
Sejak kejadian waktu itu, Arini dan Reyhan semakin dekat saja. Mereka sudah tidak canggung lagi satu sama lain. Reyhan perlahan mengagumi sifat Arini yang begitu sabar dan penyayang terhadap Zian.
Beberapa kali Reyhan memperhatikan Arini diam-diam saat Arini sedang bercengkrama dengan anaknya itu. Tanpa sadar senyum manis tergurat diwajahnya.
Tanpa disuruh pun Reyhan dengan senang hati mengantar Arini pulang. Bahkan dirinya sempat enggan melepas Arini untuk pulang.
Sejatinya, Arini juga merasakan hal yang sama. Sejak Arini dan Reyhan berciuman waktu itu, hati Arini tergerak dan perlahan tumbuh rasa suka dihatinya. Meskipun Arini selalu diam dan mencoba menghindar. Itu tak menutup kemungkinan hatinya berdesir saat berdekatan dengan Reyhan.
Lain halnya dengan Vian. Beberapa kali mencoba mendekati Arini namun tidak bisa membuat namanya terlukis dihatinya. Namun Vian juga tidak mau kalah dengan kakaknya itu.
Begitu juga saat ini, mereka berempat yakni Reyhan, Arini, Zian dan juga Vian sedang berkumpul di ruang tengah.
Reyhan duduk agak menjauh dari mereka. Sambil fokus memainkan ponselnya. Sedangkan Vian bersandar di bahu Arini sambil menggodanya sesekali.
"Jangan seperti ini. Tidak enak dilihat orang." Ujar Arini sambil mendorong kepala Vian dengan pelan.
Bukan Vian namanya jika ia tidak bisa membuat Arini mendengus kesal karena ulahnya. Vian berganti memeluk Arini dari samping. Arini berusaha melepas pelukan Vian. Tetapi semakin melepas, Vian semakin mengeratkan.
Reyhan menatap sekilas ke arah mereka. Lalu ia kembali fokus menatap ponselnya. Reyhan meletakkan ponselnya di meja dengan asal. Ia beranjak mendekati Arini dan Vian. Reyhan duduk disamping Arini. Arini terapit oleh mereka berdua.
"Bisa gak sih kalian tidak dekat-dekat seperti ini?" Ujar Reyhan sambil melepas tangan Vian dan memeluk Arini agar menjauh dari adiknya itu.
"Kenapa? Gak ada urusannya sama kak Reyhan." Balas Vian lagi dan menarik Arini mendekat padanya.
Sedangkan Zian untung saja sudah tertidur. Arini merasa jengah dengan kelakuan adik kakak yang seperti anak kecil. Menarik Arini ke sana ke sini.
Cup
Reyhan segera mengecup bibir Arini dengan lembut. Membuat Arini dan Vian terkejut. Mata Reyhan mengarah menatap Vian yang tengah mematung melihat adegan itu.
Arini mendorong keras Reyhan dan ia segera berdiri. Arini mengusap bibirnya.
"Cukup. Saya bukan barang yang bisa kalian perebutkan seperti ini. Maaf, saya harus membawa Zian ke kamar." Tegas Arini dan ia menggendong Zian untuk tidur di kamarnya.
"Awas aja kamu kak. Aku tidak akan mundur!" Ujar Vian memperingati Reyhan. Reyhan menyeringai ke arah adiknya itu.
"Bodo amat." Jawab Reyhan tak begitu menanggapi ucapan Vian.
Di kamar, Arini merebahkan dengan pelan tubuh Zian. mengusap keningnya dan menyelimutinya. Arini kembali meraba dadanya sendiri. Debaran dari hatinya masih terasa sampai sekarang.
Tanpa Arini sadari, Reyhan telah duduk manis disampingnya.
"Ada apa?" Tanya Reyhan dengan lembut.
Arini terperanjak ketika mendengar suara dari sampingnya. Astaga, jantungnya kembali berdebar. Entahlah, ini karena kehadiran Reyhan atau karena ia sedang kaget saja.
"Pak Reyhan kenapa tiba-tiba ada di sini?" Tanya Arini yang masih terkejut sambil mengontrol napasnya.
"Ini kan kamar anak saya. Terserah saya mau ke sini atau tidak." Ujar Reyhan pura-pura cuek.