Arini, I Love You!

Arini, I Love You!
Bab 51



Reyhan melajukan mobilnya. Sesekali ia melirik Arini dan mengusap punggung tangan Arini. Bahagia terpancar diwajah Reyhan.


Jarak tempuh dari Jakarta menuju kampung halaman Arini lumayan jauh. Itu membutuhkan waktu 7-8 jam. Namun Reyhan tidak mempermasalahkan hal itu. Lebih cepat bertemu dengan orang tua Arini, justru dirinya merasa semakin lega.


Saat ini mereka sudah sampai di halaman rumah orang tua Arini. Mereka turun dari mobil dan disambut oleh orang tua Arini. Orang tuanya merasa terkejut, Arini sudah lama tidak pulang menjenguk kedua orang tuanya.


"Ya Allah pak, anak kita pulang. Arini, kamu akhirnya pulang nduk?" Ucap bu Hariyah, ibu Arini.


Bu Hariyah memeluk Arini dengan erat. Dirinya sangat merindukan putrinya yang sudah lama merantau ke Jakarta.


"Bagaimana kabar ibu dan bapak? Sehat kan?" Tanya Arini, ia menitikkan air mata. Namun segera ia hapus.


"Alhamdulillah sehat nduk, ayo masuk sini." Ujar bu Hariyah dan menarik tangan Arini.


"Loh, ini siapa nduk?" Bu Hariyah mengalihkan pandangannya ke Reyhan. Reyhan tersenyum dan berjalan ke arah orang tua Arini. Reyhan mencium punggung tangan mereka secara bergantian.


"Saya Reyhan pak, bu." Ucap Reyhan memperkenalkan diri.


"Ayo-ayo masuk dulu nak."


Arini menyiapkan minuman untuk mereka. Sedangkan orang tua Arini menemani Reyhan di ruang tamu.


Arini menuju ruang tamu sambil membawa nampan berisi minuman. Kemudian Arini ikut duduk di sana.


"Sebenarnya begini pak, bu. Maksud kedatangan kami, khususnya saya. Saya ingin melamar Arini untuk menjadi istri saya." Ucap Reyhan dengan sedikit ada rasa gugup dihatinya. Kedua orang tua Arini saling bertukar pandang.


"Jika bapak sama ibu mengizinkan, bulan depan saya akan melamar Arini secara resmi di Jakarta. Nanti saya juga yang akan mengurus keberangkatan ibu dan bapak ke sana." Ucap Reyhan lagi.


Ibu Hariyah dan pak Abdul saling pandang. Mereka terkejut, kedatangan anaknya ini membawa berita yang begitu besar. Dan seharusnya ini dibicarakan terlebih dahulu sebelum Arini datang ke rumah bersama calon suaminya.


"Kalau boleh ibu tahu, nak Reyhan kenal dengan Arini dari mana?" Tanya bu Hariyah ingin tahu.


Raut wajah bu Hariyah berubah setelah mendengar perkataan Reyhan yang terakhir kali itu. Anak? Berarti laki-laki yang akan menikahi Arini adalah seorang duda?


Reyhan terlihat sangat gugup. Tetapi ia tetap berharap akan berakhir baik. Reyhan menunggu jawaban dari orang tua Arini dengan suasana hati yang tak karuan.


"Kalau bapak setuju saja, semua keputusan ditangan Arini. Kami sebagai orang tua hanya bisa memberikan restu kami." Ujar pak Abdul.


Reyhan bernapas dengan lega. Tetapi, jika dilihat dari raut wajah bu Hariyah sepertinya tak begitu menyukai Reyhan.


"Arini, apa betul kamu sudah memantapkan hatimu dan kamu sudah yakin terhadap calon suamimu ini?" Tanya pak Abdul memastikan.


"Nggih pak (iya pak)." Balas Arini malu-malu.


"Kalau begitu ya secepatnya saja. Kalau memang tadi rencananya seperti yang disampaikan nak Reyhan, acaranya mau diadakan di Jakarta insya Allah kami akan datang ke sana." Ungkap pak Abdul.


Arini dan Reyhan saling pandang dan tersenyum lega. Selangkah demi selangkah telah mereka lalui. Kedua pihak keluarga telah menyetujui hubungan mereka.


Reyhan dan pak Abdul saling mengobrol. Sedangkan Arini dan ibunya ke dapur untuk menyiapkan makanan.


"Nduk, ibu kok kurang setuju kalau kamu menikah sama dia. Apa kamu yakin dengan keputusan kamu itu?" Tanya bu Hariyah.


"Kenapa bu? Pak Reyhan orangnya baik kok. Arini insya Allah sudah yakin." Balas Arini dan kini memeluk ibunya itu.


"Iya ibu tahu dia baik. Tapi soal statusnya itu kok ibu jadi ragu untuk melepaskanmu berumah tangga dengannya." Ungkap bu Hariyah yang sebenarnya belum yakin dengan hubungan Arini dan Reyhan.


"Bu, jangan seperti itu. Apa ibu tidak kasihan kepada pak Reyhan. Sudah jauh-jauh datang ke sini, punya niat baik lo." Bujuk Arini yang masih memeluk ibunya dengan manja.


"Ibu itu hanya khawatir sama kamu nduk. Kalau kamu yakin, ya ibu hanya ngikut saja." Ujar bu Hariyah.


Setelah pembicaraan itu, mereka melanjutkan lagi memasaknya yang sempat tertunda.