
Saat ini Novi berada di sebuah kafe yang tak jauh dari kantornya. Ia sedang menunggu seseorang. Novi menikmati jus yang tadi sudah ia pesan sambil mengedarkan pandangannya.
"Maaf lama." Ucap wanita itu sambil duduk dengan angkuhnya di depan Novi.
"Tidak perlu basa-basi. Apa yang lo mau?" Tanya Novi dengan ketus. Memang dari dulu mereka tidak pernah akur.
Clara tersenyum sinis. Mengibaskan rambutnya sekilas lalu menatap Novi dengan santai.
"Lo pasti belum tahu kan kalau Reyhan punya tunangan?" Ujar Clara santai.
"Apa?" Ucap Novi sambil mengernyitkan dahinya.
"Wanita yang waktu itu. Arini atau apalah itu namanya. Rey bilang, mereka sudah tunangan." Balas Clara lagi.
Novi terdiam sejenak. Tatapannya menyelidik ke arah Clara. Bisa saja saat ini Clara berbohong padanya. Reyhan tidak pernah cerita apapun padanya. Bagaimana bisa tiba-tiba tunangan dengan Arini, pikirnya.
"Ya kalau memang ingin memperjuangkan Reyhan sih cepat singkirkan saja wanita sialan itu." Ucap Clara memanas-manasi.
"Heh, kenapa gue harus percaya sama lo?" Balas Novi yang masih bimbang antara percaya atau tidak.
"Mau percaya atau tidak itu bukan urusan gue. Gue ke sini hanya ingin memberitahu lo informasi ini. Yaa.. kalau lo gak mau Reyhan direbut wanita lain, gue saranin lo segera bertindak." Ucap Clara lagi.
Semakin terbakar emosi semakin bagus. Jadi Clara tidak perlu repot menyingkirkan dua wanita sekaligus. Di sini, dirinyalah yang paling diuntungkan. Jika Novi sampai termakan omongan Clara.
Clara berdiri dan menepuk pundak Novi sebelum beranjak pergi. Dirinya tersenyum tipis ke arah Novi.
"Selamat berjuang." Ucapnya dan kini Clara benar-benar pergi dari sana.
Novi masih memikirkan perkataan Clara barusan. Antara percaya atau tidak. Apa dia harus menyelidiki hal ini lebih jelas agar ia tidak salah langkah nantinya.
***
"Zian makin pinter ya." Ucap Arini memuji Zian karena semakin aktif dan pandai. Arini mengusap pelan rambut Zian kemudian tersenyum tipis.
"Hai." Sahut seseorang lalu duduk disamping Arini. Ia langsung menyandarkan kepalanya dibahu Arini.
"Vian." Ujar Arini
"Kenapa sudah pulang? Apa ada yang ketinggalan?" Tanya Arini yang bingung karena tidak biasanya Vian pulang saat jam istirahat kantor seperti ini.
"Iya, ada yang ketinggalan." Sahut Vian dengan muka serius.
"Apa?" Tanya Arini sekenanya. Sebenarnya itu juga bukan urusannya.
"Hatiku." Balas Vian dan kini menatap Arini dengan serius. Sesaat, Arini teringat dengan ucapan Vian pagi tadi.
"Arini, aku tahu ini terlalu cepat. Tapi aku sangat-sangat yakin bahwa aku telah jatuh cinta kepadamu bahkan sejak pertemuan pertama kita. Apa kamu juga memiliki perasaan yang sama denganku?" Ungkap Vian secara tiba-tiba. Membuat Arini susah menelan salivanya.
"Apa yang.."
"Sssstt..." Sela Vian dan telunjuknya sudah berada di depan bibir Arini. Sungguh, saat ini Vian lebih tertarik dengan bibir ranum milik Arini. Bahkan untuk sekarang ia tidak peduli dengan jawaban Arini.
Vian dengan perlahan memajukan wajahnya. Menyapu sedikit demi sedikit jarak diantara mereka. Sedangkan Arini masih terdiam mematung. Vian hampir saja meraup bibir Arini namun dikejutkan dengan teriakan Zian yang berada di sekitar mereka saat ini.
"Pamaaann.. Apa yang paman lakukan." Ucap Zian dan kini berhambur memeluk Arini.
"Sial, kenapa aku sampai lupa kalau ada Zian di sini." Batin Vian dan ia kembali terduduk dengan benar.
"Hanya daddy yang boleh menyentuh tante Arini." Ucap Zian lagi yang semakin mengeratkan pelukannya. Arini dan Vian saling menatap satu sama lain.
"Dasar! Paman tidak melakukan apa-apa padanya." Ucap Vian sambil terkekeh. Dirinya mengacak rambut Zian dengan kasar. Sungguh menggemaskan.
Arini tidak begitu menanggapi apa yang dilakukan dan diucapkan Vian tadi. Ia hanya menganggap Vian sedang bercanda padanya dan tidak sungguh-sungguh.
"Kenapa tidak balik ke kantor lagi?" Tanya Arini.
"Hah? Setidaknya jawab dulu kek sebelum mengusirku. Dasar Arini tidak peka. Ya sudah, lain kali saja aku ungkapkan lagi." Batin Vian dan sedikit mengacak rambutnya.
"I-ini mau balik kok." Ucap Vian dengan canggung kemudian ia bergegas menuju kamarnya sebentar.
"Maaf Vian." Gumam Arini yang menatap kepergian Vian.