
"Bagaimana Rey?" ucap Novi sedikit pelan di samping Reyhan.
"Kau berani-beraninya mengancamku?" ujar Reyhan penuh kebencian. Ia kembali mencengkram leher Novi.
"Dengar ini baik-baik! Aku tidak akan pernah meninggalkan Arini. Jangan mencoba untuk menguji kesabaranku Nov. Aku memperlakukanmu seperti saudaraku sendiri. Tapi apa yang kamu lakukan?" ucap Reyhan marah. Novi berusaha melepas cengkraman tangan Reyhan.
"Soni!" panggil Reyhan. Soni langsung masuk ke ruangan tersebut. Ia menunduk dengan hormat menunggu perintah dari Reyhan.
"Kamu urus wanita ini! Jangan lepaskan dia sebelum dia memberitahukan di mana Zian berada!" ucap Reyhan. Ia mendorong Novi cukup keras hingga tersungkur di depan Soni.
"Rey, buka mata kamu! Arini tidak pantas untuk kamu! Dia hanya wanita yang mencintai harta kamu Rey. Hanya aku yang pantas jadi pendampingmu!" ucap Novi berteriak. Ia berusaha melepaskan diri dari Soni.
Reyhan tak menjawab ucapan Novi. Kepalanya pusing mendengar ocehan Novi. Ia menuju kursi kerjanya dan duduk bersandar di sana. Reyhan memejamkan matanya dan memijat pelipisnya.
"Reyhan! Reyhan! Kamu tidak bisa memperlakukanku seperti ini!" teriak Novi yang secara paksa dibawa keluar oleh Soni.
Reyhan masih sangat terpukul. Ia benar-benar tak mengira, wanita yang sudah ia percaya kini menghianatinya. Novi rela menculik Zian hanya demi ingin menikahinya. Bagaimana mungkin Reyhan akan memberikan kesempatan untuk wanita seperti itu. Pasti rumah tangganya akan berantakan seperti rumah tangganya saat bersama Clara dulu.
Hari ini dirinya tak mood untuk bekerja. Suasana hatinya sangat buruk. Ia merindukan Arini. Merindukan dekapannya yang mampu membuatnya nyaman dan melupakan keluh kesahnya.
Tak butuh waktu lama, Reyhan sudah sampai di parkiran. Ia segera menuju apartemen Arini.
"Sayang..." ujar Reyhan sambil mengetuk pintunya. Tak lama setelah itu, Arini membukakan pintunya. Reyhan langsung memeluk Arini dengan posesif. Ia menyembunyikan wajahnya di bahu Arini. Arini terkejut dengan sikap Reyhan yang tiba-tiba memeluknya seperti ini. Cukup lama mereka dalam posisi ini. Akhirnya Reyhan membawa Arini menuju sofa. Tak lupa juga Arini menutup pintunya.
"Ada apa?" tanya Arini. Ia terlihat khawatir dengan keadaan Reyhan.
"Aku hanya butuh pelukanmu saat ini sayang. Bisakah kamu memberikannya?" tanya Reyhan lembut. Ia menatap Arini dengan lekat. Arini tersenyum dan mengangguk pelan. Reyhan langsung menarik Arini sehingga Arini jatuh dalam pelukan Reyhan. Reyhan memejamkan matanya dan menghirup aroma wangi tubuh Arini. Ini benar-benar nyaman. Ia bahkan tak ingin melepaskannya.
Arini tahu apa yang mengganggu pikiran Reyhan. Pasti karena Zian yang sampai saat ini belum ditemukan. Ini salahnya, jika ia tak ceroboh maka Zian akan baik-baik saja saat ini. Mau bagaimana lagi, semuanya juga sudah terjadi. Ini menjadi pelajaran untuk Arini jika ia harus lebih hati-hati jika membawa Zian keluar.
Reyhan perlahan melepas pelukannya. Ia menatap Arini dengan lekat. Telunjuknya mengusap bibir Arini pelan. Ia memiringkan wajahnya dan perlahan mencium bibir Arini. Arini memejamkan matanya untuk menetralkan debaran dalam dadanya. Perlahan, Reyhan ******* dan menggigit kecil bibir Arini.
Reyhan melepas ciuman itu. Ia menggendong Arini dan menuju kamar. Reyhan membaringkan Arini dan ia tidur di samping Arini.
"Temani aku tidur, oke? Aku tidak akan melakukan apapun," ucap Reyhan. Ia mencium tangan Arini dan merengkuhnya ke dalam pelukannya. Arini menurut saja dan akhirnya mereka tidur bersama.