Arini, I Love You!

Arini, I Love You!
Bab 52



Mereka berempat kini berada di ruang makan. Mereka makan makan dengan tenang. Tak ada suara yang mengusik mereka. Setelah selesai, Arini membantu ibunya mencuci piring dan membuatkan Reyhan dan ayahnya teh hangat.


"Pak, tehnya." Ujar Arini sambil meletakkan di depan Reyhan dan ayahnya.


"Nduk, acaramu itu mau kamu adakan kapan? Biar ibu sama bapak bisa persiapan." Tanya pak Abdul pada anaknya itu.


Arini duduk disamping Reyhan. Ia menatap Reyhan dan dijawab anggukan olehnya.


"Insya Allah kalau nggak ada halangan, acaranya akan dilaksanakan bulan depan pak." Balas Arini.


Pak Abdul mengangguk paham. Ia mengambil segelas teh hangat yang sudah dibuatkan oleh Arini tadi dan meneguknya dengan pelan.


"Bagus itu, lebih cepat lebih baik." Balas pak Abdul. Reyhan merasa lega dengan jawaban dari orang tua Arini. Niatnya kini disambut dengan tangan terbuka oleh keluarga Arini. Walapun ibu Hariyah sempat tidak suka dengan statusnya sebagai seorang duda anak satu.


Hari semakin sore, mereka memutuskan untuk menginap satu malam. Arini dan keluarganya khawatir jika mereka pulang larut malam, mengingat jarak tempuh yang lumanyan jauh.


Untung saja ada kamar lebih sehingga bisa untuk istirahat Reyhan malam ini. Arini membersihkan kamar tersebut agar Reyhan segera istirahat.


"Sudah pak. Bapak silakan istirahat dulu. Maaf jika kurang nyaman dengan tidurnya." Ucap Arini saat ia sudah selesai bersih-bersih kamar. Walaupun sederhana namun nyaman juga. Kamar yang juga tidak terlalu besar.


Saat Arini beranjak keluar, Reyhan menarik tangan Arini dan segera memeluknya. Reyhan mengecup kening Arini sangat lama. Meluapkan rasa rindu dihatinya.


"Pak, jangan seperti ini." Ucap Arini dan berusaha melepas pelukan Reyhan.


"Sebentar saja." Bisik Reyhan dan kini ia mengecup bibir Arini. Arini membalas ciuman itu. Arini melingkarkan kedua tangannya dileher Reyhan. Reyhan menahan tengkuk Arini untuk memperdalam ciuman mereka.


Arini mengangguk dan segera keluar kamar dan menuju kamarnya sendiri. Semburat merah terpancar diwajahnya.


***


"Kamu yakin nak mau balik ke luar negeri lagi?" Tanya Indi kepada Vian yang saat ini sedang mengemas barang-barangnya.


"Iya ma. Ini satu-satunya cara untuk melupakan Arini. Aku tidak mau mengganggu kebahagiaan mereka ma." Balas Vian dengan yakin.


Ini adalah cara terbaik baginya untuk melupakan Arini. Dengan kesibukannya di luar negeri nanti, setidaknya ia bisa mengalihkan pikirannya tentang Arini. Jujur, Vian masih belum yakin bisa melupakan Arini atau tidak. Ia juga belum bisa memastikan seberapa lama untuk mengembalikan hatinya pada keadaan semula.


"Apa diacara lamaran kakakmu nanti kamu tidak akan hadir?" Tanya Indi memastikan. Ia juga merasa kasihan melihat putra keduanya ini bersedih.


"Entahlah ma. Mungkin tidak." Balas Vian yang kini menatap pakaian yang sedang ia masukkan ke koper dengan sendu.


Indi menghampiri Vian dan menepuk pundaknya. Setidaknya ini akan menenangkan untuk Vian. Sentuhan kasih sayang dari seorang ibu.


"Maafkan mama sayang." Indi memeluk Vian dari samping. Vian tersenyum getir.


"Bukan salah mama." Balas Vian sambil mengelus lengan ibunya itu.


Besok, ia akan berangkat ke luar negeri. Sebelum Reyhan dan Arini kembali dari kampung halaman Arini. Ia tidak ingin membuat Arini semakin terbebani. Ia hanya ingin melihat Arini bahagia. Itu saja.