
Keesokan harinya, Reyhan sudah bersiap untuk berangkat ke kantor. Reyhan tidak lagi membawa Zian ke kantornya namun ia menyewa dua bodyguard untuk berjaga di depan rumahnya. Jika Clara datang, mereka yang akan menghadang dan mengusir Clara dari rumahnya.
Reyhan sengaja melakukan ini untuk melindungi Zian dari Clara. Reyhan juga tidak ingin lagi berhubungan dengan mantan istrinya itu.
Reyhan keluar kamarnya dan kini ia sudah duduk di ruang makan. Indi menyiapkan sarapan untuk Reyhan dan suaminya.
"Apa nanti kamu akan bawa Zian ke kantor lagi?" Tanya pak Kusuma sambil menikmati sarapannya.
"Tidak pa. Reyhan tidak membawa Zian ke kantor lagi." Balas Reyhan.
"Biar mama saja yang jaga. Kamu itu harusnya cepat-cepat cari istri lagi. Kalau tidak, Clara akan terus mengganggu keluarga kita Rey." Ujar Indi sambil menyuapi cucunya itu.
Reyhan menghentikan makannya. Ia berpikir sejenak.
"Tapi ma, Reyhan belum punya pandangan yang cocok untuk Reyhan." Balas Reyhan dengan datar.
"Kenapa kamu tidak mencoba dengan Novi saja? Dia juga baik menurut mama. Dia juga sudah tahu kondisimu bagaimana selama ini. Mama lihat, Novi suka sama kamu Rey." Ucap Indi lagi. Ia merasa kasihan melihat Reyhan yang terus menyendiri seperti ini.
"Ma, nanti Reyhan pikir-pikir lagi." Balas Reyhan dan mengakhiri sarapannya.
Bi Inah datang menghampiri meja makan. Bi Inah memberitahu Reyhan bahwa ada dua orang yang mencarinya. Reyhan langsung menuju teras rumahnya.
"Selamat pagi pak Reyhan." Ucap dua orang tersebut bersamaan. Berpakaian rapi dan serba hitam. Ya, mereka adalah bodyguard yang disewa Reyhan untuk menjaga Zian.
"Selamat pagi." Ucap Reyhan mengangguk.
Reyhan berjalan mendekati mereka berdua.
"Siapa nama kalian?" Tanya Reyhan yang sudah berada tepat di depan mereka.
"Saya Aldi dan ini rekan saya Rafa." Ucap Aldi dengan sopan. Mereka mungkin seumuran dengan Reyhan.
Kedua bodyguard tersebut mengangguk paham. Aldi menerima foto tersebut dan melihatnya sekilas. Setelah itu menyimpannya di saku jasnya.
Reyhan kembali lagi masuk ke dalam dan menuju meja makan. Ia menceritakan kepada orang tuanya bahwa sudah menyewa bodyguard untuk keamanan Zian. Yang terpenting baginya, Clara tidak akan lagi mengganggu Zian. Dan meracuni pikiran anaknya itu. Biarlah Reyhan egois untuk kali ini.
Reyhan mencium kening Zian sekilas dan ia berangkat ke kantor. Kali ini ia tidak akan khawatir lagi mengenai Zian.
"Ma, pa. Reyhan berangkat dulu." Ujar Reyhan sambil mencium punggung tangan kedua orang tuanya. Reyhan menuju mobilnya dan berangkat diantar sopir.
Di kantor, Arini sudah siap untuk tugasnya hari ini. Tadi pagi sebelum ia berangkat, Reyhan meneleponnya dan ia akan mengajak Arini meeting di luar. Arini terlihat bersemangat, karena Reyhan memberinya kesempatan lagi.
Arini berdiri saat Reyhan berjalan masuk ke ruangannya.
"Selamat pagi pak Reyhan." Ujar Arini sambil menunduk.
Reyhan hanya menatap sekilas ke arah Arini dan kembali melangkah ke dalam bersama Soni. Arini duduk kembali setelah mereka berdua menghilang dari balik pintu.
Reyhan duduk di kursinya dan Soni berada di sampingnya. Soni menyerahkan laporan yang telah dikerjakan oleh Arini kemarin. Reyhan membuka dan membaca isi laporan tersebut.
"Ini tidak terlalu buruk daripada beberapa waktu lalu. Cepat juga dia belajar." Batin Reyhan meneliti setiap isi dari laporan tersebut.
Reyhan menaruh dokumen tersebut di atas meja. Menatap Soni sekilas.
"Masih kurang. Ini tidak bisa membuatku puas. Hanya biasa saja." Komentar Reyhan. Namun dihatinya tersenyum puas karena ada kemajuan dari sekretarisnya itu.
"Bukankah ini sudah lebih baik? Dia belajar dengan cepat. Apa kau sama sekali tidak terkesan?" Tanya Soni penasaran. Harusnya ini bisa membuat Reyhan terkesan. Atau setidaknya ini membuat Arini bisa bertahan di sini.
Reyhan hanya menggeleng dengan pelan. Ia tak banyak menanggapi tentang Arini. Hanya menatap dokumen di depannya tanpa bicara.
"Aku harus segera mengajari Arini lagi. Kalau tidak, bisa-bisa Arini dipecat dari perusahaan ini. Kasihan dia." Batin Soni.