
Reyhan melajukan mobilnya menuju kantor. Ia tidak tahu lagi harus mencari Zidan di mana. Penculiknya juga tidak meninggalkan jejak apapun. Bahkan pengawalnya juga kesulitan untuk mencarinya.
"Sial! Harus ke mana lagi aku mencarinya. Jika bukan Clara lalu siapa?" decak Reyhan sambil memukul setir mobilnya.
"Sebenarnya apa tujuan dari penculikan ini. Jika mereka membutuhkan uang, harusnya dari kemarin mereka meminta tebusan. Tapi ini tidak. Sepertinya ada rencana lain selain itu," batin Reyhan bingung.
Tak butuh waktu lama, ia sudah sampai di kantor. Reyhan langsung menuju ruangannya.
"Pagi Rey," sapa Novi yang sudah berdiri di depan pintu ruangan Reyhan.
"Ada apa? Apa kamu tidak ada pekerjaan sama sekali?" tanya Reyhan malas. Ia membuka pintunya dan masuk begitu saja ke ruangannya. Reyhan mendudukkan dirinya di kursi kerjanya. Novi menyusulnya seperti biasa yang ia lakukan saat pagi hari. Menyapa Reyhan.
"Aku turut prihatin atas menghilangnya Zian Rey. Kamu sih tidak percaya sama aku. Arini itu bukan wanita yang baik untuk kamu. Lihatkan sekarang? Zian menghilang," ucap Novi yang sudah di samping Reyhan.
Reyhan mengernyitkan dahinya. Apa maksud dari ucapan Novi? Apakah ia ingin menghasut Reyhan agar meninggalkan Arini atau apa.
"Dari mana kamu tahu kalau Zian diculik?" tanya Reyhan santai sambil menatap Novi.
Novi terkejut. Tubuhnya membeku. Novi terlihat gugup sekarang.
"Mmm... Itu, kemarin aku telepon tante Indi. Katanya Zian diculik. Yah, benar seperti itu. Makanya aku bisa tahu berita ini," ucap Novi gugup. Reyhan tersenyum sinis. Bahkan orang tuanya tidak tahu akan hal ini. Bagaimana bisa Novi berkata seperti itu.
"Benarkah? Tapi aku belum cerita sama orang tuaku mengenai penculikan Zian," ucap Reyhan sambil membenarkan posisinya. Ia menatap Novi dengan tajam.
Novi menelan salivanya dengan susah. Ia telah salah bicara. Harusnya ia tidak menyinggung akan hal ini.
"Rey, aku... Aku baru ingat ada sedikit pekerjaan yang harus aku selesaikan," ucap Novi dan langsung buru-buru ingin keluar ruangan.
Tangannya dicekal oleh Reyhan. Reyhan mencengkram tangan Novi dengan kuat. Menatap tajam Novi yang membuat nyali Novi menciut.
"Katakan! Apa kau dalang dibalik penculikan Zian?" ucap Reyhan pelan namun penuh penekanan.
Novi masih berusaha melepas cengkraman tangan Reyhan. Karena itu menyakiti tangannya.
"Sakit Rey, lepasin!" ujar Novi.
"Katakan di mana Zian?" bentak Reyhan.
"Aku tidak tahu!" ucap Novi meninggi.
Mereka masih beradu mulut. Reyhan sangat yakin jika Novi terlibat dalam masalah ini. Tetapi Novi tidak mau mengaku. Reyhan jiga tidak bisa main kasar kepada Novi. Bagaimanapun juga Novi adalah sahabatnya dari kecil.
"Aku tanya untuk yang terakhir kalinya Nov. Di mana Zian berada? Jika kamu tidak memberitahuku jangan salahkan aku berbuat kasar padamu!" peringat Reyhan.
Novi tersenyum sinis. Ia berjalan sedikit menjauhi Reyhan. Tangannya ia lipat di depam dada. Reyhan hanya menatap setiap pergerakan Novi.
"Kau ingin tahu di mana Zian kan Rey? Aku akan memberitahumu, tapi ada satu syarat," ucap Novi menyeringai.
"Katakan! Apa yang kamu inginkan!" balas Reyhan dengan cepat.
Novi tersenyum tipis. Ia menatap Reyhan sejenak.
"Mudah saja. Tinggalkan Arini dan menikahlah denganku!" ucap Novi dengan santai.
"Apa kamu bilang?" ucap Reyhan tak percaya.
"Yah, seperti yang kamu dengar dan yang aku ucapkan tadi. Jadi, apa kamu sanggup memenuhi syarat dariku Rey?" ujar Novi dan tersenyum sinis menatap Reyhan. Ia yakin jika Reyhan akan lebih mengutamakan keselamatan Zian.
Reyhan mengepalkan tangannya. Novi yang telah ia anggap sebagai sahabat bahkan saudara ini tega melakukan ini dan menjadikan Zian sebagai sandraan.
"Bagaimana Rey?" ucap Novi sedikit pelan di samping Reyhan.