
Hari-hari pun berlalu begitu cepat. Kini tibalah hari di mana mereka melangsungkan lamaran. Orang tua Arini sudah datang ke Jakarta sekitar tiga hari yang lalu. Mereka menginap di hotel karena tidak memungkinkan untuk tinggal di apartemen Arini yang hanya ada satu kamar kecil. Tentu saja semuanya dibiayai oleh Reyhan selaku calon menantu mereka.
Acara pertunangan itu dilaksanakan di salah satu hotel bintang lima. Kedua keluarga berkumpul dan dihadiri juga oleh rekan bisnis Reyhan dan ayahnya. Meskipun acara itu tertutup dan sederhana, namun terlihat mewah. Reyhan yang menanggung semua biaya acara pertunangannya ini.
Acaranya dimajukan lebih awal dari tanggal yang sudah mereka tentukan sebelumnya. Hal ini bukanlah tanpa alasan, Indi hanya tidak ingin terjadi sesuatu ataupun Clara membuat ulah kembali. Indi juga berharap agar Reyhan bisa kembali bangkit dan tak lagi hidup dalam bayang-bayang masa lalunya yang kelam dulu.
Reyhan maupun Arini terlihat begitu bahagia hari ini. Karena hari yang mereka tunggu akhirnya tiba juga. Sedikit lagi, mereka akan melangkah ke jenjang yang lebih serius lagi, yaitu pernikahan. Acara berlangsung dari pagi hari dan baru berakhir pada siang hari. Setelah melamar Arini secara resmi di depan kedua keluarga besar tersebut, Reyhan dan Arini kini akan memasuki babak baru. Acara berlangsung meriah, semua yang menjadi saksi pertunangan mereka hari ini turut berbahagia.
Setelah acara selesai, Arini dan orang tuanya saling berbincang melepas kerinduan. Selama ini, Arini jarang pulang ke kampung halamannya. Itu yang membuat kedua orang tuanya hanya bisa memendam kerinduan pada putrinya karena belum bisa bertemu dengannya.
"Bagaimana hidupmu selama di Jakarta ini? Apakah baik-baik saja? Reyhan selalu menjagamu kan Nak?" tanya ibu Arini. Arini mengangguk tipis. Bukan hanya menjaga saja, tetapi Reyhan telah memberikan kebahagiaan yang belum pernah ia rasakan. Reyhan bahkan memperlakukannya dengan begitu baik.
"Ibu sama bapak tenang saja. Aku sama mas Reyhan baik-baik saja kok bu. Bukan hanya mas Reyhan, keluarganya juga baik sama Arini," jawab Arini. Apa yang ia katakan itu adalah benar adanya. Keluarga Reyhan selalu memperlakukannya dengan baik pula. Bahkan sangat mendukung hubungan mereka.
"Insya Allah jika ada waktu Arini akan menyempatkan pulang ke Jogja," balas Arini. Kedua orang tua Arini hanya tersenyum.
"Tante... Zian lapar," rengek Zian yang tiba-tiba berlari ke arahnya. Arini dengan sigap menggendong Zidan dan menciumi pipinya dengan gemas.
"Ayo, tante temani Zian makan," ucap Arini dengan penuh kasih sayang. Orang tua Arini hanya memperhatikan mereka berdua.
"Ibu, bapak, ini Zian anak dari mas Reyhan," ucap Arini memperkenalkan Zian pada orang tuanya.
"Sudah sebesar ini ya. Ibu kira masih bayi," gurau ibunya Arini.
"Kamu bawa Zian makan dulu, kasihan dia sudah lapar," ucap ayah Arini. Arini mengangguk dan segera membawa Zian untuk mengambil makanan. Orang tua Arini hanya tersenyum sambil menatap putrinya itu.