dengan santai.
"Kenapa aku harus menyukainya? Dia sama sekali bukan tipeku." Ucap Reyhan dan tersenyum sinis. Sedangkan Soni yang mendengar percakapan mereka hanya menggelengkan kepalanya.
Mobil terhenti di parkiran sebuah restoran. Mereka bertiga turun dan segera menuju tempat yang sudah diberitahukan sebelumnya. Mereka membahas kerjasama dengan serius.
***
Hari sudah sore, Arini sudah memandikan Zian dan kini sudah waktunya ia pulang. Dirinya nampak gusar melihat ke arah pintu. Sebenarnya sedari tadi ia menunggu Reyhan pulang. Bukan apa-apa, ia menunggu Reyhan untuk mengantar Arini pulang saja. Karena Indi tidak mengizinkan Arini pulang sendiri apalagi diantar oleh sopir. Sungguh konyol menurutnya.
"Ada apa? Kenapa dari tadi ibu perhatikan kamu gelisah?" Ujar Indi saat sudah duduk disampingnya dan memangku Zian.
"Sepertinya pak Reyhan sedang sibuk. Apa sebaiknya saya pulang sendiri saja bu? Saya tidak apa-apa." Ucap Arini dengan hati-hati.
"Tidak! Sekalipun kamu diantar oleh sopi, ibu tidak akan mengizinkanmu. Biar Reyhan yang mengantarmu pulang. Inikan tanggung jawab dia." Bantah Indi terhadap usulan Arini.
Arini hanya bisa diam menunggu Reyhan pulang. Mungkin sebentar lagi, pikirnya.
"Tante tidur di sini saja sama Zian." Ucap Zian sambil melihat Arini.
Arini tersenyum ke arah Zian dan mengusap pelan kepalanya.
"Kalau hanya menemani Zian tidur, tante bisa. Tapi kalau untuk tidur di sini, maaf tante Arini tidak bisa." Tolak Arini dengan halus agar Zian tidak marah padanya.
"Kenapa? Apa karena daddy tidak mengizinkan tante untuk tinggal di sini?" Ucap Zian dengan kecewa. Indi menatap keduanya. Ia memilih untuk diam dan tidak ingin ikut campur.
"Bukan, tapi tante Arini memang harus pulang sayang. Tante Arini juga banyak pekerjaan di rumah." Ucap Arini memberi pengertian.
Zian menatap Arini dengan mata berkaca-kaca. Arini tidak tega melihatnya dan segera mengambil Zian dan memeluknya. Zian memeluk Arini sangat erat seakan tidak ingin melepaskan Arini. Hubungan mereka beberapa hari ini memang semakin dekat saja.
Tentu saja Indi sangat bahagia melihat keakraban mereka yang seperti ibu dan anak. Indi berharap, dengan mencoba mendekatkan Reyhan dan Arini bisa membuat sikap anaknya berubah. Berharap sikap Reyhan hangat seperti dulu, tidak dingin seperti sekarang ini.