
Reyhan pulang dari kantor. Hari ini ia berniat mengajak Arini makan malam di restoran. Reyhan selalu bersemangat semenjak menyatakan cintanya kepada Arini waktu itu.
Tiba di rumah, Reyhan segera mencari Arini dan anaknya. Reyhan menuju ruang tengah yang di sana ada Arini dan anaknya.
"Halo anak daddy. Tidak merepotkan tante Arini kan?" Ucap Reyhan saat dirinya sudah berada di sana dan duduk disamping Arini. Zian menggeleng pelan.
Zian berhambur memeluk Reyhan. Zian menceritakan aktivitasnya seharian ini bersama Arini. Reyhan mendengarkan semua hal yang diceritakan oleh anaknya yang lucu ini. Sesekali ia tertawa mendengar cerita yang dianggapnya lucu.
Reyhan melirik Arini dan mencium puncak kepalanya sekilas. Dirinya tersenyum hangat kepada Arini yang kini salah tingkah di depannya.
"Bagaimana kondisi Vian?" Tanya Reyhan
"Dia tidak mau keluar kamarnya." Ucap Arini merasa bersalah.
"Maaf menempatkanmu dalam posisi sulit seperti ini." Ujar Reyhan dan mengusap lembut punggung tangan Arini. Arini tersenyum tipis.
"Aku antar kamu sekarang sekalian kita makan di luar ya." Ucap Reyhan sambil mendudukkan Zian kepangkuan Arini. Arini mengangguk.
"Mau jalan-jalan?" Tanya Reyhan pada anaknya.
"Mau daddy.. Sama tante Arini kan?" Balas Zian antusias.
"Iya sayang." Tangan Reyhan mengusap puncak kepala Zian.
"Asiiikk..." Ucap Zian dengan senang.
Reyhan kembali ke kamarnya untuk mandi dan bersiap. Hari ini ia akan menghabiskan waktunya bersama Arini.
"Ayo." Ajak Reyhan saat sudah siap dengan baju santainya. Tanpa Arini sadari, pipinya merona melihat Reyhan yang berpakaian seperti itu.
"Kenapa? Aku tambah ganteng ya?" Celetuk Reyhan.
"Apaan sih pak." Arini berusaha menyembunyikan wajahnya yang memerah dengan berpaling tak menatap Reyhan.
Reyhan tertawa puas melihat Arini yang malu-malu. Reyhan mengangkat Zian ke dalam gendongannya dan merangkul bahu Arini. Mereka berjalan beriringan.
Tanpa mereka sadari, Vian mengamati mereka dari atas. Melihat kemesraan wanita yang ia cintai dengan kakaknya sendiri membuat Vian semakin cemburu. Namun ia berusaha untuk tetap mengendalikan dirinya.
"Yang sabar sayang." Ujar seseorang dari belakang Vian dan menepuk bahunya pelan. Tatapan Vian beralih ke sumber suara dan ternyata itu adalah ibunya.
"Mama yakin kamu bisa melupakan Arini. Kamu lihat, kehadiran Arini mampu mengubah jalan hidup kakakmu yang dingin itu." Ujar Indi dan memeluk anaknya dari samping.
"Apa mama yakin Vian bisa melupakan Arini?" Tanya Vian sambil menyandarkan kepalanya.
"Ma, Vian terlalu mencintai Arini." Ungkap Vian dan kini menatap mamanya dengan sedih. Indi memeluk anaknya ini dan mengusap punggungnya. Berharap itu bisa mengurangi sedikit beban dihatinya.
Bagaimana sih rasanya mencintai wanita yang dicintai juga oleh kakak sendiri? Sakit bukan. Bagaimana kamu akan menjalani kehidupanmu agar bisa terlihat baik-baik saja? Berat bukan. Ya itulah sekiranya yang dirasakan Vian. Pura-pura ikhlaskah? Apa ia bisa bersikap biasa saja.
Saat hatinya sudah berlabuh pada satu wanita. Dan ternyata wanita itu orang yang harus segera ia lupakan. Bagaimana sikap yang harus diambil oleh Vian.
***
Reyhan mengajak Arini dan Zian ke mall. Mereka akan menghabiskan waktu di situ. Zian terlihat sangat bahagia dari sebelumnya. Karena Arini kali ini ikut bersama mereka.
Arini duduk di kursi yang disediakan di sekitar area bermain. Sedangkan Reyhan pergi ke toilet. Arini tidak pernah membayangkan bahwa akan ada hari ini. Hari di mana ia bisa sedekat ini dengan Reyhan dan juga Zian.
"Arini." Sesosok wanita memanggil Arini. Arini menoleh dan ternyata itu adalah sahabatnya, Caca. Arini berdiri dan menyambut Caca. Mereka saling berpelukan.
"Astaga, selama ini kamu ke mana saja? Kamu tahu, aku sangat mencemaskanmu saat tahu kamu dipecat oleh pak Reyhan." Ujar Caca sambil memegangi pundak Arini.
"Aku baik-baik saja. Oh iya aku sudah dapat pekerjaan baru kok. Maaf kalau selama ini aku tidak menghubungimu." Ujar Arini merasa bersalah.
"Kamu kerja di mana? Apa bosmu juga galak?" Tanya Caca menyelidik.
"Itu, aku kerja di..." Sebelum Arini menyelesaikan kalimatnya, Reyhan sudah menuju ke tempat mereka.
"Sayang, apa Zian sudah selesai bermain?" Tanya Reyhan sambil berjalan ke arah mereka.
"Belum." Balas Arini.
Caca menoleh ke arah Reyhan dan itu membuat Reyhan terkejut. Begitu juga dengan Caca. Caca menutup mulutnya yang menganga.
"Pak Reyhan." Sapa Caca.
Reyhan mengangguk pelan dan menatap Caca dengan datar. Dirinya sama sekali tak merasa terganggu dengan kehadiran Caca.
"Apa tadi yang pak Reyhan katakan? Sayang? Apa telah terjadi sesuatu antara Arini dengan pak Reyhan. Aaaa.. Caca, bagaimana bisa kamu melewatkan berita sebesar ini." Gumam Caca yang masih mematung di tempatnya.
"Arini, aku duluan ya. Sering-sering kabari aku. Pak Reyhan, saya permisi dulu." Pamit Caca yang merasa canggung berada diantara mereka.
"Apa tadi itu temanmu?" Tanya Reyhan yang kini sudah duduk disamping Arini.
"Iya." Jawab Arini dengan singkat.