
Di dalam kamarnya, Reyhan berjalan ke sana ke sini. Bagaimana bisa ia melakukan itu kepada Arini. Meski tadi ia sempat terbawa suasana, tapi ia sadar Arini sama sekali bukan orang yang ia cintai.
"Apa yang sudah kulakukan tadi. Sekarang aku jadi malu jika bertemu dengan Arini." Ucap Reyhan dan mengacak rambutnya.
"Tapi... Ada apa dengan jantungku. Bahkan sampai sekarang aku masih merasakan debaran ini." Ujar Reyhan lagi dan menyentuh dadanya. Pipi Reyhan memerah mengingat kejadian di halaman rumahnya tadi.
"Bagaimana dengannya? Apa Arini marah kepadaku? Apa aku harus minta maaf padanya?" Reyhan nampak bingung dengan apa yang harus ia lakukan. Dengan bodohnya mencium Arini tanpa persetujuannya didepan banyak orang.
Reyhan merebahkan tubuhnya diranjang. Memejamkan matanya sejenak. Mengatur napasnya yang masih belum stabil.
"Baiklah, sebagai lelaki sejati aku akan minta maaf pada Arini. Hanya perlu minta maaf saja kan? Lagipula hanya ciuman, tidak perlu sampai bertanggung jawab kan?" Gumam Reyhan seraya bangkit dan berdiri. Ia membenahi dasinya dan bersiap untuk keluar.
Arini kini bersama Zian di ruang tengah. Mereka asik dengan dunianya. Sedangkan Vian mondar-mandir di depan kamar Reyhan. Menunggu Reyhan keluar kamar.
"Vian, kamu kenapa di sini?" Tanya Reyhan saat keluar kamarnya.
Vian menatap Reyhan dengan tajam. Menarik tangan Reyhan masuk ke dalam kamar lagi. Reyhan mengernyitkan dahinya, bingung dengan sikap Vian.
"Kak, kenapa kak Reyhan mencium Arini tadi?" Kini tangannya sudah mencengkram krah kemeja Reyhan.
"Vian, apa yang kamu lakukan? Lepaskan dulu." Ucap Reyhan sambil melepaskan cengkraman Vian.
Reyhan tersenyum sekilas. Ia menepuk-nepuk bahu adiknya itu. Kini ia paham, sikap Vian ini karena ia sedang cemburu.
"Kamu tenang saja, itu hanya sandiwara di depan Clara. Kalau kamu suka, kejarlah." Jawab Reyhan dengan santai. Vian malah melongo mendengar jawaban yang dilontarkan kakaknya itu.
"Kak Reyhan gak bohong kan? Tapi aku lihat tadi kak Reyhan begitu menikmatinya." Kini Vian sudah bersikap biasa. Vian sudah bisa mengontrol dirinya.
"Sejak kapan kakakmu ini berbohong kepadamu, hem? Sudahlah, kita sudah terlambat untuk pergi ke kantor." Balas Reyhan dan ia mendahului Vian keluar kamar.
Vian masih terdiam. Mencerna setiap kata yang diucapkan kakaknya tadi. Apa benar, Reyhan tidak punya perasaan apa-apa. Lalu ciuman tadi itu apa? Pikiran Vian masih berkelana.
Vian menyusul kakaknya yang sudah berada di dalam mobil. Sebelum itu, ia menghampiri Arini yang tengah asik bermain dan belajar bersama Zian. Vian hanya ingin bertegur sapa dengan Arini sebelum ia berangkat ke kantor.
Vian masuk ke dalam mobil, duduk bersebelahan di kursi belakang. Pak sopir melajukan mobilnya. Di dalam mobil hanya hening tak ada suara yang keluar antara mereka. Reyhan fokus ke layar ponselnya sedangkan Vian membuka laptopnya dan membalas beberapa email yang masuk.
Setelah beberapa menit, mereka sampai di kantor. Karyawan menyambut mereka dengan hormat. Reyhan maupun Vian hanya membalas dengan senyuman kecil.
"Kamu siapkan beberapa berkas, kita nanti akan meeting dengan beberapa klien di luar sekaligus membahas proyek kerjasama dengan perusahaan K." Perintah Reyhan kepada Vian. Vian mengangguk dan segera menyiapkan berkas yang diminta.