Arini, I Love You!

Arini, I Love You!
Bab 05



Author POV


Pagi sinar mentari, yang mampu membuat setiap jiwa manusia bersemangat. Hari ini Arini sudah berdandan di depan cermin yang terletak di kamarnya. Sedikit memoles wajahnya agar tidak terlihat pucat. Dirinya sudah siap untuk menyambut hari kedua bekerja di perusahaan Diamond Grup.


"Semoga hari ini lebih baik dari kemarin. Harus semangat, dan pantang menyerah." Gumam Arini saat melihat pantulan dirinya di cermin.


Arini memasukkan barang-barangnya ke dalam tas, kemudian berjalan keluar kamar. Dirinya membawa bekal karena tidak sempat untuk sarapan. Setelah selesai dengan bekalnya, Arini keluar apartemennya dan berangkat ke kantornya.


Setelah beberapa menit, ia sampai di depan gedung yang selalu membuatnya kagum. Kagum karena ia bisa bekerja di perusahaan ternama. Ya meskipun pekerjaannya sedikit terhambat.


Arini berjalan sampai di lobby. Menyapa dengan senyuman kepada setiap karyawan yang ditemuinya. Namun semua karyawan yang disapanya hanya acuh dan tak melirik Arini sedikitpun.


Arini menghela napasnya dengan pelan. Lingkungan kerja yang kurang cocok untuknya. Namun ia harus bertahan. Karena ini satu-satunya perusahaan yang bersedia menerimanya.


Arini menghampiri tempat duduknya dan mulai menyalakan komputernya. Tidak buruk, Arini sedikit demi sedikit sudah mengerti tugasnya sebagai sekretaris.


Terlihat dari arah lift Reyhan datang bersama Soni, asisten pribadinya yang beberapa hari ini izin tidak bekerja karena ada urusan di keluarganya. Disusul Novi dibelakang mereka yang berjalan dengan angkuhnya.


Arini segera berdiri menyambut Reyhan dan kedua bawahannya. Menampilkan senyumnya dan mengangguk dengan pelan.


"Selamat pagi pak Reyhan." Sambut Arini yang tengah berdiri di dekat pintu masuk.


Reyhan menghentikan langkahnya sejenak. Menatap Arini dengan dingin. Dirinya tidak mengucap sepatah katapun. Setelah itu, Reyhan membuka pintu dan masuk ke dalam. Novi menatap Arini dengan sinis sebelum ikut masuk dengan mereka.


"Heh, mau seberapa lembutnya sikap kamu. Itu tidak akan merubah pandangan Rey terhadapmu." Batin Novi.


"Tidak, tidak boleh menangis. Arini, kamu harus bertahan." Batin Arini menenangkan dirinya sendiri. Menatap sekitarnya, kini para karyawan tersebut juga menatapnya dengan sinis.


Sementara Rey di ruang kerjanya sedang membahas proyek baru.


"Rey, aku saranin sama kamu segera memecat sekretaris yang nggak berguna seperti dia! Ngapain sih, kamu masih memberinya tempat itu. Jelas-jelas nggak becus dalam kerjanya." Protes Novi. Sebenarnya dia membenci Arini. Ia merasa Arini akan menjadi ancaman baginya suatu hari nanti. Lebih baik disingkirkan mulai sekarang, daripada menyesal kemudian.


"Kamu tidak perlu ikut campur. Lagipula aku tidak memberinya pekerjaan apapun. Setelah satu minggu aku yakin dia akan mengundurkan dirinya dengan sendirinya." Jawab Reyhan yang masih fokus menyelesaikan tugasnya.


"Tapi Rey, dia itu tidak berguna sama sekali." Novi masih mendesak Reyhan agar menyetujui permintaannya dan mendepak Arini dari perusahaan.


"Ada Soni yang menghandle semua pekerjaanku. Kamu jangan khawatir." Ucap Reyhan dan kali ini sedikit melirik Novi.


Novi mendengus kesal. Tandanya ia tidak suka dengan keputusan yang diambil oleh Reyhan. Namun ia juga tak bisa ikut campur terlalu banyak soal urusannya.


"Ya baiklah terserah kamu." Ujar Novi pasrah.


Mereka mulai mengobrol masalah proyek barunya. Begitu serius, entah apa saja yang mereka bahas.


Setelah cukup lama, Reyhan menelepon Arini agar segera menuju ruangannya. Arini yang mendapat telepon dari bosnya ini segera bangkit dan menghampiri ruangan Reyhan dengan bersemangat.


"Akhirnya aku mendapat pekerjaan juga. Bukan hanya duduk manis sambil membaca dokumen." Gumam Arini dengan begitu senangnya. Segera ia masuk ke dalam karena tak ingin bosnya menunggu terlalu lama.