
Saat ini, Vian sudah berada di dalam apartemen Arini. Arini sibuk menyiapkan minum untuk mereka. Kesan pertama saat Vian masuk ke dalam, yaitu apartemen yang sangat sederhana. Walaupun tak ada pernak-pernik yang menghiasi sekitar ruangan, tapi ini nyaman juga.
"Vian, maaf ya. Hanya seadanya saja." Ujar Arini saat meletakkan es teh buatannya di atas meja.
"Ini sudah lebih dari cukup kok." Balas Vian dan kini ia tersenyum.
Mereka mulai menikmati makanan yang dibawa oleh Vian. Arini menikmatinya dengan lahap. Makanan itu sangat enak bagi Arini. Ia jarang sekali makan makanan kelas bintang lima seperti ini.
"Oh iya, kamu bekerja di mana Arini?" Tanya Vian yang akan meneguk es tehnya.
Arini terdiam sejenak. Menghentikan suapannya dan menatap kotak makanan dengan tatapan kosong. Setelah beberapa saat, Arini menatap Vian dan melempar senyumnya.
"Aku baru dipecat beberapa hari yang lalu." Ucap Arini sambil tersenyum getir.
"Kenapa?" Tanya Vian penasaran.
"Karena tidak cocok saja dengan lingkungan kerjaku. Lagian aku itu harusnya menjadi guru kan, bukannya malah bekerja di kantoran sebagai sekretaris, hehehe." Jelas Arini. Kemudian ia melanjutkan makannya lagi.
"Loh, apa salahnya? Yang terpenting kan kamu bisa bekerja dengan baik. Kalau menurut aku sih, dari jurusan apapun tidak terlalu penting." Jawab Vian serius.
"Andai saja pak Reyhan selembut Vian. Pasti sampai saat ini aku masih bekerja di sana. Tapi ya sudahlah, jangan berharap terus." Batin Arini.
"Aku hanya ingin bekerja sesuai jurusanku waktu kuliah dulu saja. Biar aku lebih gampang menyesuaikan diri juga." Balas Arini lagi.
"Kalau aku jadi bos dan punya sekretaris seperti kamu, Arini. Aku tidak akan pernah memecatmu. Lagipula, pekerjaan itu tidak penting bagiku. Yang terpenting, kamu berada disisiku setiap hari." Batin Vian
Kini mereka sudah selesai makan. Arini membersihkan sisa makan mereka dan membawa gelas kotornya ke dapur.
Mereka berbincang-bincang membahas banyak hal. Sampai Vian lupa bahwa ia harus kembali ke kantor untuk bekerja. Untung saja bosnya kakaknya sendiri. Kalau tidak, pasti saat ini ia sudah dimarahi. Sampai pada akhirnya Reyhan meneleponnya dan ia harus segera pergi ke kantor lagi.
"Kalau misal aku ajak jalan atau makan lagi kamu masih mau kan?" Tanya Vian saat berada diluar apartemen Arini. Sedangkan Arini berada diambang pintu.
"Kalau aku nolak?" Goda Arini.
"Aku paksa lah.." Balas Vian dengan cengirannya.
"Kok gitu?"
"Harus gitu, kan aku ngajaknya baik-baik." Balas Vian lagi. Arini tertawa kecil.
"Ya sudah, aku pergi dulu ya. Daaahh.." Pamit Vian dan kini ia berjalan meninggalkan apartemen Arini.
Arini menutup pintunya kembali dan bersandar dibalik pintu. Rasanya baru kali ini ia memiliki teman laki-laki. Ternyata nyaman juga. Ini tidak buruk juga. Mempunyai satu teman laki-laki dalam hidupnya. Mungkin kali ini Arini harus belajar bersikap terbuka. Selama ini hanya Caca satu-satunya sahabatnya.
Sedangkan di parkiran, Vian senyum-senyum sendiri. Ia yakin, sekarang telah jatih cinta kepada Arini. Wanita yang tanpa sengaja bertemu dengannya walaupun pertemuan mereka sedikit aneh. Vian juga bingung, apa yang membuatnya jatuh cinta kepada Arini. Yang pasti, mulai detik ini Vian akan terus mendekati Arini pelan-pelan.