Arini, I Love You!

Arini, I Love You!
Bab 19



Tangan Reyhan bergerak menyentuh pipi Arini yang memerah akibat ulah Novi tadi. Tapi Arini buru-buru mundur sehingga tangan Reyhan terhenti di depan wajah Arini.


"Biar saya saja pak." Ucap Arini yang masih gugup. Reyhan mengangguk dan menyerahkan salep yang ada ditangannya.


Setelah itu, suasana kembali canggung. Arini bingung harus bersikap seperti apa di depan Reyhan. Beberapa kali Arini menelan salivanya dengan susah.


"Kamu tinggal sendiri?" Tanya Reyhan memulai percakapan. Arini mengarahkan pandangannya menatap Reyhan.


"Iya pak." Jawab Arini sambil mengangguk.


"Kenapa pak Reyhan tidak pulang-pulang?" Tanya Arini dalam hatinya.


Reyhan yang sedari tadi memperhatikan Arini sedikit paham jika Arini saat ini tidak nyaman jika dirinya berada di sini. Entah kenapa, Reyhan merasa enggan untuk pulang.


"Mmm... Pak, saya buatkan minuman sebentar." Ucap Arini dan segera bangkit dari duduknya. Ia berjalan menuju dapur. Reyhan hanya mengangguk saja.


Reyhan merebahkan tubuhnya di sofa. Lalu ia memejamkan matanya sebentar sambil menunggu Arini kembali. Dirinya sangat lelah dan kini rasa kantuk menghampirinya.


Arini telah selesai membuatkan minuman. Namun ia takut untuk membangunkan Reyhan. Arini meletakkan minuman tersebut di meja. Kemudian ia mengambil bungkusan makanan dan ia bawa ke meja makan. Arini mengambil piring dan menaruh makanannya di sana. Ia kembali lagi dengan membawa dua piring makanan.


Arini ragu, Reyhan sepertinya nampak lelah sekali. Terlihat jelas raut wajahnya yang kelihatan letih.


"Pak Reyhan!" Panggil Arini pelan dan sedikit mengguncang lengan Reyhan.


Reyhan membuka matanya. Ia terkejut dan segera bangkit dan duduk. Matanya memerah, mungkin tadi ia tertidur.


"Maaf, saya ketiduran." Ucap Reyhan dan mengucek kedua matanya.


Reyhan segera melahap makanan yang ada di depannya. Ia memang belum makan sejak tadi. Setelah selesai, Reyhan berniat untuk pamit pulang.


"Pak?" Panggil Arini yang sedari tadi memperhatikan Reyhan.


"Ya?" Ucap Reyhan dan mengalihkan pandangannya ke Arini.


"Ada apa?" Tanya Arini yang mendapati Reyhan seperti kebingungan.


"Ah, tidak ada. Kalau begitu saya pamit pulang dulu. Kamu jaga diri baik-baik." Ucap Reyhan dan ia berdiri.


Arini mengangguk dan mengantar Reyhan sampai ambang pintu.


"Tapi ingat, urusan pekerjaan masih berlaku. Kalau dalam satu minggu kamu belum bisa membuat saya puas dengan hasil pekerjaanmu, kamu saya pecat!" Ucap Reyhan memperingati. Tatapannya kini kembali dingin.


"Saya akan berusaha semampu saya pak." Balas Arini.


Reyhan mengangguk, kemudian melangkah pergi. Arini menutup pintunya kembali dan mengemasi piring kotor dan membawanya ke dapur. Arini segera mencucinya.


Kini ia duduk di kursi meja makan. Pikirannya menerawang jauh tentang sikap Reyhan hari ini. Berbeda dari hari sebelumnya.


Di sisi lain, Reyhan juga berpikir keras tentang dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia sampai berkunjung ke rumah Arini untuk memastikan bahwa ia baik-baik saja.


Reyhan melajukan mobilnya kembali ke rumah. Membelah jalanan kota dengan kecepatan sedang. Hari ini badannya terasa kurang sehat. Dan hampir saja ia ketiduran di rumah Arini andai Arini tidak membangunkannya tadi.


Setelah beberapa menit, mobilnya memasuki halaman rumahnya. Reyhan segera turun dan masuk ke dalam. Ia langsung menuju kamarnya dan istirahat.