
Hari semakin larut, Arini masih berada di kediaman Kusuma karena ditahan oleh Indi. Indi hanya ingin Reyhan yang mengantarnya pulang. Namun sampai sekarang, Reyhan dan Vian tak kunjung pulang.
Zian sudah terlelap di dalam dekapan Arini. Zian begitu pulas tidur dalam pelukan Arini. Dengan lembut Arini mengusap punggung Zian dan ia tersenyum tipis.
"Arini, bawalah Zian ke kamarnya. Dan kamu istirahatlah dulu, nanti jika Reyhan sudah pulang, saya akan membangunkanmu." Ucap Indi menyarankan Arini untuk istirahat. Terlihat jelas bahwa Arini sangat lelah.
"Baik bu." Jawab Arini dan membawa Zian ke kamar.
Arini merebahkan dengan pelan tubuh Zian. Zian menangis sambil memeluk erat Arini. Sepertinya dia tidak ingin lepas dari Arini. Arini menepuk punggung Zian dengan pelan. Berharap Zian kembali tertidur.
Setelah cukup lama, Zian akhirnya tertidur kembali. Arini menghela napasnya dengan lega. Arini menguap beberapa kali, pertanda bahwa ia juga mengantuk saat ini.
Arini menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua. Sebenarnya Arini tidak ingin tidur. Namun matanya tak bisa diajak kompromi. Ia terlelap sambil memeluk Zian.
Di perjalanan pulang, Reyhan terus kepikiran Arini. Ia lupa kalau ia harus mengantar Arini pulang setiap sorenya. Begitu banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan hari ini. Tanpa sadar, hari sudah semakin larut.
"Semoga saja dia sudah pulang. Bagaimana bisa aku lupa. Heh, mungkin kali ini mama akan memarahiku lagi." Batin Reyhan sambil menyandarkan kepalanya di dekat kaca mobil. Sedangkan Vian yang mengemudikan mobilnya.
Tak lama setelah itu, mobil mereka telah terparkir di halaman rumah. Vian dan Reyhan sama-sama keluar dan segera masuk ke dalam rumah.
"Ma, pa." Sapa Reyhan saat mendapati orang tuanya telah duduk manis di ruang tengah.
Reyhan dan Vian duduk sebentar di sana.
"Ma, pa, Vian ke kamar dulu ya. Vian sangat capek." Ucap Vian dan dijawab anggukan oleh mereka.
"Rey, kenapa hari ini kalian pulang telat?" Tanya Indi.
"Tadi banyak kerjaan ma di kantor. Banyak yang harus Reyhan urus." Ucap Reyhan dengan lesu.
"Jangan terlalu sering mengurusi pekerjaan. Jagalah kesehatanmu juga." Ujar Kusuma menasihati anaknya. Karena semenjak dirinya mengundurkan diri dan menyerahkan bisnisnya kepada Reyhan, Reyhan terlalu sibuk dan lupa dengan kesehatannya sendiri.
"Iya pa. Papa tenang saja." Balas Reyhan.
"Ma." Ujar Reyhan menggantung. Dirinya enggan bertanya tentang Arini.
"Arini ada di kamarnya Zian. Kalau kamu lelah, biarkan Arini menginap di sini semalam saja. Tadi Zian juga sangat rewel tidak mau ditinggal Arini." Jelas mamanya yang tahu apa yang akan ditanyakan Reyhan.
"Mama yakin ingin mendekatkan Arini dengan Reyhan?" Tanya Kusuma tiba-tiba.
"Mama yakin seratus persen pa. Lagipula Arini itu baik, lembut dan penyayang terhadap Zian." Puji Indi.
Kusuma tidak mempermasalahkan siapa yang akan menjadi menantunya. Tetapi dengan sikap Reyhan yang begitu, Kusuma tidak yakin Arini akan hidup bahagia. Dirinya berharap yang terbaik untuk keduanya. Namun jika mereka berdua berjodoh, itu akan lebih membahagiakan lagi untuknya.
"Sudahlah, kita istirahat saja. Biar waktu yang akan menjawab semua ini." Ujar Indi dan meninggalkan Kusuma di ruang tengah sendiri. Kusuma merapikan korannya dan menyusul istrinya untuk istirahat.
Reyhan sudah selesai mandi. Ia berniat untuk menengok Zian. Tetapi ia ragu. Di dalam sana pasti ada Arini. Ia mondar-mandir di depan pintu kamar Zian. Sampai pada akhirnya ia memutuskan untuk masuk ke dalam.
Dengan hati-hati Reyhan menghampiri dua insan yang sedang terlelap di atas ranjang. Reyhan duduk di tepi ranjang dan memandangi mereka secara bergantian. Tanpa sadar, tangannya telah mengusap ujung kepala Arini. Reyhan tersenyum tipis.
"Eh, kenapa jadi Arini. Bukannya tadi aku mau mengusap rambut Zian." Batin Reyhan saat tersadar jika tangannya sedari tadi menyentuh rambut Arini. Tangannya beralih mengusap rambut anaknya.
Arini menggeliat kecil dan kini ia membalikkan tubuhnya dengan posisi telentang. Reyhan terkejut namun masih memandangi wajah Arini saat sedang tidur.
"Kamu pasti sangat lelah kan? Lihat wajah polosmu ini. Sangat menggemaskan sekali." Gumam Reyhan dan kini tangannya membelai lembut pipi Arini. Reyhan menyunggingkan bibirnya.
Reyhan memajukan wajahnya dengan pelan. Entah kenapa, saat ini ia ingin mengecup kening Arini.
Cup
Cukup lama bibirnya berada di kening Arini. Ia menyudahi dan menatap Arini dengan sangat dekat. Tanpa terduga, Arini bergerak dan tangannya meraih tengkuk Reyhan.
Cup
Bibir mereka saling menempel. Reyhan terkejut. Ia membulatkan matanya. Sedangkan Arini masih memejamkan matanya.
Arini membuka matanya perlahan saat sesuatu yang kenyal berada tepat dibibirnya. Ia segera tersadar dan ingin mendorong Reyhan. Namun Reyhan segera menahan kedua tangan Arini.
Dengan pelan, Reyhan mulai ******* bibir Arini. Reyhan menggigit pelan bibir bawah Arini sehingga ia membukanya. Sehingga lidah Reyhan bisa menyusup ke dalam untuk memperdalam ciuman mereka. Setelah cukup lama, Reyhan segera menyudahi ciuman itu. Suasana yang semakin larut dan sepi, hampir membuat Reyhan kehilangan kendalinya malam ini.
"Maaf." Ucap Reyhan dan ia terduduk di tepi ranjang dengan canggung.
Begitu juga Arini. Dirinya mengusap pelan bibirnya dan duduk bersandar di ranjang. Mereka terdiam dalam kecanggungan masing-masing.