
"Mas, ayo angkat teleponnya." Gumam Arini yang saat ini berusaha menelepon Reyhan. Air matanya tak berhenti mengalir. Dirinya sangat takut jika Zian kenapa-napa.
Arini masih berusaha menghubungi Reyhan. Langkahnya juga tak berhenti mengunjungi setiap sudut supermarket tersebut. Arini juga bertanya kepada pengunjung lainnya berharap bisa menemukan Zian secepatnya.
Setelah panggilan yang ke sekian kalinya, akhirnya Reyhan mengangkat telepon Arini. Mungkin ia tadi sedang sibuk dengan pekerjaannya.
"Mas, hiks..hiks..hiks.." Arini tak kuasa menceritakan hal ini pada Reyhan.
"Arini? Ada apa? Kamu menangis?" Tanya Reyhan yang dengan jelas mendengar suara tangis Arini.
"Mas, maafkan aku.. Zian hilang. Aku tidak bisa menjaganya dengan baik." Tutur Arini menahan sesak didadanya.
"Aku sudah mencarinya ke mana-mana mas.. Tapi aku belum menemukan Zian." Ujar Arini lagi.
"Kamu di mana sekarang? Aku ke sana sekarang juga." Balas Reyhan. Setelah Arini memberitahu keberadaannya saat ini, Reyhan menutup sambungan teleponnya.
Reyhan begitu saja meninggalkan ruangan yang ia gunakan untuk rapat pagi ini. Bahkan ini belum selesai, Reyhan tidak peduli. Mendengar kabar ini membuat Reyhan panik dan takut.
"Son, kamu gantikan aku menghandle rapat ini." Ujar Reyhan sambil menepuk bahu Soni. Reyhan langsung berlari keluar dan menuju mobilnya.
Beberapa saat kemudian, Reyhan telah sampai di supermarket tersebut. Arini menunggu Reyhan di depan supermarket dengan duduk di lantai.
"Mas." Ucap Arini dan berhambur memeluk Reyhan.
"Bagaimana bisa Zian hilang?" Tanya Reyhan sambil mengontrol dirinya agar tidak memarahi Arini.
"Ayo, masuklah dulu." Ajak Reyhan dan menuntun Arini masuk ke dalam mobilnya. Ia segera melajukan mobilnya menuju apartemen Arini.
Tak ada pembicaraan di dalam mobil. Arini yang masih menangis dan Reyhan yang fokus dengan kemudinya.
Sebelum sampai di supermarket tadi, Reyhan meminta beberapa pengawalnya untuk terus memantau sekitar supermarket tersebut.
"Maaf mas, aku tadi ke toilet sebentar. Waktu aku keluar, Zian sudah tidak ada di tempatnya. Aku juga sudah mencarinya ke mana-mana." Tutur Arini yang masih sesenggukan tak berhenti menangis.
"Bagaimana bisa kamu meninggalkan Zian begitu saja? Aku memberimu kepercayaan untuk menjaga Zian, bukan menghilangkannya seperti ini. Arini, kali ini kamu benar-benar ceroboh!" Reyhan membentak Arini. Amarah yang ia tahan sedari tadi akhirnya pecah juga.
"Maaf mas.. Maafkan aku.." Arini masih berusaha menenangkan Reyhan. Reyhan mengepalkan tangannya dan mengeraskan rahangnya.
"Kata maaf tidak bisa membuat Zian kembali Arini! Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya?" Reyhan masih membentak Arini. Arini hanya menunduk tak berani menatap Reyhan secara langsung.
Reyhan mengacak rambutnya dengan kasar. Siapa yang beraninya mengusik keluarganya. Apa dia tidak tahu akibatnya jika mengganggu keluarganya.
Reyhan berdiri hendak meninggalkan Arini. Baru tiga langkah dirinya terhenti dan berbalik menatap Arini.
"Aku tidak akan pernah memaafkanmu jika terjadi sesuatu terhadap Zian! Aku tidak peduli bahwa kamu adalah wanita yang sangat aku cintai. Arini, kamu membuatku kecewa." Ujar Reyhan penuh penekanan hingga akhirnya kini benar-benar meninggalkan apartemen Arini.
Dirinya merasa sangat kecewa. Jika kalian berpikir ini berlebihan itu wajar saja. Namun apakah kita bisa tetap tenang jika mengetahui bahwa anak yang amat disayangi diculik begitu saja.
Reyhan kecewa kepada Arini karena merasa Arini tidak fokus menjaga Zian. Reyhan sangat takut akan kehilangan Zian.
Reyhan menyandarkan kepalanya di kursi yang ia duduki saat ini. Reyhan masih berdiam diri di dalam mobil. Dirinya berpikir, siapa yang berani mengusik keluarganya itu.
Reyhan menelepon bodyguardnya dan menghubungi Soni untuk mencari tahu keberadaan Zian.
Reyhan memejamkan matanya sambil memijat pelipisnya dengan pelan.
Clara
Nama itu tiba-tiba muncul begitu saja di dalam benaknya. Apakah ini berkaitan dengan Clara? pikirnya. Reyhan segera melajukan dengan kecepatan tinggi menuju kediaman Jerry.